Fakta Menarik Tentang Klaten
Asal-usul Nama Desa Ngolodono, Karangdowo, Klaten : Ada Legenda Ki Ageng Bantaran Angin
Tokoh tersebut dikenal sebagai Pangeran Bentar atau Ki Ageng Bantaran Angin, murid dari Sunan Kalijaga melalui Ki Ageng Suto Wijoyo.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Desa Ngolodono (Ngaladana) di Karangdowo, Klaten, sudah ada sejak sekitar 1900-an dan berjarak ±25 km dari Solo, dengan sejarah lisan kuat dari para sesepuh desa.
- Nama Ngolodono diyakini berasal dari kisah Ki Ageng Bantaran Angin pada masa Demak Bintoro yang berperan menyebarkan Islam, dibantu Naga Biru, hingga dikenal juga sebagai Syech Qubro.
- Desa ini memiliki sejarah pemerintahan panjang dengan beberapa kepala desa serta warisan budaya kuat, dan dikelilingi destinasi wisata.
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Desa Ngolodono merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Dalam bahasa Jawa, desa ini juga dikenal dengan sebutan Ngaladana.
Sejak awal berdirinya pada sekitar tahun 1900-an, Ngolodono berkembang menjadi wilayah pemerintahan desa yang memiliki sejarah panjang serta cerita turun-temurun dari para sesepuhnya.
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Jogging di Solo yang Nyaman Selain Stadion Manahan, Olahraga Sambil Cuci Mata
Lokasinya berjarak 25 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1 jam kendaraan pribadi.
Asal-usul Nama Ngolodono
Menurut penuturan para pini sepuh, nama Ngolodono berasal dari kisah pada masa Kerajaan Demak Bintoro.
Dikisahkan, Sultan Trenggono mengutus seorang senopati ke wilayah timur untuk mencari saudara seperguruan sekaligus membuka lahan penyebaran agama Islam.
Tokoh tersebut dikenal sebagai Pangeran Bentar atau Ki Ageng Bantaran Angin, murid dari Sunan Kalijaga melalui Ki Ageng Suto Wijoyo.
Dalam pelariannya dari pengejaran pasukan Kerajaan Kediri, beliau bersembunyi dengan menanam rumput kolojhono.
Dari peristiwa inilah nama Ngolodono dipercaya berasal, yang kemudian diwariskan hingga sekarang dan menjadi identitas desa.
Baca juga: 3 Aktivitas Seru yang Bisa Dilakukan di Candi Plaosan Klaten : Spot Terbaik Berburu Foto Estetik
Peran Tokoh Penyebar Islam
Dalam perjalanan dakwahnya, Ki Ageng Bantaran Angin dibantu oleh seorang cantrik bernama Naga Biru.
Selain menyebarkan ajaran Islam, beliau juga membangun sebuah masjid di wilayah tersebut.
Namun, menurut cerita masyarakat, masjid itu kemudian “dipindahkan” secara spiritual dengan kesaktian ke Gunung Majasto, Tawangsari, Sukoharjo, tempat Ki Ageng Sutowijoyo juga menyebarkan Islam.
Atas perannya dalam penyebaran agama, beliau juga dikenal dengan gelar Syech Qubro.
Hingga akhir hayatnya, Ki Ageng Bantaran Angin dimakamkan di Dukuh Bitaran, Desa Ngolodono, Karangdowo, Klaten.
Baca juga: 5 Ide Makanan Sehat Rp10 Ribuan untuk Bisnis Kuliner di Solo, Punya Peluang Besar
Perkembangan Pemerintahan Desa
| Sejarah Angkringan atau Wedangan, Bukan dari Solo atau Jogja tapi Klaten |
|
|---|
| Asal-usul Desa Ketandan di Klaten : Dulu Pusat Pemerintahan Kolonial, Jejaknya Masih Ada |
|
|---|
| Asal-usul Nama Desa Ngandong di Gantiwarno Klaten : Ada Legenda Ki Ageng Giring, Dulu Hunian Kusir |
|
|---|
| Asal-usul Nama Desa Krecek di Delanggu Klaten : Dulu Ada Dua Kelompok yang Saling Berselisih |
|
|---|
| Asal-usul Nama Desa Soropaten di Karanganom Klaten : Ada Kisah Senopati di Era Pangeran Diponegoro |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Tampak-depan-Kantor-Desa-Ngolodono-di-Karangdowo.jpg)