Fakta Menarik Tentang Solo
Asal-usul Jimpitan yang Masih jadi Tradisi Banyak Warga Kampung Solo Raya, Warisan Kolonial Belanda
Diketahui, jimpitan adalah sebuah kegiatan dalam kelompok masyarakat untuk mengumpulkan uang atau beras secara rutin.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ada sebuah tradisi yang mencerminkan gotong royong di Solo Raya, yakni jimpitan.
Diketahui, jimpitan adalah sebuah kegiatan dalam kelompok masyarakat untuk mengumpulkan uang atau beras secara rutin.
Asal-usul istilah jimpitan berasal dari Bahasa jawa yaitu "jimpit" yang artinya mengambil sesuatu dengan ujung telunjuk dan ibu jari sehingga jumlah yang diambil sedikit.
Baca juga: Asal-usul Sop Manten jadi Hidangan Khas Pernikahan di Solo Raya, Tradisi Sejak Abad ke-19
Jimpitan kini masih berlaku di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Yogyakarta semetara di Jawa Barat dikenal dengan sebutan beas perelek.
Sejarah Tradisi Jimpitan
Melansir laman revolusimental.go.id, akar sejarah tradisi Jimpitan diperkirakan berkembang di antara masyarakat pedesaan sejak zaman penjajahan Belanda.
Kegiatan ini menjadi simbol solidaritas dan ketangguhan warga dalam menghadapi kesulitan ekonomi pada saat itu.
Pada zaman dahulu jimpitan dilakukan dengan mengumpulkan bahan makanan pokok untuk menjaga stok pangan.
Seiring berjalannya waktu, di beberapa tempat beras kemudian diganti dengan uang yang lebih mudah untuk disimpan.
Baca juga: Asal-usul Candi Muncar yang Kini jadi Wisata Hits di Wonogiri, Bendungan Dibangun Tahun 1976
Sesuai asal katanya, jumlah uang atau beras yang diberikan ketika jimpitan tidaklah banyak, seperti satu gelas beras ataupun uang koin Rp 500.
Waktu pengambilan jimpitan ditentukan bersama sesuai kesepakatan lingkungan di level Rukun Tetangga (RT) dan dilakukan secara kontinyu.
Biasanya beras atau uang jimpitan akan dikumpulkan oleh petugas ronda pada malam hari.
Beras dan uang yang dikumpulkan akan dikelola sebagai tabungan sosial untuk kepentingan bersama.
Penggunaan dan pengelolaannya akan dimusyawarahkan, dan biasanya digunakan untuk kegiatan warga maupun pembangunan fasilitas desa.
Terkadang sebagai balas jasa kepada para peronda, sebagian uang atau beras yang dikumpulkan dibagikan kepada warga yang kurang mampu.
| Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Tempe Gembus Mudah Dijumpai di Angkringan Solo, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Saat Krisis Pangan |
|
|---|
| Kisah Menarik Kelurahan Gajahan di Solo, Ternyata Dulu Tempat Kandang Gajah Milik Keraton Surakarta |
|
|---|
| Contohnya Selat, Ini Sejarah Panjang Kenapa Kuliner di Solo Kebanyakan Bercitarasa Manis |
|
|---|
| Cerita Misteri di Ndalem Kalitan Solo Rumah Soeharto, Konon Gamelan di Sana Berbunyi Tiap Malam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/uang-receh-logam-untuk-jimpitan.jpg)