Fakta Menarik Tentang Solo
Asal Usul Kampung Potrojayan di Serangan Solo Jadi Sentra Produksi Blangkon, Ada Peran Mbah Joyo
Pada Februari 2025, Kampung Blangkon Potrojayan diresmikan kembali setelah penataan besar-besaran.
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kampung Potrojayan, yang terletak di Kelurahan Serengan, Kota Solo, sejak lama dikenal sebagai sentra pembuatan blangkon.
Memasuki kawasan ini, suasana khas kerajinan tradisional langsung terasa: warga sibuk berkutat dengan kain batik, merangkai pola, dan mengerjakan kerangka blangkon.
Kain batik tersebut nantinya dipakai sebagai bahan utama penutup blangkon.
Setelah hampir jadi, deretan blangkon dijemur di bawah terik matahari, membentuk pemandangan yang menjadi ciri khas kampung ini.
Menurut penuturan salah satu perajin, Wardoyo, asal usul Potrojayan menjadi sentra blangkon berawal dari kakeknya, Mbah Joyo.
Dahulu, ketika tinggal di kawasan Baluwarti wilayah dekat Keraton Kasunanan Surakarta Mbah Joyo membuat blangkon khusus untuk kalangan keraton.
Baca juga: Sejarah Padepokan Brojobuwono di Karanganyar, Didirikan Tahun 1999 oleh Empu dan Dosen ISI Surakarta
Namun pada tahun 1970, ia pindah ke Potrojayan.
Di sana, Mbah Joyo mengajarkan keterampilan membuat blangkon kepada warga sekitar.
Lama-kelamaan, keahlian ini menyebar dan hampir semua rumah di kampung tersebut ikut memproduksi blangkon.
Kini, tercatat ada sekitar 25 rumah yang masih aktif memproduksi blangkon.
Jenis blangkon yang paling banyak diproduksi dan diminati adalah model Solo dan Yogyakarta.
Untuk model lain seperti Bali, Betawi, atau Madura, biasanya hanya dibuat berdasarkan pesanan.
Rumah produksi milik Wardoyo sendiri bisa menghasilkan sedikitnya 75 blangkon per hari, dengan omzet bulanan mencapai sekitar Rp 30 juta.
Seiring perkembangan zaman, blangkon dari Potrojayan tetap memiliki pasar yang luas.
Baca juga: Sejarah Naskah Kuno Empu Keris dari Daun Lontar yang Dipamerkan di Festival Literasi Karanganyar
Harga blangkon terbaru sangat bervariasi, tergantung bahan dan model.
| Dulu Lahan Pacuan Kuda Milik Mangkunegaran, Kini Jadi Stasiun Terbesar di Kota Solo |
|
|---|
| Makna Tradisi Mitoni, Ritual Selamatan Kehamilan 7 Bulan yang Masih Eksis di Solo Raya |
|
|---|
| Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Tempe Gembus Mudah Dijumpai di Angkringan Solo, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Saat Krisis Pangan |
|
|---|
| Kisah Menarik Kelurahan Gajahan di Solo, Ternyata Dulu Tempat Kandang Gajah Milik Keraton Surakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Pengrajin-Blangkon-Kaswanto.jpg)