Fakta Menarik Tentang Solo
Asal-usul Kelurahan Jajar di Solo, Diambil dari Nama Abdi Dalem Keraton Surakarta
Nama Jajar sudah ada sejak masa kepindahan Keraton Kartosuro ke timur, menuju Keraton Surakarta pada tahun 1757.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kelurahan Jajar merupakan sebuah kelurahan di kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah.
Kelurahan ini memiliki kode pos 57144.
Pada tahun 2020, kelurahan ini berpenduduk 9.382 jiwa.
Baca juga: Asal-usul Trucuk yang Kini Jadi Kecamatan di Klaten, Diambil dari Nama Tanaman Lokal
Asal-usul Jajar
Nama "Jajar" sudah ada sejak masa kepindahan Keraton Kartosuro ke timur, menuju Keraton Surakarta pada tahun 1757.
Pada masa itu, terdapat seorang abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang diberi pangkat "Jajar," yang setara dengan pesuruh keraton yang dipercaya.
Sebagai penghargaan atas jasanya yang besar kepada raja, pesuruh tersebut diberi tanah perdikan yang masih berupa hutan lebat, dengan syarat yang dikenal dengan istilah "hanggaduh run-tumurun," yang artinya memiliki hak untuk tinggal di tanah tersebut, tetapi tidak boleh menjualnya.
Baca juga: Asal-usul Nama Desa Simo di Boyolali, Dipercaya Berasal dari Suara Ribuan Harimau Mengaum
Tanah perdikan yang diberikan kepada abdi dalem tersebut terletak sekitar 5 km sebelah barat dari Keraton Surakarta.
Karena yang dipercaya untuk mengelola tanah tersebut adalah Ki Jajar, lama-kelamaan tanah perdikan tersebut dikenal dengan nama "Alas Jajar."
Keturunan Ki Jajar
Ki Jajar memiliki dua orang putra yang kemudian turut berperan dalam perkembangan wilayah tersebut. Kedua putra Ki Jajar adalah:
- Trenggono, yang setelah tua dikenal dengan nama Eyang Setro.
- Kaladipo, yang memiliki anak bernama Ditorumekso.
Mereka ikut berperan dalam sejarah dan perkembangan tanah yang sebelumnya masih berupa hutan lebat, serta turut mengembangkan kawasan tersebut menjadi lebih maju dan ramai.
(*)
| Kisah Asal Muasal Pasar Triwindu Solo yang Berdiri Tahun 1939, Ternyata Dulunya Kandang Kuda |
|
|---|
| Kenapa Sala Disebut Solo? Begini Penjelasan dan Sejarahnya |
|
|---|
| Dulu Lahan Pacuan Kuda Milik Mangkunegaran, Kini Jadi Stasiun Terbesar di Kota Solo |
|
|---|
| Makna Tradisi Mitoni, Ritual Selamatan Kehamilan 7 Bulan yang Masih Eksis di Solo Raya |
|
|---|
| Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Kantor-Kelurahan-Jajar-di-Jl-Basuki-Rahmat.jpg)