Dugaan Pelecehan Seksual Dosen UIN
Beberapa Korban Dugaan Pelecehan Dosen UIN Solo Mulai Speak Up, Ada yang Tunjukkan Bukti Chat
Dugaan pelecehan seksual oknum dosen UIN Surakarta mencuat, korban sebut ada 10 mahasiswi.
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen UIN Raden Mas Said Surakarta mencuat setelah mantan mahasiswi mengaku ada sekitar 10 korban.
- Sejumlah mahasiswi disebut berani menunjukkan bukti chat, sementara lainnya mengaku pesan sudah dihapus karena takut dan trauma.
- Dugaan kasus ini juga berdampak pada proses skripsi mahasiswa, bahkan ada yang menghentikan konsultasi berbulan-bulan karena merasa tidak nyaman.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dugaan kasus pelecehan seksual yang menyeret seorang oknum dosen di UIN Raden Mas Said Surakarta.
Seorang mantan mahasiswi berinisial P mengungkapkan, jumlah korban diduga lebih dari satu orang dan kini mulai berani angkat bicara.
Menurut P, setelah isu tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah mahasiswi mulai menghubunginya dan menceritakan pengalaman serupa yang diduga melibatkan dosen tersebut.
Korban Diduga Lebih dari Satu Orang
P menyebut, berdasarkan cerita dan bukti percakapan yang diterimanya, terdapat sekitar 10 mahasiswi yang diduga menjadi korban.
“Korban ternyata banyak. Setelah ramai di medsos ada sekitar 10 mahasiswi yang berani cerita dan menunjukkan bukti chat, ada juga yang hanya bercerita karena pesan-pesannya sudah dihapus,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Ia mengatakan, sebagian korban mengaku masih menyimpan bukti percakapan, sementara lainnya sudah menghapus pesan karena merasa takut atau trauma.
Mahasiswa Disebut Takut Konsultasi Skripsi
Tak hanya berdampak secara psikologis, dugaan kasus tersebut juga disebut memengaruhi aktivitas akademik mahasiswa, terutama yang berada dalam bimbingan dosen terkait.
P mengungkapkan, ada mahasiswa yang memilih menghentikan sementara konsultasi skripsi selama berbulan-bulan karena merasa tidak nyaman dan takut.
“Ada mahasiswa bimbingan yang sampai tidak konsultasi skripsi berbulan-bulan karena takut,” ungkapnya.
Situasi itu, menurutnya, membuat sebagian mahasiswa merasa khawatir ketika harus berinteraksi langsung dalam proses bimbingan akademik.
Baca juga: Dugaan Pelecehan Dosen UIN Raden Mas Said Solo, Mantan Mahasiswi Ngaku Disentuh Saat Sidang Skripsi
Korban Berharap Kampus Bertindak Tegas
Meski kasus dugaan pelecehan seksual tersebut telah ramai dibahas di media sosial, P mengaku belum berencana membawa persoalan itu ke jalur hukum.
Namun, ia meminta pihak kampus tidak menutup mata dan segera mengambil langkah tegas terhadap terduga pelaku apabila dugaan tersebut terbukti benar.
Menurutnya, jika kasus serupa memang telah terjadi berulang kali, sanksi ringan seperti teguran tidak cukup memberikan efek jera.
“Kalau sudah berkali-kali terjadi, rasanya teguran saja tidak cukup,” tandasnya.
P juga berharap kampus mampu memberikan perlindungan serta rasa aman bagi seluruh mahasiswa agar kasus serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pendidikan.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ilustrasi-seorang-anak-di-lampung-hampir-merudapaksa-ibu-kandungnya-tidak-terima-ditegur-ggdgg.jpg)