Ramadhan 2026

Long Bumbung, Tradisi Unik Sambut Ramadan dan Lebaran yang Kini Mulai Langka di Solo Raya

Dulu dentuman long bumbung atau meriam bambu tradisional menggema menjelang berbuka hingga malam takbiran.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Kompas.com/Dani Julius
MAIN LONG BUMBUNG - Bocah-bocah sebaya membuat meriam udara yang mereka sebut sebagai “long bumbunh” di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Inilah sejarah tradisi long bumbung. (KOMPAS.COM/DANI JULIUS) 

Ringkasan Berita:
  • Long bumbung atau meriam bambu menjadi ikon Ramadan di Solo Raya era 1970–1990an, dibunyikan jelang berbuka hingga malam takbiran sebagai penanda datangnya Ramadan dan Lebaran.
  • Tradisi ini bagian budaya Melayu Nusantara, dibuat dari bambu dan dimainkan berkelompok, mengajarkan kreativitas, kerja sama, dan keberanian.
  • Kini long bumbung kian jarang terdengar karena faktor keselamatan dan modernisasi, tersisa di beberapa desa dan lereng Merbabu-Merapi.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Momen Ramadan menjadi momen untuk nostalgia masa lalu.

Bagi generasi 1970-1990an, pernahkan merindukan suasana Ramadan tempo dulu di Solo Raya?

Salah satu momen paling ikonik kala itu adalah dentuman long bumbung atau meriam bambu tradisional, yang menggema menjelang berbuka hingga malam takbiran.

Baca juga: Mengenal Tradisi Kopi Rempah di Masjid Jami Assegaf Solo, Erat Kaitannya dengan Komunitas Arab

Dentuman Penanda Ramadan

Di Solo dan sekitarnya, meriam bambu lebih dikenal dengan sebutan long bumbung atau mercon bumbung.

Permainan ini biasanya dimainkan anak-anak dan remaja menjelang waktu berbuka puasa atau selepas tarawih.

Terbuat dari bambu tua berdiameter besar, bagian pangkalnya dilubangi lalu diisi minyak tanah atau karbit.

Ketika disulut api, terdengar suara menggelegar yang memantul di antara rumah-rumah kampung atau tepi sungai.

Dentuman itu seolah menjadi penanda: Ramadan telah tiba, dan Lebaran kian dekat.

Baca juga: Mengenang Tradisi Dhul, Penanda Waktu Buka Puasa di Solo Era 1980-1990an

Dari Tradisi Melayu hingga Solo Raya

Meriam bambu bukan hanya milik Solo.

Tradisi ini dikenal luas di wilayah Melayu dan Nusantara dengan beragam nama: bedil bambu, meriam betung, bebeledugan, hingga bunggo.

Sejarahnya diperkirakan terinspirasi dari meriam bangsa Portugis pada abad ke-16.

Masyarakat pribumi lalu “menciptakan” versi tradisional dari bambu.

Seiring waktu, permainan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Ramadan dan Idulfitri di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah.

Di Solo Raya, long bumbung dulu kerap dimainkan di lapangan, kebun, atau tepi sungai.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved