Yellow Caturra, Si Kopi Arabika Kuning dari Lembah Merapi-Merbabu yang Punya Aroma Istimewa
Yellow Caturra memiliki profil rasa yang unik, seringkali dengan aroma buah-buahan dan bunga, seperti lemon, apel, serta aroma floral.
Penulis: Tribun Network | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Sejak memuliakan tanaman kopi Yellow Caturra di kebunnya, Muji sudah mulai menikmati hasilnya yang cukup istimewa.
Walau belum memiliki banyak tanaman, ada sekitar 80 sampai 90 pohon, dan belum semua produksi, produksinya sudah nyata.
“Tahun 2024 saya bisa panen 160 kilogram buah atau chery kopi Yellow Caturra,” ungkapnya sembari menyebutkan harga jualnya yang menjanjikan setelah diproses.
“Tentu ada harga ada rasa,” kata Muji sembari tersenyum menyebutkan harga jual Yellow Caturra Wine atau hasil fermentasi yang sangat aduhai.
Baca juga: Cerita Farid Stevy, Vokalis FSTVLST yang Ternyata Sosok di Balik Logo KAI hingga Filosofi Kopi
Bagi Mujiyanto, menanam kopi Yellow Caturra dan kopi Arabika biasa di Wilayah Selo memiliki misi historis kultural.
“Kopi selama ini di Indonesia atau di Boyolali kerap dianggap tanaman warisan colonial. Karena itu dengan kita menanam ini, pemahaman anak cucu kita akan berubah,” ujarnya.
“Mereka pada waktunya akan paham, oh ini adalah tanaman warisan simbah atau leluhur, bukan peninggalan kolonial,” jelas Muji yang punya nama di medsos Mujizat Merapi ini.
Budidaya tanaman kopi Arabika Yellow Caturra di Lembah Merapi-Merbabu menurutnya tidak susah.
Tidak ada treatment khusus, dan cara pemeliharaan yang sulit. Ia mencontohkan pohon kopi ditanamnya di pinggiran kebun atau tengah lahan, tumpangsari dengan sayur mayur.
Di kebunnya, kopi Yellow Caturra berbagi lahan dengan tanaman wortel, brokoli, kentang, dan kadang cabai serta tomat.
Menurut Mujiyanto, para petani umumnya khawatir, menanam banyak pohon kopi akan mengurangi lahan sayur mayur, yang artinya akan berdampak pada pendapatan.
“Memang benar, satu pohon kopi jika tumbuh sempurna subur, akan memakan area yang seharusnya bisa menghasilkan sayur mayur,” katanya.
“Tetapi ketika pada saatnya besar dan kopinya menghasilkan, hasilnya seimbang dengan berkurangnya lahan sayur. Bahkan malah bisa lebih besar jika kumulatif,” lanjut Muji.
Prospek Menjanjikan
Ini menurut Muji adalah kalkulasi jangka panjang. Prospek kopi di masa depan tetap menjanjikan melihat trend nasional maupun global.
| Prakiraan Cuaca Kabupaten Boyolali Kamis 30 April 2026 : Hujan, Waspada Petir di Selo dan Kemusu |
|
|---|
| Warga Solo Raya Jangan Bakar Sampah Sembarangan! Waspada Fenomena El Nino, Kemarau Lebih Panas |
|
|---|
| Sosok Faridah, Korban Tragedi KRL Bekasi Asal Boyolali, Selalu Hadir Saat Dibutuhkan Keluarga |
|
|---|
| Kenangan Terakhir Kakak Korban Kecelakaan KRL di Bekasi, Faridah Utami Dikenang Tulus Membantu |
|
|---|
| Faridah Utami, Korban Kecelakaan KRL Bekasi, Dimakamkan di Samping Makam Ayahnya di Boyolali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Mujiyanto-petani-sayur-dan-kopi-di-Desa-Samiran-Boyolali-memetik-buah-segar-kopi-Yellow-CaturrA.jpg)