Hari Buruh 2025

SPSI Sebut Sektor Percetakan di Solo Mulai Goncang: Banyak Pabrik Kecil Kolaps

Sektor percetakan di Solo disebut juga mulai goncang, ini terdampak badai PHK di Solo.

Tayang:
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
JAWAB WARTAWAN. Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Solo Wahyu Rahadi. Dia bicara soal badai PHK yang kini berdampak pada sektor percetakan. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dampak badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) disebut juga dirasakan di sektor percetakan. 

Ini diungkap Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Solo Wahyu Rahadi

Dia menyebut ada sekitar 20 Ribu buruh di Solo kini terkena badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 

Kondisi ini yang membuat buruh semakin takut untuk berjuang. 

Apalagi bicara kesejahteraan. 

Mereka kini dalam bayang-bayang ketakukan terkena PHK.

“Saya tidak punya data pasti. Sritex Group, dan beberapa pabrik textile di Soloraya tak kurang 20 ribuan. Sektor percetakan juga mulai goncang. Banyak pabrik-pabrik kecil yang kolaps,” ungkapnya saat dihubungi Rabu (30/4/2025).

Hingga kini tingkat kesejahteraan buruh hanya mandek pada pemenuhan hak-hak minimum. 

Baca juga: Buruh di Solo Ungkap Ketakukan di Momen May Day, Sebut Ada 20 Ribu Orang Terdampak Badai PHK

Di tengah badai PHK mereka seakan harus menerima nasib mendapat upah yang jauh dari kata sejahtera.

Seperti telah diketahui UMK Solo tahun 2025 naik sebesar 6,5 persen. Hal ini masih belum memenuhi harapan para buruh yang ingin UMK menyentuh 8-10 persen.

“Kesejahteraan buruh tidak berubah dari hak-hak minimum. Apalagi seperti saat ini ketakutan akan PHK menjadi bayang-bayang gelap kaum buruh. Bergerak PHK atau nerima apa adanya,” ungkapnya.

Ia pun menyayangkan pemerintah yang terkesan abai akan persoalan pelik yang dihadapi. 

Mereka justru memilih membuat kegiatan yang tak berdampak nyata pada kesejahteraan buruh.

“Sebagian besar menerima apa adanya. May day saat ini justru yang bahagia adalah birokrat di Disnaker. Kegiatan-kegiatan yang tak terkait langsung dengan upaya perbaikan nasib buruh. Demo diganti dengan senam atau bansos,” terangnya. (*)

 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved