Info Surakarta

Debit Bengawan Solo Sempat Siaga Kuning, Petugas Jelaskan Arti Status hingga Bahaya Merah

Sepekan terakhir ini, debit air sungai Bengawan Solo meningkat. Petugas jelaskan maknanya

Penulis: Andreas Chris Febrianto | Editor: Tri Widodo
TribunSolo.com/Andreas Chris Febrianto
TINGGI: Debit air di sungai Bengawan Solo meningkat sepekan terakhir, sempat sentuh siaga kuning atau capai 8 meter. 
Ringkasan Berita:
  • Debit air Sungai Bengawan Solo di wilayah Solo dan sekitarnya mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir, bahkan sempat menyentuh kategori siaga kuning pada akhir pekan lalu. 
  • Petugas Intake IPAL Semanggi, Purnomo, menyebut ketinggian air saat siaga kuning mencapai sekitar 8 meter akibat tingginya curah hujan. 
  • Status siaga kuning menandakan debit air tinggi dan berpotensi meluap ke permukiman bantaran sungai, sedangkan bahaya merah berarti air sudah meluap dan membanjiri rumah warga. 

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sepekan terakhir ini, debit air sungai Bengawan Solo meningkat.

Bahkan kondisi debit air sungai Bengawan Solo sempat masuk kategori siaga kuning. Kejadian tersebut terjadi pada akhir pekan kemarin.

Baca juga: Tujuh Kecamatan di Klaten Disapu Angin, Atap Rumah Warga hingga Masjid Terhempas

Baca juga: Debit Bengawan Solo Naik Drastis, Sempat Sentuh Siaga Kuning hingga Hampir Capai Bibir Sungai

Naiknya debit air sungai Bengawan Solo tersebut pun dibenarkan oleh salah satu petugas Intake IPAL Semanggi, Purnomo dimana rata-rata dalam sepekan terakhir masuk di kategori siaga hijau.

"Sepekan terakhir debit air Bengawan cukup signifikan ya, sampai menyentuh siaga kuning. Siaga kuning itu kurang lebih 8 meter," ungkap Purnomo saat dihubungi TribunSolo.com.

Purnomo melanjutkan bahwa naiknya debit air sungai Bengawan Solo akibat curah hujan yang cukup tinggi di wilayah Solo dan sekitarnya selama beberapa waktu terakhir.

Lantas apa arti dari kategori debit air dari siaga kuning hingga bahaya merah? 

Purnomo menerangkan bahwa untuk siaga kuning disebutnya adalah kondisi dimana debit air terbilang tinggi dan berpotensi akan meluap dan membanjiri pemukiman yang ada di bantaran sungai.

Sementara untuk kategori bahaya merah sendiri merupakan kondisi dimana sudah ada luapan air sungai Bengawan Solo yang membanjiri pemukiman penduduk di bantaran sungai.

"Kalau kuning artinya persiapan adanya luapan air. Kalau merah waspada luapan air," ungkap Purnomo.

Disinggung wilayah mana saja yang akan terdampak luapan sungai Bengawan Solo apabila debit air telah masuk kategori bahaya merah. Purnomo menyebut hampir semua pemukiman yang ada di sepanjang bantaran sungai dari Sukoharjo hingga Solo telah terimbas luapan air.

"Itu banyak ya, untuk wilayah Sukoharjo apalagi bantaran Bengawan Solo mayoritas sudah kena semua. Sukoharjo, Solo itu mayoritas (di bantaran sungai) kena," pungkasnya. (*)

 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved