Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Nasi Goreng Pak Basiyo, Kuliner Hidden Gem Legendaris di Sukoharjo, Langganan Para Pejabat

Warung ini terletak jauh dari pusat keramaian maupun jalan raya atau jalan umum, dan terletak di perkampungan yang sepi.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
FACEBOOK/Solo Info/Instagram @ardi.ics
KULINER LEGENDARIS SUKOHARJO - Potret warung Nasi Goreng Pak Basiyo di Nguter, Sukoharjo, pada April 2020 lalu. Begini sejarah Nasi Goreng Pak Basiyo kuliner hidden gem nan legendaris. (FACEBOOK/Solo Info/Instagram @ardi.ics) 

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Ada wisata kuliner di Sukoharjo, Jawa Tengah, yang legendaris dan anti-mainstream.

Namanya adalah Nasi Goreng Pak Basiyo, di Dusun I, Gupit, Kec. Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Warung ini terletak jauh dari pusat keramaian maupun jalan raya atau jalan umum, dan terletak di perkampungan yang sepi.

Baca juga: Ijazah SMA Jokowi Ikut Digugat, Kepala Sekolah Ungkap Sejarah Perubahan Nama SMPP Jadi SMAN 6 Solo

Hanya ada jalan setapak melewati pekarangan rumah tetangganya, karena warung ini diapit oleh rumah dan kebun.

Tempat yang sepi, di bagian timur warung ada kebun jati yang gelap, serta tidak jauh dari warung terdapat sebuah kuburan yang menambah sensasi seram makan di warung ini.

Selain karena lokasinya yang tidak biasa, hal unik lainnya adalah kesederhanaan dari tempat warung ini.

Pemilik warung, Basiyo mengaku awalnya dia berjualan nasi goreng berkeliling.

Namun karena sudah lelah, dia memutuskan untuk membuka warung nasi gorengnya di rumahnya.

Baca juga: Sejarah Pasar Malam : Kini Diadakan di Alkid Keraton Solo, Dulu Digelar di Dekat Masjid Agung

"Dulu keliling sejak tahun 70-an, karena sudah lelah dan sudah punya pelanggan, akhirnya tahun 90-an saya buka di rumah," katanya saat berbincang dengan TribunSolo.com, Senin (10/6/2019).

Menggunakan bagian depan rumahnya yang sederhana, penerangan yang minim, dan memasak dengan cara tradisional, warung nasi goreng ini banyak menyedot perhatian penikmat kuliner.

Memasaknya masih menggunakan arang dengan wajan berukuran kecil, sehingga pesanan harus dimasak satu persatu di gerobak tuanya.

Banyak pelanggan yang rela mengantre hingga berjam-jam untuk dapat menikmati menu di warung nasi goreng ini.

Cita rasanya terkenal hingga luar wilayah Kecamatan Nguter, bahkan luar Kabupaten Sukoharjo.

Tidak jarang penjabat daerah berkunjung ke warung ini.

Basiyo saat memasak nasi goreng
Basiyo saat memasak nasi goreng (TribunSolo.com/Agil Tri)

Sejarah Nasi Goreng Pak Basiyo

Pak Basiyo, pemilik warung yang kini berusia 68 tahun dan memiliki nama asli Sukiyo, memulai usahanya sejak tahun 1984.

Kala itu, ia berjualan keliling menggunakan gerobak, menyusuri kampung-kampung hingga ke Pasar Nguter.

Saking enak dan terkenalnya, saat separuh jalan sudah habis dagangan sehingga bikin banyak pelanggan kecewa.

Para pelanggannya lantas menyarankan Pak Basiyo jualan di rumah saja.

Baca juga: Sejarah Roti Babah Setoe yang Legendaris di Solo, Ada Sejak 1982, Nama Pemberian Mangkunegoro V

Setelah sekitar tiga sampai empat tahun berkeliling, akhirnya ia menetap berjualan di halaman rumahnya.

Siapa sangka, keputusan sederhana itu justru menjadikan warungnya sebagai salah satu kuliner legendaris Sukoharjo yang tetap ramai hingga hari ini.

Menu di Warung Pak Basiyo sebenarnya sangat sederhana: nasi goreng, mie goreng, bihun, cap cay, hingga bakmi rebus.

Bahan utamanya hanya sayuran, telur, dan daging ayam. Namun rasanya? Tak kalah dari restoran besar.

Baca juga: Sejarah Es Puter yang Jadi Hidangan Penutup Tiap Hajatan di Solo, Ternyata Ada Artinya Lho

Yang paling unik adalah menu khas bernama "oblok-oblok".

Tapi jangan terkecoh, ini bukan sayur oblok-oblok khas Wong Solo.

Versi Pak Basiyo adalah tumisan daging dan tulang ayam pedas, dengan sayur dan bakwan sebagai pelengkap. Rasanya gurih, pedas, dan menghangatkan malam.

Warungnya sendiri sangat sederhana.

Hanya ada satu meja makan di emper rumah.

Selebihnya, pengunjung dipersilakan menggelar tikar sendiri yang sudah disediakan di teras rumah.

Suasana santai ala kampung membuat siapa pun merasa nyaman dan betah berlama-lama.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved