Kerajinan Tangan Boyolali

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Anyaman Bambu Tradisional Boyolali, Ketekunan di Tengah Keterbatasan

Mbah Ayem, perajin tenggok Boyolali, tetap membuat anyaman bambu tradisional di usia lanjut.

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
TribunSolo.com/Tri Widodo
TENGGOK TRADISIONAL - Proses pembuatan tenggok di Kampung tenggok Dukuh Sembung, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Boyolali. Keranjang tradisional itu dibuat tanpa mesin atau alat modern. 

Ringkasan Berita:
  • Mbah Ayem, perajin lansia di Dukuh Sembung, Boyolali, tetap membuat tenggok tradisional dari bambu.
  • Proses anyaman dilakukan manual tanpa mesin, mulai dari membelah bambu hingga merangkai bilah-bilah tipis.
  • Usia lanjut tak menghalangi Mbah Ayem menjaga warisan budaya, meski produksi tenggok sehari hanya 1-2 buah.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Di antara rumah tembok yang kokoh, terselip sebuah rumah kayu kecil dan sederhana.

Di sanalah, Mbah Ayem, seorang nenek lansia, tampak sibuk dengan pekerjaan tradisionalnya: membuat tenggok, keranjang bambu khas Boyolali.

Dengan mulut tersumpal tembakau, tangannya terus menyengam bilah bambu.

Pemandangan ini terlihat di Dukuh Sembung, Desa Canden, Kecamatan Sambi, sebuah lokasi yang masih mempertahankan tradisi anyaman bambu secara manual.

Keranjang tradisional itu dibuat tanpa mesin atau alat modern. Hanya dibutuhkan pisau kecil, bambu, kesabaran, dan ketelitian dari tangan-tangan renta yang setia menjaga budaya ini.

Lansia dan Janda Tua yang Setia Menjaga Tradisi

Di hampir setiap sudut dukuh, wartawan TribunSolo.com menjumpai para perajin.

Mayoritas adalah lansia dan janda tua yang duduk di lantai tanah dengan alas seadanya. Mereka terus menganyam bambu, meski usia tak lagi muda.

Salah satunya adalah Mbah Ayem, nenek 11 cucu yang terlihat tenang dan lincah saat membelah bambu menjadi bilah-bilah tipis.

“Sudah dari muda saya buat tenggok. Dulu buatnya sama suami. Sekarang saya sendiri, karena suami sudah meninggal. Sudah 1000 hari,” ujarnya sambil tersenyum, saat ditemui beberapa waktu lalu.

TENGGOK TRADISIONAL - Proses pembuatan tenggok di Kampung tenggok Dukuh Sembung, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Boyolali. Keranjang tradisional itu dibuat tanpa mesin atau alat modern.
TENGGOK TRADISIONAL - Proses pembuatan tenggok di Kampung tenggok Dukuh Sembung, Desa Canden, Kecamatan Sambi, Boyolali. Keranjang tradisional itu dibuat tanpa mesin atau alat modern. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Cara Tradisional Membuat Tenggok

Bagi Mbah Ayem, membuat tenggok bukan hal sulit, meski memerlukan kesabaran tinggi.

Proses dimulai dari memotong bambu sesuai ukuran.

Untuk rangka utama, bambu dipotong sepanjang 1 meter, sementara untuk anyaman dipotong 50 sentimeter.

Selanjutnya, bambu dibilah: rangka utama menjadi bilah lebar 3 cm, dan anyaman menjadi bilah lebar 1 cm.

Bilahan-bilahan ini kemudian dikumpulkan dalam jumlah banyak sebelum dirangkai.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved