Sejarah Kuliner Legendaris

Ini Lho Sejarah Pecel Bisa jadi Menu Sarapan Warga Solo Raya, Kuliner yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9

Dalam Serat Centhini (1814) misalnya, disebutkan bahwa pecel dibuat menggunakan bumbu wijen, bukan kacang tanah.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
INSTAGRAM/soloinfo
KULINER LEGENDARIS SOLO - Seporsi nasi pecel Bu Kis di Belakang Pengadilan Negeri Solo, Jawa Tengah, pada 2017 lalu. Inilah sejarah pecel. (INSTAGRAM/soloinfo) 

Ringkasan Berita:
  • Pecel, kuliner sarapan favorit di Solo Raya, memiliki sejarah panjang sejak zaman kerajaan Jawa, awalnya dikenal sebagai hidangan pelengkap dalam naskah kuno seperti Kakawin Ramayana dan Serat Centhini, menggunakan bumbu wijen.
  • Perubahan besar terjadi pada abad ke-17 dengan masuknya kacang tanah, menggantikan wijen dalam sambal pecel.
  • Pecel menjadi lebih sederhana dan merakyat pada abad ke-20, menjadi mata pencaharian utama perempuan Jawa dan Madura.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Selain soto, pecel adalah salah satu kuliner favorit warga Solo Raya, Jawa Tengah, untuk sarapan.

Pecel, sepiring sayuran rebus yang disiram sambal kacang, mungkin terlihat sederhana.

Ada banyak warung makan di Solo yang menjual pecel, dari warung sederhana sampai restoran yang buka pada pagi hari.

Baca juga: Perbedaan Gudeg Solo dan Jogja, Menu Sarapan Favorit yang Punya Sejarah Panjang

Hal ini menandakan betapa populernya pecel sebagai menu sarapan di Solo Raya.

Di balik popularitasnya sebagai makanan merakyat dan murah meriah itu, siapa sangka, kuliner ini menyimpan jejak sejarah panjang dan telah mengalami metamorfosis rasa serta bentuk sejak zaman kerajaan di tanah Jawa.

Bahkan, Solo  yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa, memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah makanan rakyat ini.

Jejak Pertama Pecel di Naskah Kuno

Kata pecel bukan sekadar istilah kuliner masa kini.

Nama ini sudah tercatat dalam teks kuno seperti Kakawin Ramayana (abad ke-9, era Mataram Kuno) dan naskah Sunda Kuno Sanghyang Swawar Cinta.

Dalam teks-teks ini, pecel disebut sebagai hidangan pelengkap, bukan menu utama seperti sekarang.

Biasanya, pecel disajikan mendampingi lauk besar seperti ayam ingkung.

Di masa itu, pecel belum berbentuk seperti yang kita kenal sekarang.

Dalam Serat Centhini (1814) misalnya, disebutkan bahwa pecel dibuat menggunakan bumbu wijen, bukan kacang tanah.

Pecel jenis ini dikenal sebagai pecel ndeso, dan berkembang di wilayah Solo.

Baca juga: 7 Rekomendasi Wisata di Dekat Kemuning Karanganyar : dari Destinasi Alam hingga Sejarah Ada di Sini

Masuknya Kacang Tanah: Titik Balik Rasa Pecel

Perubahan besar pada pecel terjadi sekitar abad ke-17, saat kacang tanah yang disebut katjang Tjina pertama kali dikenal di Nusantara.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved