Fakta Menarik Tentang Solo

Kenapa Pisang Identik dengan Hantaran dan Dekor Pernikahan Adat Solo? Ini Penjelasannya

Mengapa pisang raja menjadi simbol dalam pernikahan? Berikut ulasan tentang makna dan filosofinya.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribun Jogja/Hendra Krisdianto
TARUB - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Pisang raja identik dengan unsur pernikahan di Solo Raya, baik untuk hantaran dan dekorasi, ternyata ini maknanya. 

Ringkasan Berita:
  • Pisang raja menjadi unsur wajib hantaran pernikahan Jawa karena rasanya paling manis, melambangkan kebahagiaan, kebesaran, dan harapan baik bagi kehidupan rumah tangga.
  • Pengemasannya harus setangkep atau sesisir dan diikat benang katun putih tanpa sambungan sebagai simbol doa, niat suci, dan permohonan anugerah Tuhan.
  • Pisang raja juga hadir dalam tuwuhan dan dekorasi tarub, bermakna harapan rumah tangga yang manis, sejahtera, serta keturunan yang berlimpah.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dalam tradisi pernikahan Jawa, khususnya di Solo Raya, hantaran pernikahan mengandung beberapa unsur wajib.

Salah satunya adalah pisang raja.

Nah, mungkin Tribuners bertanya-tanya kenapa sih pisang raja sering jadi salah satu syarat hantaran?

Selain hantaran, pisang raja juga dijadikan dekorasi tarub, hingga sebagai ornamen di samping kursi mempelai.

Baca juga: Penjelasan Kenapa Kartasura Masuk Wilayah Sukoharjo, Padahal Lebih Dekat dengan Solo

Mengapa pisang raja menjadi simbol dalam pernikahan? Berikut ulasan tentang makna dan filosofinya dikutip TribunSolo.com dari berbagai sumber.

Pisang Raja: Manis, Kebesaran, dan Harapan

Pisang raja dikenal memiliki rasa yang sangat manis, bahkan paling manis dibandingkan jenis pisang lainnya.

Murdijati Gardjito, guru besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa pisang raja dipilih karena kandungan gula yang tinggi, menjadikannya simbol kemanisan dalam kehidupan pernikahan.

"Pisang raja itu rasanya paling manis, karena kandungan gulanya paling tinggi," jelas Mur.

Lebih dari sekadar rasa manis, pisang raja melambangkan kebesaran, kebahagiaan, dan harapan baik untuk kedua mempelai.

Baca juga: Mengenal Upacara Pasang Tarub, Tradisi Jelang Pernikahan di Solo Raya yang Sarat Makna

Dalam budaya Jawa, pisang raja digunakan dalam hantaran sebagai doa dan harapan agar kehidupan pernikahan kedua mempelai dipenuhi dengan kebahagiaan dan keberkahan.

"Orang mengirim pisang raja itu untuk keperluan yang membutuhkan simbol kebesaran, kemanisan, kebahagiaan, dan harapan yang baik," tambah Mur.

TRADISI JELANG PERNIKAHAN - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro beberapa tahun lalu. Upacara pasang tarub sampai kini masih eksis di Solo Raya, Jawa Tengah, begini sejarahnya.
TRADISI JELANG PERNIKAHAN - Para abdi dalem keraton memasang tarub di Keraton Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Senin (21/10/2013). Prosesi ini merupakan bagian dari acara royal wedding antara GKR Hayu dan KPH Notonegoro beberapa tahun lalu. Upacara pasang tarub sampai kini masih eksis di Solo Raya, Jawa Tengah, begini sejarahnya. (TribunSolo.com/Tribun Jogja/Hendra Krisdianto)

Filosofi Pengemasan Pisang Raja dalam Hantaran

Penggunaan pisang raja dalam hantaran pernikahan tidak bisa sembarangan.

Setangkep pisang raja yang digunakan harus digantung atau disusun dalam bentuk yang mencerminkan harapan dan doa.

Menurut Mur, pisang raja dalam hantaran harus setangkep atau sesisir, yang melambangkan tangan yang menengadah ke atas, memohon anugerah dari Tuhan.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved