Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Kolang-kaling, Hidangan Khas Berbuka Puasa di Solo Raya yang Punya Kisah Panjang

Kandungan air dan serat yang tinggi membuatnya menyegarkan dan baik untuk pencernaan setelah seharian berpuasa.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Kompas.com/Krisda Tiofani
KULINER KHAS RAMADAN - Ilustrasi Kolang-kaling asal Sumatera. Beginilah asal-usul kolang-kaling yang jadi kuliner khas Ramadan. (Kompas.com/Krisda Tiofani) 

Ringkasan Berita:
  • Kolang-kaling berasal dari buah muda pohon aren, tanaman serbaguna di Nusantara, dan telah menjadi bagian kuliner tradisional, termasuk di Solo dan Betawi.
  • Teksturnya kenyal dan segar, cocok untuk es buah, kolak, atau manisan, sehingga menjadi takjil favorit selama Ramadan.
  • Di Solo, Pasar Gede menjadi pusat penjualan kolang-kaling, terutama menjelang puasa, dengan peningkatan permintaan hingga 50 persen dibanding hari biasa.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ramadan tak lengkap rasanya tanpa minuman yang menyegarkan di meja makan tiap adzan maghrib berkumandang.

Salah satu hidangan khas Ramadan di Solo Raya, Jawa Tengah, adalah kolang-kaling.

Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang segar menjadikannya pelengkap favorit dalam es buah, kolak, hingga manisan di Solo.

Baca juga: Sejarah Kentongan, Alat Komunikasi Masa Lampau yang Masih Eksis di Solo Raya

Namun, di balik popularitasnya saat Ramadhan, kolang-kaling menyimpan sejarah panjang yang berakar dari pemanfaatan pohon aren di Nusantara.

Pohon Aren dan Awal Mula Kolang-kaling

Kolang-kaling berasal dari buah pohon aren (Arenga pinnata), tanaman serbaguna yang sejak lama menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Indonesia.

Bahkan, pohon aren kerap disebut sebagai pohon terpenting kedua setelah kelapa.

Daunnya dimanfaatkan sebagai bahan atap rumah, tulang daunnya menjadi sapu lidi, sementara niranya diolah menjadi gula aren.

Dari buah mudanya inilah kolang-kaling dihasilkan, melalui proses perebusan dan perendaman agar aman dikonsumsi.

Baca juga: Sejarah Es Teler, Minuman Favorit Buka Puasa di Solo Raya, Penemunya Ternyata Orang Sukoharjo

Menurut literatur Kompas.com (31 Maret 2023), pohon aren banyak tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra.

Kolang-kaling dari Sumatra dikenal berukuran lebih besar, sementara kolang-kaling Jawa, yang banyak beredar di Solo, memiliki tekstur lebih kenyal.

Pembeli sedang membeli kolang-kaling di salah satu kios yang ada di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (25/3/2023).
KULINER SOLO - Pembeli sedang membeli kolang-kaling di salah satu kios yang ada di Pasar Bunder Sragen, Sabtu (25/3/2023). (Tribunsolo.com/Septiana Ayu Lestari)

Tradisi Betawi dan Jejak Budaya Kolang-kaling

Dalam khazanah budaya Betawi, kolang-kaling dikenal dengan sebutan buah atep atau beluruk.

Kuliner ini telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner Ramadhan dan Lebaran di Jakarta.

Saat Ramadhan, kolang-kaling menjadi pelengkap es campur dan kolak untuk berbuka puasa.

Sementara saat Lebaran, kolang-kaling disajikan secara khusus tanpa campuran bahan lain, diberi warna putih, hijau, atau merah menggunakan pewarna alami seperti daun suji.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved