Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Kue Moho, Kuliner Legendaris Solo, Dipercaya Simbol Rezeki Melimpah dan Persatuan Etnis

Kua moho adalah kudapan manis dan padat yang menjadi perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa, serta dipercaya sebagai simbol rezeki.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribun-Video.com/Radifan Setiawan
KULINER LEGENDARIS SOLO - Kue Moho Sri Murwanti berada di Baluwarti, Pintu Gapit Barat, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Beginilah sejarah kue moho yang sarat makna. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ada banyak kue tradisional khas Solo, Jawa Tengah, yang masih bertahan sampai sekarang di tengah gempuran kuliner modern.

Salah satunya adalah kue moho.

Kua moho adalah kudapan manis dan padat yang menjadi perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa, serta dipercaya sebagai simbol rezeki melimpah dan persatuan etnis.

Baca juga: Sejarah Putu Bambu, Jajanan Legendaris Solo yang Kini Mulai Langka, Dipercaya Berasal dari China

Asal Usul dan Makna Filosofis

Dalam literatur Kompas.com edisi 31 Januari 2022, disebutkan bahwa Solo merupakan daerah asal kue moho.

Kudapan ini dikenal luas di kalangan masyarakat Tionghoa dengan nama Mandarin “hwat kwee”.

Asal-usul kue moho diyakini berasal dari kue tradisional Tionghoa bernama "Fa Gao", yang dalam bahasa Hokkien dan Kanton berarti “kue yang mekar”.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, Fa Gao merupakan bagian penting dari perayaan Imlek dan ritual persembahan leluhur, karena dipercaya melambangkan keberuntungan, rezeki yang berkembang, dan kemakmuran.

  • “Fa” berarti mekar atau berkembang.
  • “Gao” berarti kue.

Salah satu ciri khas kue ini adalah bentuknya yang merekah saat dikukus, simbol dari harapan agar kehidupan pun mekar dan berkembang.

Baca juga: Sejarah Grontol Jagung, Kuliner Legendaris Solo Raya, Dulu Makanan Pengganti Beras saat Penjajahan

Seiring migrasi orang-orang Tionghoa ke wilayah Nusantara, terutama di kawasan pesisir seperti Surabaya, Semarang, dan Lasem, kue Fa Gao ikut serta masuk ke dalam kehidupan masyarakat lokal.

Kue Moho Legendaris Sri Murwanti Baluwarti Solo
KULINER LEGEND SOLO - Kue Moho Legendaris Sri Murwanti Baluwarti Solo (Tribun-Video.com/Radifan Setiawan)

Dalam proses akulturasi tersebut, baik bahan baku, teknik pembuatan, hingga nama kue ini mengalami penyesuaian.

Dari sinilah lahir versi lokal yang kini dikenal sebagai Kue Moho.

Nama “moho” diyakini merupakan hasil pelafalan lokal atau penyerapan fonetik dari “Fa Gao” ke dalam bahasa Jawa dan Madura.

Meskipun tak ada catatan sejarah tertulis yang secara pasti menjelaskan asal mula nama ini, penyebutan “moho” sudah sangat melekat dalam budaya kuliner setempat, terutama sebagai jajanan pasar dan pelengkap sesajen dalam perayaan Imlek.

Kue moho sekilas menyerupai bolu kukus, namun memiliki tekstur yang lebih padat, rasa manis yang legit, dan bagian atas yang merekah seperti bunga mekar, yang melambangkan keberuntungan dan rezeki yang terbuka luas.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved