Mitos di Sukoharjo
Asal-usul Gunung Majasto di Sukoharjo, Ada Jejak Sejarah Ki Ageng Sutowijoyo
Gunung Majasto ini terletak di bagian selatan Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, memiliki banyak potensi wisata bersejarah.
Salah satunya adalah Gunung Majasto.
Gunung Majasto ini terletak di bagian selatan Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari.
Baca juga: Asal-usul Gunung Gandul Wonogiri, Punya Mitos Terkenal : Ada Pertunjukan Wayang di Malam Tertentu
Meskipun disebut gunung, Majasto lebih tepat disebut bukit karena ukurannya yang tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan gunung-gunung besar seperti Gunung Merapi atau Gunung Lawu.
Dengan letaknya yang berada di dataran rendah, cuaca di Gunung Majasto pun tidak terlalu dingin, menjadikannya tempat yang nyaman untuk dikunjungi.
Sejarah Gunung Majasto
Gunung Majasto memiliki kaitan erat dengan sejarah Kerajaan Majapahit yang saat itu baru saja runtuh.
Setelah kehancuran kerajaan, banyak orang dari kalangan kerajaan, termasuk para kesatria, menyebar untuk mencari tempat baru.
Salah satu tokoh yang dikenal dalam perjalanan sejarah Gunung Majasto adalah Ki Ageng Sutowijoyo, seorang putra dari Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit.
Ki Ageng Sutowijoyo dikenal sebagai tokoh penting dalam pendirian pemukiman di Gunung Majasto.
Baca juga: Asal-usul Nama Mojogedang yang Kini jadi Kecamatan di Karanganyar, Ada Jejak Raden Mas Said
Perjalanan panjangnya dimulai dari pusat kerajaan Majapahit hingga akhirnya sampai di kawasan ini.
Di sepanjang perjalanan, Ki Ageng Sutowijoyo meninggalkan berbagai situs sejarah.
Salah satunya adalah masjid yang didirikan di Desa Tegalampel, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, yang menjadi salah satu jejak sejarahnya.
Setelah mengunjungi beberapa tempat, Ki Ageng Sutowijoyo sampai di Desa Ponowaren, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, yang kemudian dinamakan Ponowaren hingga saat ini.
Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan perjalanan ke utara dan tiba di Gunung Majasto.
Di sini, Ki Ageng Sutowijoyo mendirikan sebuah pemukiman dan juga sebuah masjid yang sebelumnya dipindahkan dengan ilmu tinggi dari Tegalampel.
Menariknya, masjid ini didirikan di puncak Gunung Majasto, sebuah tindakan yang penuh dengan makna spiritual.
Baca juga: Asal-usul Nama Weru yang Kini jadi Kecamatan di Sukoharjo, Kisah Patah Hatinya Seorang Putri
Makam Keluarga Ki Ageng Sutowijoyo
Selain masjid, salah satu peninggalan penting yang ada di Gunung Majasto adalah makam keluarga Ki Ageng Sutowijoyo.
Ki Ageng Sutowijoyo memiliki seorang putri yang menikah dengan Ki Ageng Banjaran Sari dari Gunung Taruwongso. Hingga kini, makam mereka masih dapat ditemukan di Gunung Majasto.
Yang menarik dari makam ini adalah proses penggaliannya.
Ketika liang lahat digali, ukuran lubangnya hanya sekitar setengah meter.
Namun, yang lebih unik lagi adalah tidak ada bau yang keluar dari makam tersebut, yang menambah kesan mistis dan sakral pada tempat ini.
Oleh karena itu, Gunung Majasto juga dikenal dengan nama Bumiarum Majasto, yang berarti tanah yang tidak mengeluarkan bau.
Baca juga: Asal-usul Kecamatan Sambungmacan di Sragen, Diambil dari Dua Nama Jagoan Sakti di Kampung
Museum Sultan Agung
Gunung Majasto juga memiliki situs bersejarah lainnya, yaitu museum yang didedikasikan untuk Sultan Agung Hanyokro Kusumo Joko Bagus Mertopo Mbangun Tapan Mataram Binangun.
Museum ini didirikan untuk mengenang perjuangan Sultan Agung dan merupakan tempat yang sangat berarti bagi wisatawan yang ingin mempelajari lebih dalam tentang sejarah dan kebudayaan Mataram.
Yang menarik dari pembangunan museum ini adalah teknik konstruksinya.
Untuk menjaga kelestarian puncak Gunung Majasto, pondasi bangunan museum tidak langsung dipancang ke dalam tanah.
Sebaliknya, museum ini dibangun dengan menggunakan tiang-tiang yang ditempatkan di atas permukaan tanah.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan bentuk asli dari puncak gunung yang memiliki nilai spiritual dan sejarah yang sangat tinggi.
(*)
Tim Medis Mengaku Dipukuli Polisi di Solo, Saat Antar Pasien di Tengah Kerusuhan Massa |
![]() |
---|
Demo di Kawasan Gladak Solo Ricuh, Patung Ikonik Pahlawan Nasional Slamet Riyadi Ditulisi 'ACAB' |
![]() |
---|
Eskalasi Demo Ojol di Solo Meluas, Massa Bakar Pembatas Jalan di Simpang Gladak |
![]() |
---|
Aparat Paksa Mundur Massa dengan Gas Air Mata, Fasilitas Umum di Kawasan Gladak Solo Rusak Parah |
![]() |
---|
Demo di Solo Ricuh hingga Malam, Massa Terdorong Gas Air Mata di Bundaran Gladak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.