Fakta Menarik Tentang Solo

Asal-usul Jimpitan yang Masih jadi Tradisi Banyak Warga Kampung Solo Raya, Warisan Kolonial Belanda

Diketahui, jimpitan adalah sebuah kegiatan dalam kelompok masyarakat untuk mengumpulkan uang atau beras secara rutin.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribunnews.com/Hendra Gunawan
UANG RECEH - Ilustrasi uang receh logam untuk jimpitan, dipotret di Jakarta pada 2018 lalu. Beginilah sejarah tradisi jimpitan, warisan Belanda yang masih dilakukan warga kampung Solo Raya sampai kini. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ada sebuah tradisi yang mencerminkan gotong royong di Solo Raya, yakni jimpitan.

Diketahui, jimpitan adalah sebuah kegiatan dalam kelompok masyarakat untuk mengumpulkan uang atau beras secara rutin.

Asal-usul istilah jimpitan berasal dari Bahasa jawa yaitu "jimpit" yang artinya mengambil sesuatu dengan ujung telunjuk dan ibu jari sehingga jumlah yang diambil sedikit.

Baca juga: Asal-usul Sop Manten jadi Hidangan Khas Pernikahan di Solo Raya, Tradisi Sejak Abad ke-19

Jimpitan kini masih berlaku di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Yogyakarta semetara di Jawa Barat dikenal dengan sebutan beas perelek.

Sejarah Tradisi Jimpitan

Melansir laman revolusimental.go.id, akar sejarah tradisi Jimpitan diperkirakan berkembang di antara masyarakat pedesaan sejak zaman penjajahan Belanda.

 Kegiatan ini menjadi simbol solidaritas dan ketangguhan warga dalam menghadapi kesulitan ekonomi pada saat itu.

Pada zaman dahulu jimpitan dilakukan dengan mengumpulkan bahan makanan pokok untuk menjaga stok pangan.

Seiring berjalannya waktu, di beberapa tempat beras kemudian diganti dengan uang yang lebih mudah untuk disimpan.

Baca juga: Asal-usul Candi Muncar yang Kini jadi Wisata Hits di Wonogiri, Bendungan Dibangun Tahun 1976

Sesuai asal katanya, jumlah uang atau beras yang diberikan ketika jimpitan tidaklah banyak, seperti satu gelas beras ataupun uang koin Rp 500.

Waktu pengambilan jimpitan ditentukan bersama sesuai kesepakatan lingkungan di level Rukun Tetangga (RT) dan dilakukan secara kontinyu.

Biasanya beras atau uang jimpitan akan dikumpulkan oleh petugas ronda pada malam hari.

Beras dan uang yang dikumpulkan akan dikelola sebagai tabungan sosial untuk kepentingan bersama.

Penggunaan dan pengelolaannya akan dimusyawarahkan, dan biasanya digunakan untuk kegiatan warga maupun pembangunan fasilitas desa.

Terkadang sebagai balas jasa kepada para peronda, sebagian uang atau beras yang dikumpulkan dibagikan kepada warga yang kurang mampu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved