Sejarah di Kota Solo
Mengenal Honggowongso, Sosok Jenius Perancang Bangunan dan Infrastruktur Keraton Solo
Di Jalan Honggowongso ini juga terdapat Sate Pak Manto yang jadi jujukan pecinta kuliner kala berlibur ke Solo.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Jalan Honggowongso di Solo diambil dari Tumenggung Honggowongso, tokoh penting di balik pembangunan awal Kota Surakarta pada abad ke-18.
- Ia, yang bernama asli Joko Sangrib, menjadi perancang Keraton Surakarta sejak 1742 hingga penetapan ibu kota baru Mataram pada 1745.
- Selain ahli konstruksi, ia juga pejabat penting di masa Paku Buwono III dan berjasa besar dalam pemerintahan serta budaya Jawa.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo, Jawa Tengah, punya sebuah jalan bernama Jalan Honggowongso yang terletak di lokasi strategis.
Di Jalan Honggowongso ini juga terdapat Sate Pak Manto yang jadi jujukan pecinta kuliner kala berlibur ke Solo.
Selain itu ada Bakso Titoti yang selalu ramai setiap harinya.
Baca juga: Fakta Batik Solo: Warisan Keraton yang Mendunia, Tiap Motifnya Punya Filosofi Sendiri
Namun tahukah sosok di balik nama jalan ini? Berikut TribunSolo.com ulas sosok Honggowongso yang harum namanya di Kota Solo:
Kisah Hidup Honggowongso
Honggowongso adalah nama seorang putra bangsa yang berjasa dalam fondasi berdirinya Surakarta sebagai pusat pemerintahan Mataram pada abad ke-18.
Tumenggung Honggowongso, atau yang lahir dengan nama Joko Sangrib, putra dari Tumenggung Sosrowijoyo, Bupati Madiun kala itu.
Joko Sangrib tumbuh sebagai pribadi cerdas yang memiliki kecakapan tinggi dalam bidang konstruksi.
Ia memulai kiprah profesionalnya di wilayah Panjer, yang kelak dikenal sebagai Kabupaten Kebumen, tempat di mana ia banyak terlibat dalam pembangunan infrastruktur pemerintahan.
Baca juga: Penjelasan Kenapa Kebanyakan Soto di Solo Berkuah Bening dan Porsinya Minimalis
Atas kontribusi luar biasanya, ia dianugerahi gelar Tumenggung Honggowongso dan menjadi sosok penting ketika Sinuhun PB II menunjuknya sebagai perancang Keraton Surakarta.
Sejak tahun 1742, saat raja masih “berkantor” di Ponorogo akibat hancurnya Kartasura, Honggowongso mulai merancang struktur kedhaton dan seluruh infrastruktur Ibu Kota baru Surakarta.
Ia juga menggandeng masyarakat Kebumen untuk terlibat langsung dalam pembangunan besar ini.
Puncak pencapaiannya adalah ketika pembangunan tersebut rampung dan pada tanggal 17 Sura 1745, melalui ritual Wilujengan Nagari Sesaji Mahesa Lawung, Surakarta secara resmi ditetapkan sebagai Ibu Kota “nagari” Mataram yang baru.
Dedikasi Tanpa Batas untuk Nagari
Kontribusi Tumenggung Honggowongso tidak berhenti di situ.
Ia kemudian dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri untuk wilayah barat (Brang Kulon) oleh Sinuhun PB III.
| Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Nasi Kucing Solo dan Jogja |
|
|---|
| Fakta Menarik Batik Parang, Ada Pantangan Dilarang Dipakai di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Asal-usul Nama Kelurahan Kadipiro di Solo : Konon Bermakna 'Keterlaluan' saat Zaman Majapahit |
|
|---|
| Asal-usul Nama Kelurahan Banyuanyar di Solo, Ada Kali Anyar yang Jadi Pemisah dengan Boyolali |
|
|---|
| Perbedaan Gudeg Solo dan Jogja, Menu Sarapan Favorit yang Punya Sejarah Panjang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/kondisi-keraton-solo-listrik.jpg)