Berita Wonogiri

Petani di Wonogiri Sambat Cuaca Ekstrem hingga Serangan Kera ke Lahan Mereka

Bertemu Bupati Wonogiri, petani sambat banyak kendala dialami. Dari cuaca ekstrem hingga serangan kera ke ladang mereka.

TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
Petani di Wonogiri sambat pada Bupati Joko Sutopo atau Jekek soal kendala cuaca ekstrem hingga serangan kera ke lahan mereka. 

Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Ratusan petani di Wonogiri mengeluhkan sejumlah permasalahan yang mereka hadapi di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jumat (20/9/2024).

Permasalahan itu disampaikan para petani usai menerima bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor, mesin pemotong hingga mesin panen padi.

Masalah yang dihadapi para petani diantaranya cuaca ekstrem yang menyebabkan kekeringan, minimnya alat pertanian hingga serangan kera ke lahan pertanian.

Menanggapi hal itu, Bupati Wonogiri, Joko Sutopo mengatakan iklim ekstrem memang menjadi musuh besar para petani, termasuk petani di Wonogiri.

"Adanya iklim yang ekstrem ini dengan adanya el nino dan la nina menjadikan petani jadi sangat tidak produktif," ujarnya.

Baca juga: Panen Raya di Musim Kemarau, Petani Jambu Desa Pranan Sukoharjo Full Senyum

Jekek, sapaanya, mengatakan lahan petani yang bisa panen 2-3 kali dalam setahun, hanya bisa sekali panen. Hal itu menurutnya menyebabkan inflasi.

"Daya belinya rendah. Kenapa rendah? Karena pendapatan petani turun secara drastis dampak dari panen sekali," imbuh Jekek.

Pihaknya mendorong petani untuk melakukan diversifikasi pangan. Misalnya yang ditanam tidak hanya padi, melainkan bisa komoditas lain dengan masa panen lebih cepat.

Jekek menyebut hal itu perlu dilakukan agar ketahanan ekonomi di Wonogiri terjaga sehingga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) stabil.

"Kami membagikan alsintan yang kita berikan ini upaya untuk memperkecil cost production," katanya.

Soal keluhan serangan kera di ladang, Jekek mengembalikan itu kepada para petani.

Menurut dia, para petani bisa mengatasi sendiri dengan cara mengembalikan fungsi hutan.

"Kkita guyoni saja. SK Bupati yo raiso (melarang kera turun ke ladang). Maka saat kera turun ada sebuah ekologi yang tidak seimbang, ada habitat yang bermasalah. Maka yang harus dibenahi kesadaran masyarakat," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved