Fakta Menarik Tentang Solo
Mengenal Tradisi Ruwahan dan Sejarahnya, Ritual Budaya Sambut Ramadhan di Solo Raya
Istilah Ruwahan berasal dari kata Arab arwah yang berarti roh atau jiwa.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Ruwahan adalah tradisi Jawa menjelang Ramadhan untuk mendoakan leluhur, dikenal juga sebagai nyadran, dan rutin digelar pada bulan Ruwah atau Syaban.
- Di Solo Raya, Ruwahan dilakukan lewat ziarah makam, doa bersama, kenduri, dan berbagi makanan sebagai wujud gotong royong dan rasa syukur.
- Sajian khas seperti ketan, apem, dan kolak sarat makna filosofis serta menjadi sarana refleksi dan persiapan spiritual menyambut Ramadhan.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa di wilayah Solo Raya masih setia melestarikan tradisi Ruwahan.
Dalam kalender Jawa, 1 Ruwah 1959 Dal atau 1 Syaban 1447 H jatuh pada Selasa (20/1/2026) lalu.
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual budaya, namun juga menjadi sarana spiritual untuk mengenang leluhur, mempererat kebersamaan, sekaligus mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah.
Sampai sekarang Ruwahan tetap hidup di tengah masyarakat, terutama di lingkungan pedesaan maupun kampung-kampung di Kota Solo dan sekitarnya.
Baca juga: Keracunan Massal Tawangsari Sukoharjo, 28 Warga Alami Diare, Usai Santap Daging Kambing Ruwahan
Apa Itu Tradisi Ruwahan?
Istilah Ruwahan berasal dari kata Arab arwah yang berarti roh atau jiwa.
Mengutip berbagai sumber kajian budaya Jawa, Ruwahan dimaknai sebagai tradisi untuk mengenang dan mendoakan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia.
Di Pulau Jawa, tradisi ini juga dikenal dengan sebutan nyadran.
Ruwahan biasanya dilaksanakan setahun sekali pada bulan Ruwah atau Syaban dalam kalender Hijriah, umumnya dimulai sejak pertengahan bulan, sekitar tanggal 15 Ruwah, atau sekitar satu bulan sebelum Ramadhan.
Baca juga: Mengenal Sosok Soehadi Prijonegoro yang Dijadikan Nama RSUD Sragen, Dulu Jadi Dokter Raja Surakarta
Ruwahan di Solo Raya: Warisan Budaya yang Terjaga
Di sebagian wilayah Solo Raya, Ruwahan masih dijalankan dengan penuh kekhidmatan.
Warga berkumpul untuk berdoa bersama, menggelar kenduri, serta berbagi sedekah makanan kepada tetangga dan kerabat.
Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan kesetaraan sosial, di mana semua lapisan masyarakat duduk bersama tanpa membedakan status.
Selain mendoakan leluhur, Ruwahan juga menjadi momentum untuk memohon ampunan kepada Tuhan serta mensyukuri nikmat rezeki dan keselamatan yang telah diterima sepanjang tahun.
Baca juga: Kembar Mayang Surakarta jadi Warisan Takbenda, Elemen Penting Sarat Makna di Pernikahan Adat Jawa
Prosesi Tradisi Ruwahan
Rangkaian Ruwahan biasanya diawali dengan kegiatan membersihkan makam leluhur.
Warga datang berziarah sambil membawa kembang setaman, kemenyan, atau setanggi.
| Kota Solo Raih Predikat Kota Paling Maju di Indonesia Nomor 1, Ini Faktor-faktor Penilaiannya |
|
|---|
| 12 Mitos Pernikahan yang Masih Dipercaya Sebagian Masyarakat Solo, Ada Istilah 'Kebo Balik Kandang' |
|
|---|
| Kisah di Balik 'The Spirit of Java' yang jadi Slogan Kota Solo, Ini Sosok Penciptanya |
|
|---|
| 7 Mitos Beli Rumah yang Masih Banyak Dipercaya Warga Solo Raya, Ini Faktanya |
|
|---|
| Mudah di Temukan di Angkringan Solo, Tempe Gembus Ternyata Simpan Nilai Sejarah dan Budaya Tinggi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/tradisi-ruwahan-di-Mandak-Klaten.jpg)