Sejarah di Kota Solo
Malam Ini Tak Dinyalakan di Solo, Kenapa Kembang Api Identik dengan Perayaan Tahun Baru?
Perayaan malam tahun baru hampir selalu identik dengan pertunjukan kembang api, baik di kota besar maupun daerah.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Wali Kota Solo, Respati Ardi, imbau warga tidak foya-foya saat malam tahun baru 2026 karena bencana di Sumatera dan Aceh; pergantian tahun dikemas sebagai car free night refleksi dan empati tanpa kembang api.
- Kembang api, awalnya ritual kuno di Tiongkok dan populer di Eropa, kini jadi simbol perayaan, menandai momen penting secara visual dan emosional.
- Pergantian tahun di berbagai budaya berbeda waktunya, tapi tetap dimaknai sebagai refleksi diri dan harapan baru.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengimbau warga untuk tidak merayakan malam tahun baru secara berlebihan pada Rabu (31/12/2025).
Hal itu mengingat bencana yang tengah melanda Sumatera dan Aceh.
Pergantian tahun akan dikemas dalam konsep car free night (CFN) yang difokuskan sebagai momen refleksi dan empati.
Baca juga: 5 Rekomendasi Wisata di Boyolali Jawa Tengah, Cocok jadi Spot Menenangkan Diri Awal Tahun 2026
Meskipun tanpa kembang api, akan ada kejutan sebagai penanda pergantian tahun yang dikonsep sebagai "malam kepedulian".
Tradisi Kembang Api di Malam Tahun Baru
Perayaan malam tahun baru hampir selalu identik dengan pertunjukan kembang api, baik di kota besar maupun daerah, sebagai penanda visual pergantian tahun.
Tradisi ini telah berlangsung lintas budaya dan zaman, meski tidak semua orang mengetahui asal-usulnya.
Melansir ABC News, kembang api awalnya tidak diciptakan sebagai hiburan, melainkan berkembang dari praktik dan ritual kuno.
Asal-usul Kembang Api
Sejumlah sejarawan menyebut kembang api berasal dari Dinasti Han di Tiongkok (202 SM – 220 M).
Pada masa itu, masyarakat melemparkan batang bambu ke dalam api sehingga menghasilkan ledakan akibat tekanan udara di dalamnya.
Baca juga: Sejarah Tumpeng, Kuliner Khas Syukuran di Solo Raya, Dulu Simbol Memuliakan Gunung
Pendapat lain mengaitkan kembang api dengan Dinasti Song (960–1279 M), di mana petasan dibuat dari tabung kertas berisi bubuk mesiu dan sumbu, kemudian dirangkai dan dinyalakan bersama.
Kembang api digunakan dalam berbagai perayaan seperti pernikahan, kelahiran, dan ritual untuk mengusir roh jahat.
Perkembangan Kembang Api di Eropa
Kembang api mulai dikenal di Eropa pada abad ke-14 dan semakin populer pada abad ke-17.
Pada era Renaisans Italia (1340–1550), kembang api berkembang pesat berkat eksperimen para ahli piroteknik.
Variasi warna kembang api mulai dikembangkan seiring kemajuan teknik pencampuran bahan kimia.
| Sejarah Stadion Manahan Solo yang Dikritik Andre Rosiade Mirip Sawah, DIbangun di Era Soeharto |
|
|---|
| Asal-usul Panggung Songgo Buwono Keraton Solo, Kondisinya Pasca-revitalisasi Disorot Kubu Purboyo |
|
|---|
| Mengenal Honggowongso, Sosok Jenius Perancang Bangunan dan Infrastruktur Keraton Solo |
|
|---|
| Fakta Batik Solo: Warisan Keraton yang Mendunia, Tiap Motifnya Punya Filosofi Sendiri |
|
|---|
| Misteri dan Sejarah Sungai Bengawan Solo: dari Legenda Air Mata Ibu hingga Jejak Sungai Purba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/kembang-api-karanganyar.jpg)