Tradisi Sadranan

Tradisi Sadranan Jelang Ramadhan, Jalan Cepogo Boyolali Sampai Macet

Warga Cepogo Kabupaten Boyolali gelar tradisi Sadranan menjelang bulan Ramdhan tahun ini.

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Andreas Chris Febrianto
TribunSolo.com/Tri Widodo
Warga Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali mulai menggelar tradisi Sadranan yang menandakan bulan suci Ramadhan telah dekat. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Cepogo Kabupaten Boyolali Gelar Tradisi Sadranan.
  • Tradisi Sadranan digelar beberapa hari menjelang Ramdhan.
  • Tak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga masyarakat luar daerah.

Laporan Wartawan TribunSo.com, Tri Widodo 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Dua pekan menjelang bulan suci Ramadhan, warga di lereng gunung Merapi dan Merbabu tepatnya di Kecamatan Cepogo menggelar tradisi Sadranan pada Rabu (4/2/2026).

Tradisi Sadranan digelar baik oleh warga setempat maupun warga luar daerah yang masih memiliki garis keturunan dari desa tersebut.

Tradisi ini dimulai dari kenduri di komplek makam untuk mendoakan para leluhur menjelang bulan Ramadan seperti terlihat di Makam Puroloyo, Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo.

Usai menggelar kenduri di kompleks makam keluarga, warga pun kemudian saling berkunjung ke rumah sanak maupun saudara yang ada di desa tersebut.

Dari pantauan TribunSolo.com di lokasi, saking banyaknya warga yang berkunjung, jalanan di Cepogo pun macet.

Di rumah yang dituju pun tak ada bahasan yang serius. hanya datang, kemudian diminta menyantap makanan yang dihidangkan.

Baca juga: Sadranan di Lereng Merapi-Merbabu, Warga Cepogo Boyolali Rayakan Tradisi Besar Jelang Ramadhan

Rumah-rumah warga sekitar pun juga telah menyiapkan hidangan dari berbagai jenis makanan ringan sampai makanan berat.

Sebagai informasi, tradisi Sadranan di Cepogo ini sendiri sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

Jadwal setiap dukuh pun ada yang sama dan ada juga yang berbeda. Penjadwalan hari Sadranan ini berdasarkan konsensus para orang tua yang memulai tradisi ini.

" Ya saya sendiri ga tau ya kapan mulai. Tapi sejak bapak saja ada, sudah ada tradisi ini," kata Saeri salah satu warga.

Dia mengaku sudah menjadi sadranan ini sudah ada sejak nenek moyang. Tujuannya agar hubungan keluarga semakin erat.

Baca juga: Sinergi Yayasan Al Abidin dan Yayasan Raden Umar Said Kudus Bangun Standar Pendidikan Internasional!

"Kita cuma datang, ngobrol bentar atau tanya kabar aja," tambahnya.

Pemilik tuan rumah biasanya juga akan berusaha mati-matian untuk membujuk tamunya agar bersedia makan.

Terlihat dari tamu yang makan biasanya cuma mengambil nasi sesendok dan lauk secukupnya. 

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved