Sritex Tutup Permanen
Dulu Raup Setengah Juta Per Hari, Warung-warung Sekitar Sritex Kini Terbengkalai Pasca Pabrik Tutup
Warung-warung makan, kios, hingga lahan parkir yang dulunya ramai dipadati karyawan Sritex, kini terlihat terbengkalai.
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Rifatun Nadhiroh
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Tujuh bulan pasca PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) resmi menutup operasionalnya secara permanen, dampak besar dirasakan para pedagang kecil di kawasan sekitar pabrik.
Warung-warung makan, kios, hingga lahan parkir yang dulunya ramai dipadati karyawan Sritex, kini terlihat terbengkalai.
Pantauan TribunSolo.com pada Jumat (19/9/2025), suasana kawasan pabrik Sritex tampak lengang.
Kios-kios yang sebelumnya menjadi tumpuan ekonomi warga setempat kini kosong tanpa aktivitas.
Padahal, sebelum penutupan pabrik pada 1 Maret 2025 lalu, setiap jam istirahat pukul 12.00 WIB, warung-warung di sekitar pabrik selalu penuh dengan karyawan yang sekadar mampir untuk makan siang atau beristirahat.
Kini, kondisi tersebut berubah total.
Baca juga: Kasus Dugaan Korupsi Kredit Sritex: 3 Tersangka Dilimpahkan ke Kejari Solo, Termasuk Iwan Setiawan
Tanpa adanya karyawan yang menjadi pelanggan utama, para pedagang tidak mampu lagi membayar biaya sewa kios yang cukup mahal, sehingga satu per satu terpaksa menutup usahanya.
Salah satu warga setempat, Rohmadi (57), mengaku prihatin dengan perubahan drastis yang dialami kawasan pabrik terbesar di Asia Tenggara tersebut.
"Warung, tempat parkir, sudah tutup semua satu per satu sejak PT Sritex tutup permanen,” kata Rohmadi, Jumat (19/9/2025).
Ia menceritakan, geliat ekonomi di kawasan pabrik Sritex dulu sangat besar.
Warung makan bisa meraup penghasilan hingga Rp400 ribu per hari, sementara lahan parkir rumah warga bahkan bisa menghasilkan Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari.
"Kalau dihitung setahun, tiap warung bisa menghasilkan ratusan juta. Itu sudah berlangsung puluhan tahun sejak pabrik berdiri,” ungkapnya.
Namun, kini semua itu tinggal kenangan.
Baca juga: Hore! Bandara Ahmad Yani Semarang Tambah Rute Penerbangan, Konektivitas Jawa Tengah Kian Terbuka
Menurut Rohmadi, hampir semua pedagang yang berjualan di kawasan pabrik tidak memiliki lahan sendiri, melainkan menyewa.
Harga sewa kios per tahun berkisar antara Rp30 juta hingga Rp50 juta, tergantung ukuran kios.
Sedangkan lahan parkir mencapai Rp150 juta per tahun.
| Aria Bima Janji Fasilitasi Pertemuan dengan DPR RI, eks Buruh Sritex Sukoharjo : Belum Ada Realisasi |
|
|---|
| Respons eks Buruh Sritex Sukoharjo Soal Klaim Aria Bima Tentang Pesangon: Jangan Hanya Omon-omon |
|
|---|
| Aria Bima Sebut Pesangon Sritex Sukoharjo Bakal Cair Tahun Ini, eks Buruh Klaim Belum Tahu |
|
|---|
| Aria Bima Janji Dorong Penjualan Aset Sritex Sukoharjo, Enggan Jabarkan Situasi Negosiasi |
|
|---|
| Bocoran Pesangon Eks Karyawan Sritex Sukoharjo, Aria Bima Sebut Sudah Ada Progres |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Pedagang-kecil-di-kawasan-sekitar-pabrik-kini-merana.jpg)