Sejarah Kuliner Legendaris
Sejarah Apem, Kue Tradisional yang Legendaris di Solo Raya, Punya Filosofi Mendalam
Kue apem merupakan salah satu kue tradisional yang sering ditemukan dalam acara-acara khusus keagamaan di Solo Raya.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Apem merupakan salah satu kue tradisional yang cukup populer di Solo Raya.
Kue apem atau kue apam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merupakan kue yang dibuat dari tepung beras, ditambah ragi, santan, gula, bentuknya bulat, dimasak di wajan kecil di atas api, bara arang, atau kayu bakar yang relatif tidak panas.
Kue apem merupakan salah satu kue tradisional yang sering ditemukan dalam acara-acara khusus keagamaan di Solo Raya.
Baca juga: Sejarah Arem-arem, Jajanan Pasar yang Populer di Solo Raya, Ternyata Aslinya dari Kebumen
Selain itu di Solo, kue apem juga disajikan saart wilujengan atau selamatan kerajaan.
Apem biasanya disajikan dalam acara menyambut tahun baru Islam pada 1 Muharram.
Pada momentum penyambutan tahun baru Islam atau yang dikenal dengan satu suro, kue apem biasanya akan disajikan dengan berbagai sajian khas lain seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, hingga bubur merah putih.
Kue apem disebut berasal dari India dan dikenal dengan nama Appam di sana.
Namun kue apem yang berkembang dan dikenal di Indonesia adalah gabungan dari budaya India dan Arab.
Kue tradisional ini awalnya dipercaya diperkenalkan oleh seorang keturunan dari Prabu Brawijaya yang kembali dari tanah suci Mekkah yaitu Ki Ageng Gribig.
Baca juga: Mengenal Sejarah Batik di Solo dan Berbagai Jenis Motifnya, Terkenal Berkualitas Bagus
Kue apem dibagikan oleh Ki Ageng dan salah satu murid dari Sunan Kalijaga ke masyarakat sekitar.
Sejak itulah kue apem tumbuh menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa untuk mengungkapkan rasa syukur pada momen-momen penting dalam kehidupannya.
Asal-usul Kue Apem
Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kue apem yang dibawa oleh Ki Ageng Gribig sekembalinya dari perjalanan dari tanah suci.
Karena jumlahnya yang sedikit, kue apem lalu dibuat lagi oleh istri Ki Ageng Gribig dengan menyesuaikan cita rasanya dengan selera masyarakat setempat.
Kue-kue yang telah dibuat itu lalu dibagikan kepada masyarakat sekitar, yang oleh Ki Ageng Gribig meneriakkan "yaqowiyu" yang berarti "Tuhan berilah kekuatan".
| Fakta Menarik Tongseng : Bukan Kuliner Asli Solo, Justru Penjual Pertamanya Warga Klego Boyolali |
|
|---|
| Cerita Panjang Kenapa Orang Solo Raya Gemar Sarapan Pakai Bubur Ayam, Tradisi dari Tiongkok |
|
|---|
| Sejarah Sego Berkat, dari Hidangan Hajatan Menjelma jadi Kuliner Khas Wonogiri |
|
|---|
| Ini Lho Asal-usul Mie Ayam Bisa Jadi Kuliner Populer di Solo Raya, Konon Berasal dari Tiongkok |
|
|---|
| Ini Lho Sejarah Pecel Bisa jadi Menu Sarapan Warga Solo Raya, Kuliner yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Dua-jenis-apem-yang-dijual-di-Pasar-Bunder-Sragen-yang-laris-manis-dibeli-warga.jpg)