Kenaikan Harga BBM
Harga BBM Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Antrean Pertalite Mengular di SPBU se-Solo Raya
Pemandangan antrean panjang terlihat di berbagai SPBU wilayah Solo Raya, mulai Solo, Klaten, Sukoharjo, Boyolali hingga Wonogiri.
Penulis: Tribun Network | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
"Untuk Pertamax 92 masih ada yang beli juga, mungkin karena masih pengenalan harga juga. Harga baru kan terkadang masyarakat tidak terlalu update. Saat pengisian baru tahu kalau ada kenaikan harga," terangnya.
Ia memastikan stok Pertalite di SPBU Jombor masih aman meski permintaan meningkat. Pihaknya juga belum melihat adanya tanda-tanda penambahan stok Pertalite dalam waktu dekat.
"Untuk kuota sendiri sebetulnya sudah ditentukan Pertamina. Jadi untuk per bulan sudah ada kuotanya masing-masing, penjualannya per hari itu berapa. Untuk Pertalite sendiri alhamdulillah sementara ini cukup stok," jelasnya.
Panen Keluhan Warga
Kenaikan harga Pertamax yang tiba-tiba ini ternyata menuai banyak keluhan warga. Warga Pasar Kliwon Solo, Dimas Harjo (42), mengaku terkejut dengan lonjakan harga hampir Rp4 ribu per liter tersebut.
“Cukup kaget soalnya kemarin saya ngisi masih harga segitu, terus hari ini ternyata sudah naik hampir Rp 4 ribu per liter,” ungkap Dimas.
Menurutnya, selama ini ia memang rutin menggunakan Pertamax demi menjaga performa sepeda motornya.
“Sebetulnya kalau dibilang terdampak kita ya terdampak, meskipun kita pengguna pertamax satu sisi memang untuk perawatan kendaraan yang saya pakai,” lanjut Dimas.
Ia pun mulai mempertimbangkan beralih ke jenis BBM lain dan berharap pemerintah melakukan evaluasi terhadap kenaikan harga tersebut.
“Ya perlu dievaluasi juga karena akhir-akhir ini kondisi ekonomi di Indonesia secara luas memang belum stabil,” katanya.
Baca juga: Imbas Harga BBM Pertamax Naik, OPD Klaten Tak Lagi Pakai Mobil Dinas, Bakal Ganti Bus Sekolah
Keluhan serupa datang dari warga Wonogiri bernama Yanto yang mengaku kenaikan harga Pertamax semakin memberatkan pengeluaran rumah tangga.
“Memberatkan, kalau motor pakai Pertamax. Bisanya pasrah, BBM itu termasuk kebutuhan pokok. Naiknya terlalu tinggi, hampir Rp4.000,” ujarnya.
Sementara Ani, warga lainnya, mengaku tetap memilih Pertamax karena tidak ingin terjebak antrean panjang Pertalite.
“Saya biasanya pakai Pertamax, biasanya beli Rp30 ribu. Nanti tetap pakai Pertamax, mau bagaimana lagi adanya itu. Kalau Pertalite dari dulu kan antrinya panjang terus, menghemat waktu makanya beli Pertamax,” katanya.
Namun menurut Ani, kenaikan harga kali ini terasa mendadak karena minim sosialisasi kepada masyarakat.
“Kenaikannya tanpa sosialisasi, mengagetkan. Jauh-jauh hari tidak ada kabar, jadi kaget,” imbuhnya.
| Pemandangan Sore di SPBU Klaten, Antrean Pengisi Pertalite Mengular |
|
|---|
| Enggan Beralih ke Pertalite, Pengguna Pertamax di Solo Berharap Harga Segera Turun |
|
|---|
| Imbas Harga BBM Pertamax Naik, OPD Klaten Tak Lagi Pakai Mobil Dinas, Bakal Ganti Bus Sekolah |
|
|---|
| Kondisi SPBU Tempursari Boyolali, Hanya 3 Kendaraan Isi Pertamax dalam 30 Menit |
|
|---|
| Batas Pembelian Pertalite SPBU Jombor Sukoharjo Maksimal 10 Liter per Transaksi, Ini Penjelasannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Antrean-panjang-Solo.jpg)