Ritual Mahesa Lawung

Alas Krendowahono di Karanganyar Dikenal Angker, Ada Mitos Jangan Menoleh Jika Ada yang Memanggil

Di beberapa titik dalam hutan, warga meyakini berdiri makam keramat dan petilasan leluhur.

Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM/Anggoro Sani
Alas Krendowahono merupakan kawasan hutan yang berada di wilayah utara Karanganyar, tepatnya di Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo. 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Di utara Kabupaten Karanganyar, ada sebuah hutan yang namanya beredar pelan, berbisik dari mulut ke mulut: Alas Krendowahono.

Dari luar tampak seperti hutan biasa sebaris pepohonan rimbun di jalur penghubung desa. Namun bagi warga sekitar, hutan itu bukan hanya ruang hijau.

Ia adalah batas tak terlihat, tempat di mana langkah manusia seharusnya berpikir dua kali sebelum melangkah lebih jauh.

Sejak lama, Alas Krendowahono dikenal sebagai wilayah bertuah.

Konon pada masa Mataram Islam, tempat ini menjadi tujuan para tokoh spiritual untuk bersemedi dan bertapa.

Ada pula yang percaya, hutan ini pernah menjadi tempat pelarian prajurit yang diburu musuh, menyimpan jejak-jejak perjalanan yang berakhir tanpa nisan dan tanpa nama.

Baca juga: Mengenal Hutan Krendowahono di Karanganyar, Tempat Keraton Surakarta Gelar Tradisi Mahesa Lawung

Di beberapa titik dalam hutan, warga meyakini berdiri makam keramat dan petilasan leluhur.

Tidak semua terlihat oleh mata manusia. Sebagian dianggap sebagai pintu ke alam lain, gerbang yang hanya terbuka bagi mereka yang “dipanggil”.

Yang membuat bulu kuduk meremang, mitosnya bukan sekadar cerita tua. Hingga hari ini, aturan-aturan tak tertulis masih dijaga ketat oleh penduduk Desa Krendowahono.

Larangan berbicara kasar, larangan membuang hajat sembarangan, larangan membawa pulang apa pun dari dalam hutan dan satu pantangan yang paling menakutkan:

Jangan menoleh ke belakang jika ada suara memanggil apalagi pada malam hari.

Mereka yang melanggar, dipercaya akan “diambil jalan”-nya. Tersesat. Hilang. Atau kembali bukan sebagai dirinya yang sama.

Kesaksian warga juga membuat reputasi hutan ini semakin kelam.

Penampakan perempuan berbaju putih sering terlihat berdiri di bawah pohon besar, hanya menatap, tanpa wajah yang jelas.

Sementara pohon Waru tua di dalam hutan dikenal sebagai pintu gaib, tempat keluar-masuknya makhluk tak kasatmata.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved