Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Baceman, Kuliner yang Eksis di Solo : Teknik Memasak Jadul dan Pernah jadi Simbol Kemiskinan

Mulai dari tahu bacem, tempe bacem, ayam bacem, dan baceman lainnya masih mudah dijumpai di Kota Solo.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Sajian Sedap
KULINER LEGENDARIS SOLO - Tahu bacem, salah satu kuliner legendaris di Solo, Jawa Tengah. Beginilah sejarah baceman yang merupakan teknik memasak jadul. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Aneka baceman saat ini menjadi kuliner yang masih eksis di Kota Solo, Jawa Tengah.

Mulai dari tahu bacem, tempe bacem, ayam bacem, dan baceman lainnya masih mudah dijumpai di Kota Solo.

Namun, tahukah Tribuners bagaimana sejarah baceman ini hingga menjadi kuliner legendaris di Solo?

Baca juga: Mengenal Sejarah Pasinaon Dalang Mangkunegaran, Sekolah Dalang di Solo yang Berdiri Sejak Tahun 1950

Asal Usul Baceman

Istilah bacem berasal dari bahasa Jawa yang berarti "direndam" atau "diasinkan".

Teknik ini diperkirakan telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan kuno di Jawa, khususnya pada abad ke-8 hingga 9 Masehi

 Kala itu, masyarakat belum memiliki teknologi pendingin, sehingga membacem menjadi solusi cerdas untuk mengawetkan bahan makanan.

Namun, dalam catatan sejarah yang berkembang, bacem juga dikenal sebagai simbol kemiskinan di masa kolonial Belanda.

Baca juga: Sejarah Gudangan atau Urap, Kuliner Tradisional Masih Eksis di Solo Raya, Sudah Ada Sejak Abad ke-10

Saat kebijakan tanam paksa diberlakukan pada abad ke-19, masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta dipaksa menanam tebu. Gula merah pun melimpah dan menjadi bahan masakan murah yang banyak digunakan rakyat jelata.

Dari kondisi inilah baceman berkembang sebagai hasil dari keterbatasan, kreativitas, dan keinginan untuk tetap makan enak meski dengan bahan sederhana.

Proses memasak baceman dilakukan dengan cara merebus bahan makanan seperti tahu, tempe, ayam, telur, atau daging dalam air yang dibumbui dengan kecap manis, gula merah, bawang putih, bawang merah, daun salam, lengkuas, dan ketumbar.

 

Rebusan ini dibiarkan hingga air menyusut dan bumbu meresap ke dalam bahan makanan, menciptakan cita rasa yang khas: manis, gurih, dan sedikit karamel.

Bawang putih menjadi bumbu kunci yang memperkuat aroma dan rasa bacem.

Beberapa daerah juga menambahkan rempah lokal agar cita rasanya makin kaya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved