Fakta Menarik Tentang Klaten

Sejarah Angkringan atau Wedangan, Bukan dari Solo atau Jogja tapi Klaten

Di Solo, angkringan ini mudah dijumpai di pinggir jalan besar, gang kampung, hingga dekat pusat keramaian.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Zharfan Muhana
MAKANAN ANGKRINGAN - Warung angkringan di tepi Jalan Sunan Pandanaran, Dukuh Ngaren, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, milik pasutri Suhardi (80) dan Tugiyem (75). Beginilah sejarah angkringan. 

Ringkasan Berita:
  • Angkringan atau HIK yang populer di Solo dan Yogyakarta berawal dari Desa Ngerangan, Bayat, Klaten. Perintisnya adalah Karso Djukut (Mbah Djukut) yang merantau ke Solo pada 1930-an untuk ari penghidupan.
  • Berawal berdagang terikan, Mbah Djukut kemudian memodifikasi dagangannya dengan pikulan berisi makanan dan minuman. Karena pembeli biasa menikmati hidangan sambil “nangkring”, lahirlah istilah angkringan.
  • Sejak 1950-an, angkringan berkembang dari Solo ke Yogyakarta dan berbagai daerah di Jawa.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pemandangan di Solo, Jawa Tengah, nyaris sama dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di mana, mudah menemukan wedangan atau angkringan.

Di Solo, angkringan ini mudah dijumpai di pinggir jalan besar, gang kampung, hingga dekat pusat keramaian.

Baca juga: Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Rabu 10 Juni 2026 : Rute Stasiun Palur - Stasiun Tugu Yogyakarta

Ciri khasnya para penjual ini menggunakan gerobak kayu untuk berdagang dengan anglo buat merebus air.

Mereka menjajakan nasi kucing, aneka sate-satean, gorengan, dan tentu saja wedang teh khas Solo.

Wedangan di Solo atau yang biasa disebut HIK buka beragam waktu, ada yang buka pagi, siang, maupun malam hari.

Nah, di balik popularitas wedangan atau HIK, ternyata cikal bakal usaha tersebut lahir dari sebuah desa bernama Ngerangan, yang kini berada di Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

Tokoh yang merintis usaha angkringan adalah Karso Djukut, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Djukut.

Baca juga: Sejarah Kirab Malam 1 Suro di Solo : Berawal Pakubuwono X Berkeliling Tiap Selasa dan Jumat Kliwon

Awal Perantauan Mbah Djukut

Mulanya, Mbah Djukut merantau dari Ngerangan ke Solo sekitar tahun 1930-an untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Menurut Gunadi alias Gugun, penggagas Desa Cikal Bakal Angkringan Ngerangan, kondisi desa yang gersang dan bergantung pada sawah tadah hujan membuat warga Ngerangan terdorong untuk merantau.

Sawah tadah hujan adalah lahan yang memiliki pematang namun tidak bisa diairi secara konsisten dan bergantung sepenuhnya pada curah hujan

 “Rata-rata masyarakat pergi ke kota,” ujar Gugun saat ditemui di Museum Angkringan Ngerangan, Sabtu (30/5/2026).

IKON KLATEN - Monumen angkringan di Desa Ngerangan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Begini asal-usul Desa Ngerangan jadi cikal bakal lahirnya angkringan yang melegenda.
IKON KLATEN - Monumen angkringan di Desa Ngerangan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Begini asal-usul Desa Ngerangan jadi cikal bakal lahirnya angkringan yang melegenda. (Tribunnews.com/ngerangan.bayat.klaten.go.id)

Perjumpaan dengan Mbah Wono di Solo

Djukut termasuk warga yang merasakan kerasnya kehidupan desa.

Setelah ayahnya meninggal, Djukut yang baru berusia 15 tahun memutuskan merantau untuk membantu perekonomian keluarga. Dengan bekal seadanya, ia berjalan kaki menuju Laweyan, Solo sekitar tahun 1930.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved