Sritex Tutup Permanen

Ketidakjelasan Pesangon Bikin Eks Karyawan Sritex Sukoharjo Harus Jual Barang Berharga Hingga Motor

Mulai dari sepeda motor hingga aset pribadi lainnya dilepas eks karyawan Sritex demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Tayang:
TribunSolo.com/Anang Ma'ruf
SULIT CARI KERJA. Lina Damayanti, salah satu mantan karyawan PT Sritex Sukoharjo yang telah bekerja selama delapan tahun di bagian Inspecting Weaving III, saat ditemui di Pabrik Sritex, Jumat (7/3/2025). Lina yang menjadi satu dari ribuan buruh Sritex Grup yang di-PHK massal per 1 Maret, mengungkapkan kesulitan mencari pekerjaan baru lantaran terpentok usia yang tak lagi muda. 
Ringkasan Berita:
  • Dari total 8.475 eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang terdampak PHK massal, sekitar 60 persen di antaranya hingga kini disebut belum kembali bekerja.
  • Mayoritas berada pada usia yang dinilai sudah tidak lagi produktif di pasar kerja, sehingga kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.
  • Sebagian terpaksa menjual barang-barang berharga untuk bertahan hidup, mulai dari sepeda motor hingga aset pribadi lainnya dilepas demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dari total 8.475 eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang terdampak PHK massal, sekitar 60 persen di antaranya hingga kini disebut belum kembali bekerja.

Mayoritas berada pada usia yang dinilai sudah tidak lagi produktif di pasar kerja, sehingga kesulitan mendapatkan pekerjaan baru.

SUASANA PABRIK SRITEX. Lima hari setelah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) Sukoharjo resmi tutup permanen, suasana di sekitar pabrik kini tampak lengang dan sepi, Selasa (4/3/2025). Diketahui, ribuan buruh telah di-PHK dari Sritex Grup per 1 Maret 2025, dan pabrik Sritex tak lagi beroperasi.
SUASANA PABRIK SRITEX. Lima hari setelah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) Sukoharjo resmi tutup permanen, suasana di sekitar pabrik kini tampak lengang dan sepi, Selasa (4/3/2025). Diketahui, ribuan buruh telah di-PHK dari Sritex Grup per 1 Maret 2025, dan pabrik Sritex tak lagi beroperasi. (TribunSolo.com/Anang Ma'ruf)

Koordinator Forum Eks Karyawan Sritex, Agus Wicaksono menyebut kondisi ini menjadi salah satu alasan utama mengapa perjuangan pencairan pesangon dan tunjangan hari raya (THR) terus didorong.

Sebab, bagi sebagian besar mantan pekerja, pesangon bukan sekadar hak normatif, tetapi menjadi harapan untuk modal usaha demi menyambung hidup.

Baca juga: Eks Buruh Sritex Sukoharjo Sebut Kurator Tak Transparan, Bantah Ada Komunikasi Intens via Website

“Memang masih sekitar 60 persen belum bisa bekerja lagi karena usia yang sudah non-produktif. Mereka mau berusaha apa pun, kalau tidak ada modal juga repot,” ujar Agus, Jumat (27/2/2026).

Ia mengungkapkan, secara informasi yang dihimpun dari sesama eks karyawan, ada yang terpaksa menjual barang-barang berharga untuk bertahan hidup.

Mulai dari sepeda motor hingga aset pribadi lainnya dilepas demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Secara pribadi saya tidak melihat satu per satu, tapi dari informasi teman-teman memang sudah ada yang menjual harta bendanya, motor dan sebagainya, untuk bertahan hidup,” ungkapnya.

Kondisi tersebut dinilai semakin mempertegas urgensi pencairan pesangon.

Baca juga: Pesangon dan THR Tunggu Lelang Kendaraan Tuntas, eks Buruh Sritex Sukoharjo : Baru 5 Unit yang Laku

Forum menegaskan, sekitar 60 persen eks karyawan yang masih menganggur inilah yang menjadi fokus perjuangan mereka, agar hak pesangon segera diterima dan dapat dimanfaatkan sebagai modal kerja atau usaha kecil.

Menurutnya, semakin lama proses pencairan tertunda, semakin berat beban ekonomi yang harus ditanggung para mantan buruh dan keluarganya.

Mereka pun berharap ada percepatan penyelesaian hak agar para eks karyawan bisa segera bangkit dan memulai kehidupan baru. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved