Fakta Menarik Tentang Solo

Sejarah Sasana Mulya Solo yang Telah Berdiri Sejak Pemerintahan Pakubuwono IV

Sasana Mulya juga menjadi ruang bagi pertunjukan budaya, seperti ringgit wayang kulit, maupun acara resepsi keluarga besar keraton.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
Istimewa
Kondisi terkini Sasana Mulya setelah dilakukan pembenahan. 

TRIBUNSOLO.COM - Ndalem Sasana Mulya merupakan salah satu bangunan penting di lingkungan Keraton Surakarta.

Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV.

Kerabatnya Keraton Surakarta KPH Eddy Wirabhumi mengatakan, Ndalem Sasana Mulya didirikan pada masa pemerintahan PB IV sekitar tahun 1788-1820.

Setelah berdiri, tempat ini kemudian menjadi kediaman Pangeran Adipati Hangabehi, putra PB IV dari selir Mas Ayu Ratnasari.

Sejak awal, Sasana Mulya memiliki peran istimewa bagi keluarga besar keraton.

Baca juga: Sejarah Pasar Triwindu Solo, Berdiri Sejak Tahun 1939 Diresmikan oleh KGPAA Mangkunegara VII

Gedung ini kerap digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara penting, mulai dari pernikahan para gusti dan kerabat keraton, hingga sebagai lokasi penyemayaman jenazah keluarga keraton.

Sasana Mulya
Sasana Mulya (TribunSolo.com)

Selain itu, Sasana Mulya juga menjadi ruang bagi pertunjukan budaya, seperti ringgit wayang kulit, maupun acara resepsi keluarga besar keraton.

Dengan kata lain, gedung ini berfungsi sebagai balai pertemuan keluarga raja, baik dalam suasana suka cita maupun duka cita.

Menurut catatan resmi Pemerintah Kota Surakarta, Ndalem Sasana Mulya memang diperuntukkan sebagai tempat tinggal bagi para putra raja.

Dari segi arsitektur, bangunan ini mencerminkan kelengkapan tata ruang rumah tradisional Jawa, yang terdiri dari empat unsur utama: pendopo, pringgitan, ndalem, dan gandhok.

Pendoponya berbentuk joglo dengan 36 saka (tiang penyangga), sementara bagian pringgitan memiliki ciri atap limasan dengan 8 saka.

Keunikan lain terlihat pada tiang-tiang bangunan yang tidak dibuat dengan teknik ketam halus, melainkan dengan cara dipethel atau ditatal menggunakan kampak, sehingga memberikan kesan khas dan otentik pada bangunan ini.

Baca juga: Sejarah Monumen Tanah Kritis di Jumantono Karanganyar, Didirikan Sejak Era 80-an

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved