Sritex Tutup Permanen

Dulu Raup Setengah Juta Per Hari, Warung-warung Sekitar Sritex Kini Terbengkalai Pasca Pabrik Tutup

Warung-warung makan, kios, hingga lahan parkir yang dulunya ramai dipadati karyawan Sritex, kini terlihat terbengkalai.

Tayang:
TRIBUNSOLO.COM/Anang Ma'ruf
Tujuh bulan pasca PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menutup operasionalnya secara permanen, dampak besar dirasakan para pedagang kecil di kawasan sekitar pabrik. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Tujuh bulan pasca PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menutup operasionalnya secara permanen, dampak besar dirasakan para pedagang kecil di kawasan sekitar pabrik. 

Warung-warung makan, kios, hingga lahan parkir yang dulunya ramai dipadati karyawan Sritex, kini terlihat terbengkalai.

Pantauan TribunSolo.com pada Jumat (19/9/2025), suasana kawasan pabrik Sritex tampak lengang. 

Tujuh bulan pasca PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menutup operasionalnya secara permanen, dampak besar dirasakan para pedagang kecil di kawasan sekitar pabrik.
Tujuh bulan pasca PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menutup operasionalnya secara permanen, dampak besar dirasakan para pedagang kecil di kawasan sekitar pabrik. (TRIBUNSOLO.COM/Anang Ma'ruf)

Kios-kios yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi warga setempat kini kosong tanpa aktivitas. 

Padahal, sebelum penutupan pabrik pada 1 Maret 2025 lalu, setiap jam istirahat pukul 12.00 WIB, warung-warung di sekitar pabrik selalu penuh dengan karyawan yang sekadar mampir untuk makan siang atau beristirahat.

Kini, kondisi tersebut berubah total. 

Baca juga: Kasus Dugaan Korupsi Kredit Sritex: 3 Tersangka Dilimpahkan ke Kejari Solo, Termasuk Iwan Setiawan

Tanpa adanya karyawan yang menjadi pelanggan utama, para pedagang tidak mampu lagi membayar biaya sewa kios yang cukup mahal, sehingga satu per satu terpaksa menutup usahanya.

Salah satu warga setempat, Rohmadi (57), mengaku prihatin dengan perubahan drastis yang dialami kawasan pabrik terbesar di Asia Tenggara tersebut.
 
"Warung, tempat parkir, sudah tutup semua satu per satu sejak PT Sritex tutup permanen,” kata Rohmadi, Jumat (19/9/2025).

Ia menceritakan, geliat ekonomi di kawasan pabrik Sritex dulu sangat besar. 

Warung makan bisa meraup penghasilan hingga Rp400 ribu per hari, sementara lahan parkir rumah warga bahkan bisa menghasilkan Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari.
 
"Kalau dihitung setahun, tiap warung bisa menghasilkan ratusan juta. Itu sudah berlangsung puluhan tahun sejak pabrik berdiri,” ungkapnya.

Namun, kini semua itu tinggal kenangan. 

Baca juga: Hore! Bandara Ahmad Yani Semarang Tambah Rute Penerbangan, Konektivitas Jawa Tengah Kian Terbuka

Menurut Rohmadi, hampir semua pedagang yang berjualan di kawasan pabrik tidak memiliki lahan sendiri, melainkan menyewa.

Harga sewa kios per tahun berkisar antara Rp30 juta hingga Rp50 juta, tergantung ukuran kios. 

Sedangkan lahan parkir mencapai Rp150 juta per tahun.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved