Ramadhan 2026

Mengenang Tradisi 'Dhul', Penanda Waktu Buka Puasa di Solo Era 1980-1990an

Tradisi ini sangat populer hingga era 1980-an sebagai penanda waktu berbuka puasa bagi warga Kota Bengawan.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/ Andreas Chris
SUASANA MASJID AGUNG - Momen warga berebut gunungan di halaman Masjid Agung Keraton Solo meski prosesi doa belum rampung digelar, Jumat (5/9/2025) pagi. Dulu di Masjid Agung Solo ini ada tradisi dhul sebagai penanda waktu berbuka puasa, sebelum dilarang pemerintah dan digantikan bunyi sirine. 

Ringkasan Berita:
  • Di Surakarta (Solo), Ramadan dulu identik dengan tradisi Dhul, petasan besar penanda waktu berbuka yang populer hingga 1980-an. Dentumannya terdengar hingga beberapa kilometer.
  • Dhul dinyalakan di Masjid Agung Keraton Surakarta dan Masjid Tegalsari; muazin menunggu bunyinya sebelum azan Magrib.
  • Karena dinilai berbahaya, tradisi dihentikan pada 1990-an dan diganti sirine, namun istilah “Dhul” tetap hidup di kalangan warga.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bicara soal tradisi khas Ramadhan di Solo, Jawa Tengah, tahukah Tribuners jika pernah ada tradisi unik Kota Bengawan bernama Dhul.

Namun karena alasan berbahaya, tradisi itu kini sudah hilang di Solo.

Ya, bulan suci Ramadan di Surakarta atau Solo pernah diwarnai tradisi unik bernama “Dhul”.

Baca juga: Mengenal Perang Sarung yang Dilarang di Solo Raya : dari Tradisi, Melenceng jadi Ajang Kekerasan

Tradisi ini sangat populer hingga era 1980-an sebagai penanda waktu berbuka puasa bagi warga Kota Bengawan.

Apa Itu Dhul?

Dhul adalah petasan besar yang dinyalakan dari bawah menggunakan bumbung bambu menyerupai meriam kecil.

Setelah sumbunya disulut, petasan melesat hingga puluhan bahkan seratusan meter ke udara, lalu meledak dengan suara menggelegar yang terdengar hingga beberapa kilometer.

Dentumannya yang khas “DHUUULLL!” menjadi tanda magrib telah tiba.

Dipusatkan di Dua Masjid Bersejarah

Tradisi ini digelar setiap hari selama Ramadan di Masjid Agung Keraton Surakarta dan Masjid Tegalsari.

Puluhan anak-anak dan warga biasanya berkumpul di pelataran masjid menjelang berbuka untuk menyaksikan penyalaan Dhul.

Bahkan, para muazin di sejumlah masjid menunggu suara Dhul sebelum mengumandangkan azan Magrib sebagai upaya menyeragamkan waktu berbuka di Solo.

Bangunan Masjid Tegalsari, Solo berlokasi di Jalan Dr. Wahidin No.34, Bumi, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah
MASJID DI SOLO - Bangunan Masjid Tegalsari, Solo berlokasi di Jalan Dr. Wahidin No.34, Bumi, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah (Gmaps Masjid Tegalsari)

Dihentikan karena Faktor Keamanan

Seiring waktu, tradisi ini dinilai berisiko tinggi dan membahayakan.

Pada sekitar akhir 1980-an hingga 1990-an, pemerintah melarang penggunaan petasan Dhul.

Sebagai pengganti, digunakan bunyi sirine yang dipancarkan melalui pengeras suara dari menara Masjid Agung.

Sirine tersebut, dibunyikan bersamaan dengan bedug, mampu terdengar hingga wilayah Laweyan dan sekitarnya.

Baca juga: Mengenal Tradisi Beli Baju Baru Jelang Lebaran untuk Bakdan di Solo Raya, Warisan Mataram Islam

Tradisi Boleh Hilang, Istilah Tetap Hidup

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved