Ramadhan 2026

Long Bumbung, Tradisi Unik Sambut Ramadan dan Lebaran yang Kini Mulai Langka di Solo Raya

Dulu dentuman long bumbung atau meriam bambu tradisional menggema menjelang berbuka hingga malam takbiran.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Kompas.com/Dani Julius
MAIN LONG BUMBUNG - Bocah-bocah sebaya membuat meriam udara yang mereka sebut sebagai “long bumbunh” di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Inilah sejarah tradisi long bumbung. (KOMPAS.COM/DANI JULIUS) 

Bahkan di beberapa daerah seperti Klaten, permainan ini dilakukan berkelompok layaknya “perang meriam”, menambah keseruan suasana.

Kreativitas, Keberanian, dan Kebersamaan

Pembuatan long bumbung bukan perkara instan. Anak-anak harus mencari bambu tua, memotong sepanjang 1,5–2 meter, melubangi ruasnya, lalu mengikatnya dengan karet ban agar tak mudah pecah.

Proses ini mengajarkan:

  • Kreativitas, karena harus membuat sendiri dari bahan alam.
  • Kerja sama, sebab biasanya dikerjakan berkelompok.
  • Keberanian dan kehati-hatian, mengingat risiko percikan api dan tekanan ledakan.

Meski terdengar sederhana, permainan ini menyimpan nilai budaya: wujud syukur, kegembiraan menyambut hari besar, dan pelestarian tradisi turun-temurun.

Kini Tinggal Kenangan

Seiring perkembangan zaman, long bumbung semakin jarang terdengar di Solo Raya.

Minimnya lahan terbuka, kekhawatiran soal keselamatan, serta tergeser permainan modern membuat tradisi ini kian redup.

Kini, long bumbung masih bisa ditemui di beberapa wilayah seperti lereng Gunung Merbabu dan Merapi atau Desa Gabus, Sragen

 Namun di kota, dentumannya nyaris tak terdengar lagi.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved