Fakta Menarik Tentang Solo

Perbedaan Pernikahan Adat Jawa Solo dengan Adat Yogya, Bisa Dilihat dari Prosesi dan Tata Rias

Secara umum, baik adat Jawa Solo maupun Yogyakarta mengenal rangkaian upacara seperti siraman, midodareni, ijab, panggih, hingga kacar-kucur.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribunnews.com/TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI)
PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Ini perbedaan pernikahan adat Jawa antara Solo dan Jogja. 

Ringkasan Berita:
  • Pernikahan adat Jawa di Solo dan Yogyakarta kerap dianggap sama, padahal memiliki perbedaan filosofi, karakter, dan detail prosesi karena berakar dari dua keraton berbeda.
  • Perbedaan terlihat pada prosesi siraman, midodareni, panggih, hingga tradisi khas seperti dodol dawet di Solo dan beksan edan-edanan di Jogja.
  • Busana, tata rias, aksesoris, dekorasi, dan musik juga berbeda: Solo berkesan lembut dan sederhana, sedangkan Jogja menonjolkan kemegahan dan nuansa sakral.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bulan Desember menjadi momen banyak masyarakat Solo, Jawa Tengah, menjalankan pernikahan.

Pernikahan di Solo biasanya menggunakan adat Jawa.

Namun, selama ini sering dipandang sebagai satu konsep yang sama.

Baca juga: Sejarah Kebo Giro: Gending Warisan Sunan Kalijaga saat Prosesi Temu Panggih di Pernikahan Adat Solo

Padahal, di balik kesan serupa tersebut, terdapat perbedaan mendasar yang berakar dari dua pusat kebudayaan Jawa, yakni Keraton Surakarta (Solo) dan Keraton Yogyakarta.

Keduanya sama-sama berada di wilayah Jawa Tengah, namun memiliki karakter, filosofi, serta detail prosesi yang tidak sepenuhnya sama.

Secara umum, baik adat Jawa Solo maupun Yogyakarta mengenal rangkaian upacara seperti siraman, midodareni, ijab, panggih, hingga kacar-kucur.

Meski demikian, sarana, makna simbolik, serta pelaksanaan setiap prosesi memiliki ciri khas tersendiri.

Baca juga: Kenapa Banyak Warga Solo Raya Jateng Pilih Gelar Pernikahan di Bulan Desember? Ini Alasannya

Inilah yang kerap menimbulkan kebingungan bagi calon pengantin yang ingin mengusung adat Jawa dalam pernikahannya.

Dua Kiblat Pernikahan Adat Jawa

Adat pernikahan Jawa terbagi dalam dua kiblat besar, yaitu gaya Keraton Surakarta dan gaya Keraton Yogyakarta.

Keduanya lahir dari tradisi keraton yang sarat nilai filosofis dan spiritual, sekaligus mencerminkan cara pandang masing-masing keraton terhadap kehidupan, kesakralan, dan keharmonisan rumah tangga.

Pernikahan adat Jawa Solo dikenal dengan nuansa keanggunan, kelembutan, serta tata krama yang halus.

Sementara itu, pernikahan adat Jawa Yogyakarta menonjolkan kesan megah, sakral, dan kebesaran kerajaan.

Baca juga: Sejarah Warung Madura yang Kini Menjamur di Solo Raya, Konon Diperkenalkan Warga Sumenep

Perbedaan dalam Prosesi Siraman

Perbedaan sudah tampak sejak prosesi siraman.

Dalam adat Keraton Surakarta, siraman dilakukan oleh sembilan orang.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved