Perebutan Tahta Keraton Solo

Mengenal Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Sakral Setiap Idul Adha yang Tahun Ini Digelar Dua Kali

Tahun ini, dua kubu di internal Keraton Kasunanan Surakarta berencana menggelar Grebeg Besar atau Grebeg Suro pada tanggal berbeda.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
TRADISI IDULADHA - Para warga berebut gunungan saat Grebeg Besar Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (18/6/2024) di Masjid Agung Keraton Surakarta. Tahun ini, dua kubu di internal Keraton Kasunanan Surakarta berencana menggelar Grebeg Besar atau Grebeg Suro pada tanggal berbeda. 

Ringkasan Berita:
  • Dua kubu Keraton Solo akan menggelar Grebeg Besar Idul Adha 1447 H pada tanggal berbeda, yakni kubu PB XIV Purboyo pada 27 Mei 2026 dan kubu KGPHPA Tedjowulan bersama LDA pada 28 Mei 2026.
  • Kubu PB XIV menegaskan Grebeg merupakan dawuh raja, sementara pihak Tedjowulan menyebut tradisi grebeg lazim digelar sehari setelah Idul Adha dan mengajak semua pihak menjaga kerukunan.
  • Grebeg Besar menjadi tradisi budaya tahunan Solo dengan kirab gunungan hasil bumi menuju Masjid Agung Surakarta.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tradisi Grebeg Besar Keraton Surakarta kembali menjadi perhatian publik pada momentum Idul Adha 1447 Hijriah.

Tahun ini, dua kubu di internal Keraton Kasunanan Surakarta berencana menggelar Grebeg Besar atau Grebeg Suro pada tanggal berbeda.

Kubu Pakubuwono XIV Purboyo akan menggelar Grebeg Besar pada 27 Mei 2026.

Baca juga: Daging Sapi Kurban Milik Presiden Prabowo di Sukoharjo Disalurkan ke 3 Desa, Ada 450 Warga Penerima

Sementara kubu Pelaksana Keraton Solo KGPHPA Tedjowulan bersama Lembaga Dewan Adat (LDA) berencana mengadakan grebeg sehari setelahnya, yakni 28 Mei 2026.

Perbedaan jadwal tersebut kembali menunjukkan dinamika yang masih terjadi di internal Keraton Solo terkait pelaksanaan tradisi adat dan kewenangan kepemimpinan keraton.

Kubu PB XIV Pertanyakan Grebeg Versi Tedjowulan

Pengageng Sasana Wilapa PB XIV, GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mempertanyakan langkah Gusti Tedjo yang menggelar upacara adat tersendiri di luar agenda yang diperintahkan raja.

Menurutnya, seluruh prosesi adat keraton, termasuk Grebeg Besar dan upacara Suro, seharusnya dilaksanakan berdasarkan dawuh dalem atau perintah raja.

“Acara grebeg, gunungan, suro adalah acara keraton yang itu adalah perintah raja dawuh dalem. Dawuh dalem itu dari raja. Makanya saya bingung Gusti Tedjo bikin itu terus rajanya siapa. Kan Gusti Tedjo bukan raja,” ungkapnya saat ditemui di Talang Paten, Selasa (19/5/2026).

Baca juga: Sudah Jadi Tradisi di Solo Raya, Ini Bahaya Mencuci Jeroan Hewan Kurban di Sungai

Gusti Timoer juga menanggapi pernyataan pihak Tedjowulan yang sebelumnya meminta agar Grebeg Besar tidak dilaksanakan sendiri-sendiri demi menjaga kerukunan keluarga besar keraton.

“Loh ya bagus. Silakan. Gabunglah bersama kita. Kita kan ada rajanya,” katanya.

Ia menegaskan bahwa posisi Tedjowulan sebagai pelaksana revitalisasi budaya tidak berkaitan dengan suksesi tahta Keraton Surakarta.

“Kalau masalah beliau mendapatkan SK untuk revitalisasi pelestarian budaya, tidak menyinggung masalah suksesi.  Bahkan menterinya bicara juga SK itu tidak menyentuh suksesi,” jelasnya.

RAMAI - Suasana parkiran di area museum Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (24/3/2026). Lonjakan pengunjung Museum Keraton Kasunanan Surakarta mulai terlihat sejak hari pertama setelah Hari Raya Idul fitri 2026
RAMAI - Suasana parkiran di area museum Keraton Kasunanan Surakarta, Selasa (24/3/2026). (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Kubu Tedjowulan Tetap Gelar Grebeg 28 Mei

Sementara itu, melalui keterangan tertulis yang disampaikan juru bicara Pakoenegoro, pihak Tedjowulan memastikan tetap akan menggelar Grebeg Besar pada 28 Mei 2026.

Menurut mereka, tradisi grebeg memang lazim dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Idul Adha.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved