Fakta Menarik Tentang Solo

Mengenal Tradisi Mendhem Ari-ari : Ritual Sakral Mengubur Plasenta Bayi di Solo Raya

Tradisi yang masih lestari di Solo Raya hingga kini adalah mendhem ari-ari, yakni prosesi mengubur ari-ari atau plasenta bayi setelah kelahiran.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Banjarmasinpost.co.id/Nurkholis Huda
MENDHEM ARI-ARI - Ilustrasi lokasi dikuburnya ari-ari atau plasenta. Di Solo Raya, Jawa Tengah, tradisi ini disebut dengan mendhem ari-ari, begini makna filosofinya. (banjarmasinpost.co.id/nurkholis huda) 
Ringkasan Berita:
  • Mendhem ari-ari adalah tradisi Jawa yang memandang kelahiran bayi sebagai peristiwa sakral. Ari-ari dikubur dengan ritual khusus sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi masa depan anak.
  • Prosesi dilakukan ayah bayi dengan kendil berisi ari-ari dan perlengkapan simbolis yang melambangkan sandang, pangan, ilmu, kesehatan, dan rezeki, lalu dipendam dan diberi lampu selama selapan.
  • Bersamaan digelar brokohan sebagai ungkapan syukur kelahiran, sementara di Boyolali tradisi ini dikenal sebagai Batir.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dalam budaya Jawa, termasuk Solo Raya, Jawa Tengah, kelahiran seorang bayi tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa biologis, tetapi juga peristiwa sakral yang sarat nilai spiritual dan simbolik.

Salah satu tradisi yang masih lestari di Solo Raya hingga kini adalah mendhem ari-ari, yakni prosesi mengubur ari-ari atau plasenta bayi setelah kelahiran.

Ari-ari dianggap memiliki peran penting karena selama dalam kandungan ia melindungi dan memberi nutrisi bagi janin.

Baca juga: Tradisi 315 Tahun Desa Ngreden Klaten, Legondo di Haul Ki Ageng Perwito Jadi Rebutan Demi Berkah

Oleh sebab itu, masyarakat Solo Raya memperlakukannya secara khusus melalui ritual mendhem ari-ari sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi masa depan sang anak.

Prosesi Mendhem Ari-ari dan Peran Sang Ayah

Dalam tradisi Jawa, prosesi mendhem ari-ari dilakukan oleh ayah sang bayi.

Saat menjalankan ritual ini, ayah diwajibkan mengenakan busana padintenan yang rapi, lengkap dengan nyamping dan blangkon gagrak Yogyakarta, sebagai simbol kesungguhan dan penghormatan.

Ari-ari yang telah dibersihkan hingga tidak lagi mengeluarkan darah dimasukkan ke dalam kendil, yaitu periuk kecil dari tanah liat.

Kendil dipilih karena melambangkan unsur tanah sebagai asal dan tujuan akhir kehidupan.

Suasana prosesi mitoni menantu pertama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati di Rumah Dinas Bupati Sragen, Sabtu (2/7/2022).
PROSESI MITONI - Suasana prosesi mitoni menantu pertama Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati di Rumah Dinas Bupati Sragen, Sabtu (2/7/2022). Selain mitoni, di Solo Raya juga ada tradisi mendhem ari-ari setelah sang bayi lahir. (Tribunsolo.com)

Kelengkapan Mendhem Ari-ari dan Makna Simboliknya

Selain ari-ari, kendil diisi dengan berbagai kelengkapan yang mengandung makna filosofis dan harapan bagi sang anak.

Beberapa di antaranya adalah kain mori, garam, jarum dan benang, kertas bertuliskan huruf Jawa–Latin–Arab, serta kembang sritaman.

Dalam beberapa versi, ditambahkan pula minyak wangi, kembang boreh, kunyit, kemiri, uang logam, lawe, beras, gereh pethek, hingga daun keladi.

Setiap benda memiliki simbol tersendiri

  • Garam, kemiri, beras, dan gereh pethek melambangkan pemenuhan kebutuhan pangan. Jarum dan benang menyimbolkan sandang.
  • Kertas bertuliskan berbagai aksara mencerminkan pentingnya ilmu pengetahuan.
  • Kunyit dan kembang boreh melambangkan obat atau penawar.
  • Sementara uang logam menjadi simbol harapan agar anak kelak pandai mencari rezeki.

Setelah seluruh kelengkapan dimasukkan, kendil ditanam ke dalam tanah sedalam lengan ayah.

Baca juga: Apa Itu Tumplak Punjen? Tradisi Sakral dalam Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya

Di atas lokasi pendeman dipasang lampu yang dinyalakan setiap malam selama 35 hari atau satu selapan, sebagai simbol penerang jalan hidup sang anak.

Tradisi Brokohan sebagai Penanda Kelahiran

Pada hari yang sama dengan prosesi mendhem ari-ari, masyarakat Jawa juga melaksanakan upacara brokohan.

Tradisi ini menjadi penanda bahwa seorang perempuan telah melahirkan.

Kata brokohan berasal dari bahasa Arab barokah yang berarti berkah, sehingga upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur dan doa agar bayi selalu dilimpahi keberkahan.

Brokohan tergolong upacara alit atau kecil, dengan sesaji yang sederhana namun sarat makna.

Sesaji utama berupa jenang tujuh macam (jenang neton), yakni jenang putih, merah, baro-baro, blowok, palang, sliring, serta jenang merah yang diberi sedikit jenang putih.

Jenang putih melambangkan ibu, jenang merah melambangkan ayah, dan perpaduannya menyimbolkan orang tua.

Tujuh jenang ini melambangkan harapan akan rezeki dan kebahagiaan yang melimpah.

Baca juga: Apa Itu Tingalan Jumenengan Mangkunegara X Solo? Peringatan Kenaikan Tahta Diiringi Tradisi Sakral

Sesaji Brokohan dan Tata Cara Pembagian

Selain jenang, brokohan juga dilengkapi dengan dhawet, telur ayam kampung mentah, kelapa yang dibelah dua, gula jawa, serta kembang sritaman yang dibungkus daun pisang.

Setelah didoakan, jenang tujuh macam boleh disantap dan dibagikan kepada orang-orang di lingkungan keraton.

Sementara sesaji lainnya dibagikan kepada kerabat atau tetangga di luar tembok keraton yang mewakili empat penjuru mata angin atau keblat papat.

Jumlah sesaji brokohan ditentukan berdasarkan hitungan Jawa, yakni penjumlahan nilai hari dan pasaran kelahiran bayi.

Setiap rangkaian sesaji yang dibagikan terdiri atas dhawet, telur ayam kampung, seperempat kelapa, gula jawa, dan kembang sritaman.

Saat mengantarkan sesaji, utusan juga menyampaikan kabar kelahiran kepada tuan rumah.

Baca juga: Mengenal Tradisi Ruwahan dan Sejarahnya, Ritual Budaya Sambut Ramadhan di Solo Raya

Tradisi Mendhem Ari-ari di Boyolali

Tradisi mendhem ari-ari juga masih dilestarikan di sejumlah daerah, salah satunya Desa Pulisen, Boyolali.

Masyarakat setempat meyakini ari-ari sebagai “kembaran” sang bayi ketika berada dalam kandungan dan dianggap berjasa menjaga kehidupan janin.

Ari-ari dibersihkan terlebih dahulu lalu dimasukkan ke kendil dari tanah liat.

Di dalam kendil dimasukkan pula kertas kosong, pensil, dan rokok, kemudian dibacakan doa oleh kakek, nenek, atau orang tua bayi agar kelak sang anak menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara.

Kedalaman Kubur dan Penerangan Ari-ari

Di Boyolali, kendil berisi ari-ari umumnya dikubur sedalam 50 sentimeter dan dilindungi dengan penutup seperti ember atau tenggok agar aman dari hujan.

Di atasnya dipasang lampu penerangan yang diusahakan menyala terus, minimal selama selapan atau bahkan hingga satu tahun.

Lampu dipercaya sebagai simbol penerang agar anak tidak “bingung” dalam menjalani kehidupan.

Namun, terdapat pula variasi kepercayaan.

Ada kepercayaan yang menyebut ari-ari sebaiknya tidak dikubur terlalu dalam, maksimal 30 sentimeter, agar pertumbuhan gigi anak kelak lebih cepat.

Ritual ini di Boyolali dikenal dengan sebutan Batir.

Selain itu, posisi penguburan ari-ari juga dibedakan berdasarkan jenis kelamin bayi.

Untuk bayi laki-laki, ari-ari dikubur di sisi kanan depan pintu rumah, sedangkan untuk bayi perempuan di sisi kiri.

Penentuan letak ini dipercaya membawa keseimbangan dan kebaikan bagi kehidupan sang anak.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved