Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Sritex Dinyatakan Pailit

Sritex Dinyatakan Pailit, Simak Sejarah Pabrik Tekstil yang Berlokasi di Sukoharjo Jateng ini

Iwan Setiawan Lukminto yang sempat menjadi Presiden Direktur Sritex ini beberapa kali masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia.

Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
Istimewa
PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex 

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO -  PT Sri Rejeki Isman Tbk atau biasa dikenal dengan nama Sritex, dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Niaga Semarang pada Senin, 21 Oktober 2024.

Putusan pailit ini berawal dari permohonan pembatalan perjanjian damai yang diajukan oleh PT Indo Bharat Rayon, sebagai debitur PT Sritex.

Sritex dinilai lalai memenuhi kewajiban yang tertuang dalam perjanjian damai atau homologasi dengan PT Indo Bharat Rayon yang disepakati pada 2022.

Selama ini, Sritex dikenal di Solo Raya sebagai pabrik tekstil terbesar dan memiliki ribuan karyawan.

Baca juga: Sebelum Ada Putusan Pailit, Warga Sebut Sudah Terlihat Pengurangan Karyawan di PT Sritex Sukoharjo

Simak sejarah berdirinya Sritex:

PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex merupakan perusahaan milik Keluarga Lukminto.

Sritex didirikan pada tahun 1966 oleh H.M. Lukminto di Pasar Klewer, Solo, sebagai usaha perdagangan tekstil kecil.

Saat ini, perusahaan yang berbasis di Kabupaten Sukoharjo ini dipegang oleh kakak beradik Iwan Setiawan Lukminto dan Iwan Kurniawan Lukminto yang merupakan generasi kedua.

Dikutip Kompas.com dari Forbes, Iwan Setiawan Lukminto yang sempat menjadi Presiden Direktur Sritex ini beberapa kali masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. 

Forbes pernah mencatat jumlah kekayaan pria yang saat ini berusia 49 tahun ini sebesar 515 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,05 triliun (kurs Rp 15.600).

Saat ini Iwan Lukminto duduk sebagai komisaris utama perusahaan sejak 2022.

Posisi direktur utama kemudian beralih ke adiknya, Iwan Kurniawan Lukminto.

Baca juga: Tak Hanya PT Sritex yang Dinyatakan Pailit, 3 Anak Perusahaannya Juga Ikut Terdampak, Mana Saja?

Sritex awalnya bermula dari usaha kios kecil bernama UD Sri Rejeki di Pasar Klewer, Kota Solo yang didirikan oleh Almarhum Haji Muhammad Lukminto pada 1966.

Usahanya Muhammad Lukminto terus berkembang hingga bisa mendirikan pabrik tekstil.

Saking besarnya skala bisnisnya, Sritex menjadi perusahaan yang banyak menopang ekonomi Kabupaten Sukoharjo.

Dari tahun ke tahun, perusahaan semakin berkembang pesat. Fasilitas produksinya terus bertambah.

Pabriknya yang berada di Jalan Samanhudi Kabupaten Sukoharjo bahkan terbilang sangat luas.

Produksi pabriknya mencakup hulu dan hilir industri tekstil antara lain rayon, katun, dan poliester, kain mentah, bahan jadi, hingga pakaian jadi.

Di Jakarta, Sritex juga memiliki kantor yang cukup besar yakni berada di Jalan Wahid Hasyim Nomor 147, Jakarta Pusat.

Empat lini bisnis utama perusahaan sejak 2018 adalah pemintalan dengan kapasitas produksi 1,1 juta bal benang per tahun, penenunan dengan produksi 180 ribu meter per tahun. Kemudian lini bisnis pencelupan dan pencetakan dengan kapasitas produksi 240 juta yard per tahun, serta garman sebanyak 28 juta pieces pakaian jadi per tahun.

Sritex juga dipercaya NATO sebagai salah satu pemasok seragam militernya.

Baca juga: Kunjungi PT Sritex, Ganjar Sebut Internet Gratis Lebih Dibutuhkan daripada Makan Siang Gratis

Saat pandemi Covid-19 melanda, perusahaan bergerak cepat menangkap peluang bisnis dengan memproduksi jutaan masker.

Nama Sritex semakin dikenal ketika perusahaan tekstil ini menekan kontrak pembuatan seragam NATO dari Angkatan Perang Jerman di tahun 1997.

Diberitakan Harian Kompas, 21 Desember 1998, hingga tahun 1998, jumlah pesanan seragam tersebut mencapai sekitar satu juta peach stell (PS).

Kontrak yang sama juga dilakukan PT Sritex dengan Angkatan Perang Inggris yang memesan seragam NATO sebanyak 400.000 PS.

Selain itu, Papua Nugini juga memesan seragam polisi sebanyak 50.000 PS pada Sritex.

Seragam Kantor Pos Jerman juga memesan sebanyak satu juta PS.

Saat ini, produk Sritex telah digunakan oleh pasukan militer lebih dari 30 negara.

(*)

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved