Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Solo

Demam Berdarah di Solo Renggut 4 Nyawa, Kini Melonjak Capai 72 Kasus dari Januari

Kasus demam berdarah di Solo diketahui meningkat. Total ada empat nyawa melayang karena kasus tersebut. Total kasus juga mencapai 72.

TribunSolo.com / Erlangga Bima
Ilustrasi fogging. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dinas Kesehatan Kota Solo mencatat dari bulan Januari hingga pertengahan April 2024, kasus demam berdarah mengalami lonjakan.

Saat ini angka mencapai 72 kasus dengan 4 di antaranya meninggal dunia.

“Kota Surakarta kasus demam berdarah sampai minggu ke-15 ada 72 kasus dengan 4 kematian,” ungkap Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Surakarta Tenny Setyoharini.

Pihaknya mencatat tingkat serangan (incidence rate) mencapai 12,28 per 100.000 penduduk.

Menurutnya hal ini masih bisa ditolerir.

“Kalau incidence rate-nya 12,28 per 100.000 penduduk. Kalau case fatality rate 5,56 persen. Kalau dilihat incidence rate-nya sebetulnya masih ditolerir,” jelasnya.

Namun, jika angka kasus terus-menerus meningkat, hal ini mengkhawatirkan.

Sebab, dalam tahun lalu penderita demam berdarah mencapai 99 kasus.

Kini belum sampai 4 bulan penderita sudah mencapai 72 kasus.

Baca juga: Belum Selebrasi Kemenangan Pilpres 2024, Gibran Masih Urus Kasus Demam Berdarah di Solo

“Misalnya meningkat terus sampai akhir tahun ya mengkhawatirkan. Ini sudah sepertiga dari angka yang diperbolehkan. Tahun lalu 99 sekarang baru berapa bulan 72 berarti harus waspada ketat,” terangnya.

Salah satu faktor yang mempengaruhi yakni hujan yang lebih sering membuat nyamuk cepat berkembang biak.

Pihaknya pun saat ini sedang menggencarkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Bisa dikatakan siklus 5 tahunan. Badai El Nino mempengaruhi cuaca sehingga mendukung perkembangbiakan nyamuk. Index di Kota Surakarta lebih dari 5 persen. Harus digencarkan lagi PSN-nya,” jelasnya.

Dari semua wilayah di Solo, setidaknya ada dua kelurahan yang memiliki kasus paling tinggi.

Di antaranya Kadipiro 13 kasus dan Mojosongo 8 kasus.

Selain itu, pihaknya juga meminta masyarakat waspada terhadap gejala yang muncul saat seseorang menderita demam berdarah.

Meski demam sudah turun, pasien tetap wajib periksa.

“Mereka itu udah mengakses layanan kesehatan di awal. Hanya mungkin rawat jalan. Memang siklus penyakit demam berdarah itu kan sulit diprediksi. Dikiranya demam sudah turun. Begitu lari ke fasyankes yang kedua tidak terkejar,” jelasnya.

Maka dari itu, deteksi sedini mungkin terhadap penderita demam berdarah perlu dilakukan agar tidak berakibat fatal.

“Perjalanan penyakit DB memang cepat sekali. Kemungkinan menjadi parah sangat cepat. Tergantung daya tahan tubuh masing-masing orang. Dan penanganan memperoleh cairan. Kalau misalnya dicurigai DB pasti disuruh rawat inap,” terangnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved