Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Apem, Kue Tradisional yang Legendaris di Solo Raya, Punya Filosofi Mendalam

Kue apem merupakan salah satu kue tradisional yang sering ditemukan dalam acara-acara khusus keagamaan di Solo Raya.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Septiana Ayu
KULINER LEGENDARIS SOLO - Dua jenis apem yang dijual di Pasar Bunder Sragen yang laris manis dibeli warga Sragen untuk melaksanakan tradisi Pancenan, Sabtu (2/4/2022). Begini sejarah kue apem, kue tradisional yang punya filosofi mendalam. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Apem merupakan salah satu kue tradisional yang cukup populer di Solo Raya.

Kue apem atau kue apam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merupakan kue yang dibuat dari tepung beras, ditambah ragi, santan, gula, bentuknya bulat, dimasak di wajan kecil di atas api, bara arang, atau kayu bakar yang relatif tidak panas.

Kue apem merupakan salah satu kue tradisional yang sering ditemukan dalam acara-acara khusus keagamaan di Solo Raya.

Baca juga: Sejarah Arem-arem, Jajanan Pasar yang Populer di Solo Raya, Ternyata Aslinya dari Kebumen

Selain itu di Solo, kue apem juga disajikan saart wilujengan atau selamatan kerajaan.

Apem biasanya disajikan dalam acara menyambut tahun baru Islam pada 1 Muharram.

Pada momentum penyambutan tahun baru Islam atau yang dikenal dengan satu suro, kue apem biasanya akan disajikan dengan berbagai sajian khas lain seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, hingga bubur merah putih.

Kue apem disebut berasal dari India dan dikenal dengan nama Appam di sana.

Suasana pedagang apem yang sedang melakukan transaksi jual beli di acara Apem Yaa Qowiyyu, di Jatinom, Klaten, Jumat (16/9/2022). Apem para pedagang laris manis karena banyak yang penasaran dengan rasa apem selama event tersebut. Ada pedagang yang bisa menghabiskan 300 kilogram tepung beras dalam sehari saking larisnya pembeli.
PENJUAL APEM - Suasana pedagang apem yang sedang melakukan transaksi jual beli di acara Apem Yaa Qowiyyu, di Jatinom, Klaten, Jumat (16/9/2022). Apem para pedagang laris manis karena banyak yang penasaran dengan rasa apem selama event tersebut. Ada pedagang yang bisa menghabiskan 300 kilogram tepung beras dalam sehari saking larisnya pembeli. (Tribunsolo.com/Ibnu Dwi Tamtomo)

Namun kue apem yang berkembang dan dikenal di Indonesia adalah gabungan dari budaya India dan Arab.

Kue tradisional ini awalnya dipercaya diperkenalkan oleh seorang keturunan dari Prabu Brawijaya yang kembali dari tanah suci Mekkah yaitu Ki Ageng Gribig.

Baca juga: Mengenal Sejarah Batik di Solo dan Berbagai Jenis Motifnya, Terkenal Berkualitas Bagus

Kue apem dibagikan oleh Ki Ageng dan salah satu murid dari Sunan Kalijaga ke masyarakat sekitar.

Sejak itulah kue apem tumbuh menjadi bagian dari budaya masyarakat Jawa untuk mengungkapkan rasa syukur pada momen-momen penting dalam kehidupannya.

Asal-usul Kue Apem

Dilansir dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kue apem yang dibawa oleh Ki Ageng Gribig sekembalinya dari perjalanan dari tanah suci.

Karena jumlahnya yang sedikit, kue apem lalu dibuat lagi oleh istri Ki Ageng Gribig dengan menyesuaikan cita rasanya dengan selera masyarakat setempat.

Kue-kue yang telah dibuat itu lalu dibagikan kepada masyarakat sekitar, yang oleh Ki Ageng Gribig meneriakkan "yaqowiyu" yang berarti "Tuhan berilah kekuatan".

Ribuan orang berebut saat kue apem disebar dalam puncak Saparan Yaa Qowiyyu di Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jumat (18/10/2019).
KIRAB APEM - Ribuan orang berebut saat kue apem disebar dalam puncak Saparan Yaa Qowiyyu di Desa Jatinom, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jumat (18/10/2019). (Istimewa)
Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved