Fakta Menarik Tentang Boyolali

Di Pengging Boyolali Ada Komunitas Unik Tapi Berjasa, 'Gila Selingkuh' Kelompok Orang Peduli Sungai

Komunitas Gila Selingkuh terdiri dari beragam kalangan, mulai dari anak-anak muda, ibu rumah tangga, petani, hingga pedagang kaki lima.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM/Tri Widodo
TURUN KE LAPANGAN. Komunitas Gila Selingkuh Pengging, Boyolali saat membersihkan sungai di wilayah Banyudono. 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Di Kabupaten Boyolali, ada sebuah komunitas dengan nama unik: “Gila Selingkuh.”

Meski terdengar nyeleneh, nama itu sama sekali tidak berhubungan dengan urusan rumah tangga. 

Sebaliknya, Gila Selingkuh adalah singkatan dari Giat Selamat Alam, Lestarikan Lingkungan Hidup.

Nama tersebut diadopsi dari gerakan pecinta lingkungan di Bali.

Selain mudah diingat, istilah ini sengaja dipilih agar membuat orang penasaran.

Baca juga: Asal Usul Digelarnya Grebeg Penjalin, Even Tahunan yang Diadakan Warga Desa Trangsan Sukoharjo

Secara resmi, komunitas ini baru terbentuk sekitar satu tahun lalu.

Namun, kegiatan yang melatarbelakanginya sudah dilakukan oleh sang penggagas, Totok Sudaryanto, sejak belasan tahun silam. 

TURUN KE LAPANGAN. Komunitas Gila Selingkuh Pengging, Boyolali saat membersihkan sungai di wilayah Banyudono.
TURUN KE LAPANGAN. Komunitas Gila Selingkuh Pengging, Boyolali saat membersihkan sungai di wilayah Banyudono. (Istimewa)

Pada awalnya, ia bergerak seorang diri menjaga kebersihan sungai di sekitar tempat tinggalnya.

Perlahan, semakin banyak orang yang tergerak hingga kini puluhan anggota ikut bergabung.

Komunitas Gila Selingkuh terdiri dari beragam kalangan, mulai dari anak-anak muda, ibu rumah tangga, petani, hingga pedagang kaki lima.

Mereka memiliki tujuan yang sama: menjaga lingkungan tetap bersih.

Baca juga: Sejarah Pesarean Nayu/Astana Oetara di Solo, Peristirahatan Terakhir Adipati Pura Mangkunegaran

Tak jarang pula kegiatan ini melibatkan siswa sekolah, santri pondok pesantren, masyarakat umum, bahkan mahasiswa, khususnya untuk aksi bersih-bersih sungai.

Totok dan para anggota bekerja sepenuhnya sebagai relawan.

Tidak ada gaji atau penghargaan yang mereka harapkan. Bagi mereka, melihat sungai yang kembali jernih sudah menjadi hadiah paling berharga.

Kepuasan itu semakin bertambah ketika masyarakat sekitar mulai sadar pentingnya menjaga kebersihan sungai dan berhenti membuang sampah sembarangan.

Bagi komunitas ini, mencintai lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban.

Dan meski hanya dimulai dari sungai kecil di kampung mereka, semangat itu akan terus dijaga dan diwariskan.

Baca juga: Sejarah Ponten Mangkunegaran di Kestalan : Jejak Awal Budaya Hidup Bersih di Solo

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved