Keluhan Warga Sekitar Pasar Silir Solo
Tanggapi Keluhan Limbah Pasar Silir, DPRD Solo: Harus Direlokasi tapi Perlu Perhitungan
Protes soal limbah di Pasar Hewan Mojo Solo muncul. Ini mendapat sorotan dari DPRD Solo.
Penulis: Andreas Chris Febrianto | Editor: Ryantono Puji Santoso
Ringkasan Berita:
- Warga sekitar Pasar Hewan Mojo protes karena bau busuk dan limbah yang mengganggu bertahun-tahun serta membahayakan kesehatan.
- DPRD Solo menilai pasar tidak lagi layak karena dekat permukiman dan fasilitas publik, dan mendukung pemindahan dengan evaluasi menyeluruh.
- Pemindahan pasar perlu kajian matang agar tidak menimbulkan masalah baru dan tidak mematikan aktivitas pasar.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Warga yang tinggal di sekitar Pasar Hewan Mojo, atau yang juga dikenal sebagai Pasar Hewan Silir, memprotes limbah yang telah mengganggu keseharian mereka selama bertahun-tahun.
Mereka berharap pemerintah daerah segera bertindak untuk mengatasi bau busuk, limbah, dan ancaman kesehatan lingkungan yang mengintai.
Menanggapi hal tersebut, sejumlah anggota DPRD Solo yang menerima audiensi perwakilan warga pada tengah pekan ini pun angkat bicara.
Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta, Muhammad Bilal, menegaskan bahwa persoalan Pasar Hewan Mojo sudah lama menjadi perhatian dewan.
Menurutnya, penataan lokasi pasar harus segera dievaluasi agar tidak menjadi bom waktu dan menimbulkan penyakit di kemudian hari.
“Penataan lokasi ini memang harus dievaluasi. Dekat rumah sakit, fasilitas publik, dan permukiman. Ini bisa menjadi trigger penyakit,” ungkap Bilal, Minggu (7/12/2025).
Baca juga: Bau Busuk Tercium Setiap Hari, Warga Sekitar Pasar Silir Solo Berdampingan dengan Limbah Pasar Hewan
Dukung Pemindahan Pasar Hewan
Sementara itu, Ketua Komisi III, YF Sukasno, juga menyatakan dukungan terhadap pemindahan pasar hewan.
Meski demikian, ia menilai pemindahan perlu kajian mendalam, terutama terkait lokasi baru mengingat Kota Solo minim lahan kosong.
“Pasar ini sudah berdiri lama. Dulu belum ada permukiman, tapi sekarang sudah padat. Jadi memang sudah tidak layak ada di sana,” jelas Sukasno.
Pendapat serupa disampaikan Sekretaris Komisi II, Mukaromah, yang menilai pemindahan pasar membutuhkan kajian terpadu agar tidak merugikan pihak mana pun.
“Relokasi tanpa perhitungan bisa membuat pasar mati. Jangan sampai kebijakan baik justru menimbulkan masalah baru. Tentu akan kita sidak dulu untuk mengetahui kondisi pasti,” pungkas Mukaromah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Suasana-Pasar-Silir-Semanggi-jelang-Lebaran-dibanjiri-pembeli-hingga-memadati-jalan.jpg)