Fakta Menarik Tentang Solo
Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo dengan Adat Yogya, Bisa Dilihat dari Prosesi dan Tata Rias
Secara umum, baik adat Jawa Solo maupun Yogyakarta mengenal rangkaian upacara seperti siraman, midodareni, ijab, panggih, hingga kacar-kucur.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Pernikahan adat Jawa di Solo dan Yogyakarta kerap dianggap sama, padahal memiliki perbedaan filosofi, karakter, dan detail prosesi karena berakar dari dua keraton berbeda.
- Perbedaan terlihat pada prosesi siraman, midodareni, panggih, hingga tradisi khas seperti dodol dawet di Solo dan beksan edan-edanan di Jogja.
- Busana, tata rias, aksesoris, dekorasi, dan musik juga berbeda: Solo berkesan lembut dan sederhana, sedangkan Jogja menonjolkan kemegahan dan nuansa sakral.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bulan Desember menjadi momen banyak masyarakat Solo, Jawa Tengah, menjalankan pernikahan.
Pernikahan di Solo biasanya menggunakan adat Jawa.
Namun, selama ini sering dipandang sebagai satu konsep yang sama.
Baca juga: Sejarah Kebo Giro: Gending Warisan Sunan Kalijaga saat Prosesi Temu Panggih di Pernikahan Adat Solo
Padahal, di balik kesan serupa tersebut, terdapat perbedaan mendasar yang berakar dari dua pusat kebudayaan Jawa, yakni Keraton Surakarta (Solo) dan Keraton Yogyakarta.
Keduanya sama-sama berada di wilayah Jawa Tengah, namun memiliki karakter, filosofi, serta detail prosesi yang tidak sepenuhnya sama.
Secara umum, baik adat Jawa Solo maupun Yogyakarta mengenal rangkaian upacara seperti siraman, midodareni, ijab, panggih, hingga kacar-kucur.
Meski demikian, sarana, makna simbolik, serta pelaksanaan setiap prosesi memiliki ciri khas tersendiri.
Baca juga: Kenapa Banyak Warga Solo Raya Jateng Pilih Gelar Pernikahan di Bulan Desember? Ini Alasannya
Inilah yang kerap menimbulkan kebingungan bagi calon pengantin yang ingin mengusung adat Jawa dalam pernikahannya.
Dua Kiblat Pernikahan Adat Jawa
Adat pernikahan Jawa terbagi dalam dua kiblat besar, yaitu gaya Keraton Surakarta dan gaya Keraton Yogyakarta.
Keduanya lahir dari tradisi keraton yang sarat nilai filosofis dan spiritual, sekaligus mencerminkan cara pandang masing-masing keraton terhadap kehidupan, kesakralan, dan keharmonisan rumah tangga.
Pernikahan adat Jawa Solo dikenal dengan nuansa keanggunan, kelembutan, serta tata krama yang halus.
Sementara itu, pernikahan adat Jawa Yogyakarta menonjolkan kesan megah, sakral, dan kebesaran kerajaan.
Baca juga: Sejarah Warung Madura yang Kini Menjamur di Solo Raya, Konon Diperkenalkan Warga Sumenep
Perbedaan dalam Prosesi Siraman
Perbedaan sudah tampak sejak prosesi siraman.
Dalam adat Keraton Surakarta, siraman dilakukan oleh sembilan orang.
| Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Tempe Gembus Mudah Dijumpai di Angkringan Solo, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Saat Krisis Pangan |
|
|---|
| Kisah Menarik Kelurahan Gajahan di Solo, Ternyata Dulu Tempat Kandang Gajah Milik Keraton Surakarta |
|
|---|
| Contohnya Selat, Ini Sejarah Panjang Kenapa Kuliner di Solo Kebanyakan Bercitarasa Manis |
|
|---|
| Cerita Misteri di Ndalem Kalitan Solo Rumah Soeharto, Konon Gamelan di Sana Berbunyi Tiap Malam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ilustrasi-pernikahan-adat-Jawa-saat-momen-Temu-Panggih.jpg)