Fakta Menarik Tentang Solo
Kenapa Rasa Teh di Solo Berbeda dengan Teh di Jawa Barat? Ternyata Ada Pengaruh Kolonial Belanda
Tradisi minum teh di Pulau Jawa ternyata memiliki karakter yang berbeda-beda di setiap daerah.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Perbedaan rasa teh di Jawa dipengaruhi sejarah kolonial: Jawa Barat sebagai sentra teh melahirkan tradisi minum teh tawar, sedangkan Jawa Tengah–Timur yang kaya gula terbiasa minum teh manis.
- Di Solo, ngeteh menjadi tradisi turun-temurun dengan ciri teh panas, kental, manis, sering diracik dari beberapa merek dan disajikan di rumah hingga angkringan.
- Budaya ngeteh di Solo berakar sejak era keraton, tercatat dalam Serat Centhini, berkembang dari simbol bangsawan hingga menjadi minuman rakyat.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernahkah bertanya-tanya kenapa rasa teh di Solo, Jawa Tengah, berbeda jauh dibanding daerah lainnya?
Tradisi minum teh di Pulau Jawa ternyata memiliki karakter yang berbeda-beda di setiap daerah.
Jika masyarakat Jawa Barat dikenal menyukai teh tawar bening tanpa gula, warga Jawa Tengah, khususnya Yogyakarta dan Solo, justru lekat dengan kebiasaan minum teh panas, kental, dan manis.
Baca juga: Kenapa Soto di Solo Raya Kebanyakan Berkuah Bening? Ada Kaitannya dengan Masa Lalu
Perbedaan selera ini bukan tanpa sebab, melainkan berakar kuat pada sejarah, budaya, hingga kebijakan kolonial di masa lalu.
Teh Tawar ala Sunda dan Jejak Kolonial
Dalam buku Ragam Minuman Khas Indonesia (2024), Murdijati dan kolega menjelaskan bahwa masyarakat Priangan atau Sunda di Jawa Barat lebih gemar mengonsumsi teh tawar yang dikenal dengan sebutan citeh.
Teh ini diminum tanpa tambahan gula, menonjolkan rasa asli daun teh.
Penelitian Yeti Haryati dkk. (1993) juga mencatat bahwa teh manis atau cigula tidak lazim diminum setelah makan dan jarang disajikan bersamaan dengan hidangan manis.
Kebiasaan ini berkaitan erat dengan sejarah perkebunan teh di Jawa Barat.
Baca juga: Kenapa Orang Solo Mengucapkan Kulonuwun saat Bertamu? Ini Makna dan Filosofinya
Helen Saberi dalam Tea: A Global History (2010) mengaitkan tradisi minum teh Sunda dengan kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan Belanda sejak 1830.
Wilayah Jawa Barat yang berhawa sejuk dijadikan pusat perkebunan teh dan kopi. Akses masyarakat terhadap teh berkualitas tinggi membuat mereka terbiasa menikmatinya tanpa gula.
Sebaliknya, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menjadi sentra perkebunan tebu memiliki produksi gula melimpah.
Gula yang murah dan mudah diakses kemudian membentuk kebiasaan masyarakat setempat untuk menyeduh teh manis.
Ngeteh: Identitas Budaya Orang Solo
Di Jawa Tengah, khususnya Solo, kebiasaan minum teh atau ngeteh telah menjadi tradisi turun-temurun.
Teh Solo bahkan sempat viral karena cita rasanya yang khas, lebih kental, manis, dan berwarna pekat.
| Dipercaya Masyarakat Solo Raya, Ini Keutamaan Menikah di Bulan Besar atau Dzulhijjah |
|
|---|
| Mengenal 12 Musim Pranata Mangsa Jawa, Pedoman Bertani Warisan Leluhur di Solo Raya |
|
|---|
| Kenapa Banyak Orang Solo Gemar Sarapan Lauk Olahan Kambing? Ternyata Ini Awal-mulanya |
|
|---|
| Kenapa Banyak Warga Solo Raya Gelar Acara Pernikahan di Bulan Dzulhijjah? Begini Asal-usulnya |
|
|---|
| Kenapa Bulan Dzulhijjah Disebut Besar oleh Warga Solo Raya? Ternyata Ini Sejarah Panjangnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Es-teh-manis-yang-segar-untuk-pelepas-dahaga.jpg)