Musim Durian Klaten

Musim Durian di Klaten, Warga Panen Mandiri dan Buka Lapak Rumahan

Manisnya durian dirasakan warga Desa Randulanang, Jatinom Klaten. Mereka mulai merasakan hasil panen dari buah duren.

Tayang:
TribunSolo.com/Zharfan Muhana
DURIAN LOKAL. Pengunjung menikmati hasil panen warga Dukuh Dukuh, Desa Randulanang, Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten Sabtu (18/1/2026). Durian tersebut dijual rumahan. 

“Kalau di rumah itu hampir sudah empat tahunan ini, nggih. Sebelumnya pernah di jalan, terus kalau Ibu kan basic-nya (jualan) di pasar,” kata Wahyu.

Jenis durian yang disediakan di tempatnya mayoritas durian lokal, di antaranya jenis durian Petruk.

Cita rasa durian lokal, dijelaskan Wahyu, memiliki perpaduan rasa yang khas.

“Yang paling banyak dicari semua itu aku jual, yang paling banyak dicari tetap manis pahit,” ujarnya.

Setiap harinya, banyak pengunjung datang mencari buah durian, baik pada hari biasa maupun akhir pekan.

“Habisnya kemungkinan 60 sampai 70 di hari biasa. Kalau hari libur, misal Sabtu atau Minggu, bisa sampai 130 sampai 150 biji,” paparnya.

Ada Pengunjung dari Mancanegara

Pengunjung yang datang, dikatakan Wahyu, berasal dari kota sekitar hingga mancanegara.

“Dari Klaten ada, Solo Raya, tadi Jogja ada. Paling jauh dari Selandia Baru, tapi istrinya orang Sukoharjo. Dari Jepang kemarin, istrinya orang Cawas,” kata Wahyu.

“Sempat ke sini, nyicipin durian lokal,” imbuhnya.

Harga Mulai Rp 35 Ribu, Rasa Digaransi

Durian yang disediakan Wahyu diambil dari hasil panen warga sekitar yang dibawa ke tempatnya.

Harga yang dipatok untuk menikmati durian ini dikatakan masih sesuai standar.

Baca juga: Ngabuburit Unik, 300 Santri di Boyolali Ngaji di Alam Terbuka, Menunggu Adzan di Bawah Pohon Durian 

“Harga (durian) sendiri standar, kalau yang digaransi kita ada di harga Rp 35 ribu ke atas,” kata Wahyu.

Ada juga harga paket, seperti Rp 100 ribu mendapat tiga buah durian. Namun, stoknya tidak banyak.

Ia juga menjual durian super dengan harga yang mencapai ratusan ribu rupiah.

“Paling mahal ada di Rp 150 ribu. Ada yang Rp 250 ribu, tapi itu beratnya 8 kilo,” jelasnya.

Jam buka lapak Wahyu mulai pukul 08.00 WIB.

“Tutup sampai (mau) tidur,” ucapnya sambil tertawa kecil.

“Sampai enggak ada stok (tutup). Kalau masih ada stok, misal jam 22.00 belum tidur, masih kita layani,” tambahnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved