Ramadhan 2026
Mengenang Tradisi 'Dhul', Penanda Waktu Buka Puasa di Solo Era 1980-1990an
Tradisi ini sangat populer hingga era 1980-an sebagai penanda waktu berbuka puasa bagi warga Kota Bengawan.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Di Surakarta (Solo), Ramadan dulu identik dengan tradisi Dhul, petasan besar penanda waktu berbuka yang populer hingga 1980-an. Dentumannya terdengar hingga beberapa kilometer.
- Dhul dinyalakan di Masjid Agung Keraton Surakarta dan Masjid Tegalsari; muazin menunggu bunyinya sebelum azan Magrib.
- Karena dinilai berbahaya, tradisi dihentikan pada 1990-an dan diganti sirine, namun istilah “Dhul” tetap hidup di kalangan warga.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bicara soal tradisi khas Ramadhan di Solo, Jawa Tengah, tahukah Tribuners jika pernah ada tradisi unik Kota Bengawan bernama Dhul.
Namun karena alasan berbahaya, tradisi itu kini sudah hilang di Solo.
Ya, bulan suci Ramadan di Surakarta atau Solo pernah diwarnai tradisi unik bernama “Dhul”.
Baca juga: Mengenal Perang Sarung yang Dilarang di Solo Raya : dari Tradisi, Melenceng jadi Ajang Kekerasan
Tradisi ini sangat populer hingga era 1980-an sebagai penanda waktu berbuka puasa bagi warga Kota Bengawan.
Apa Itu Dhul?
Dhul adalah petasan besar yang dinyalakan dari bawah menggunakan bumbung bambu menyerupai meriam kecil.
Setelah sumbunya disulut, petasan melesat hingga puluhan bahkan seratusan meter ke udara, lalu meledak dengan suara menggelegar yang terdengar hingga beberapa kilometer.
Dentumannya yang khas “DHUUULLL!” menjadi tanda magrib telah tiba.
Dipusatkan di Dua Masjid Bersejarah
Tradisi ini digelar setiap hari selama Ramadan di Masjid Agung Keraton Surakarta dan Masjid Tegalsari.
Puluhan anak-anak dan warga biasanya berkumpul di pelataran masjid menjelang berbuka untuk menyaksikan penyalaan Dhul.
Bahkan, para muazin di sejumlah masjid menunggu suara Dhul sebelum mengumandangkan azan Magrib sebagai upaya menyeragamkan waktu berbuka di Solo.
Dihentikan karena Faktor Keamanan
Seiring waktu, tradisi ini dinilai berisiko tinggi dan membahayakan.
Pada sekitar akhir 1980-an hingga 1990-an, pemerintah melarang penggunaan petasan Dhul.
Sebagai pengganti, digunakan bunyi sirine yang dipancarkan melalui pengeras suara dari menara Masjid Agung.
Sirine tersebut, dibunyikan bersamaan dengan bedug, mampu terdengar hingga wilayah Laweyan dan sekitarnya.
Baca juga: Mengenal Tradisi Beli Baju Baru Jelang Lebaran untuk Bakdan di Solo Raya, Warisan Mataram Islam
Tradisi Boleh Hilang, Istilah Tetap Hidup
| Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Wonogiri Jumat 20 Maret 2026, Cek Waktu Berbuka |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Solo Jumat 20 Maret 2026, Cek Waktu Berbuka |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Wonogiri Kamis 19 Maret 2026, Cek Waktu Berbuka |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Solo Kamis 19 Maret 2026, Cek Waktu Berbuka |
|
|---|
| Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa di Sukoharjo, Kamis 19 Maret 2026 : Cek Jam Adzan Maghrib |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Momen-warga-berebut-gunungan-di-halaman-Masjid-Agung-Keraton-Solo.jpg)