Sejarah di Kota Solo
Fakta Menarik Batik Parang, Ada Pantangan Dilarang Dipakai di Keraton Solo dan Mangkunegaran
Konon, motif ini menjadi simbol kekuatan, keteguhan, dan semangat pantang menyerah yang harus dimiliki oleh seorang raja atau ksatria.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Motif Batik Parang merupakan batik larangan di Keraton Solo dan Mangkunegaran karena melambangkan kekuatan dan hanya boleh digunakan raja serta keluarganya.
- Penggunaannya dibatasi ketat, termasuk tidak boleh dijadikan benda sehari-hari seperti keset atau pola lantai, sebagai bentuk penghormatan pada karya leluhur.
- Ukuran motif Parang menentukan status sosial, mulai Parang Barong untuk raja hingga Parang Klithik untuk cucu raja dan pejabat tertentu.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Motif batik Parang dikenal sebagai salah satu motif populer di Solo Raya, Jawa Tengah.
Selain itu, motif batik Parang adalah tertua dan paling sarat makna dalam sejarah batik Jawa.
Meski kini batik kian populer dipakai dalam berbagai acara penting, Batik Parang tetap menjadi motif yang tidak bisa digunakan secara sembarangan, khususnya di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.
Batik Parang dianggap senagai simbol kekuatan dan keteguhan seorang pemimpin.
Karena itulah, motif ini sejak dulu diperuntukkan bagi raja dan keluarga inti keraton.
Baca juga: Kenapa Kuah Soto Khas Solo Kebanyakan Bening? Ternyata Ada Sejarah dan Alasannya Lho
Simbol Kekuatan Raja
Batik Parang memiliki makna mendalam yang melekat erat pada kekuasaan raja.
Konon, motif ini menjadi simbol kekuatan, keteguhan, dan semangat pantang menyerah yang harus dimiliki oleh seorang raja atau ksatria.
Motif Parang sejak awal dibuat khusus untuk raja.
Karena itu, hingga kini pemakaiannya tetap dibatasi.
Larangan semakin ketat apabila seseorang memasuki area keraton, terutama saat berlangsungnya upacara adat.
Meski sakral, masyarakat umum tetap diperbolehkan memakai Batik Parang selama tidak memasuki wilayah keraton.
Namun pemakaiannya tetap harus menghormati nilai budaya.
Baca juga: Perbedaan Nasi Kucing Solo dan Jogja, Makanan Sederhana Penuh Sejarah yang Rasanya Ngangeni
Asal Usul Motif Parang
Motif Parang merupakan warisan budaya yang berasal dari zaman Keraton Mataram.
Polanya berbentuk diagonal miring seperti huruf S yang saling menyambung, disebut perengan.
| Asal-usul Nama Kelurahan Kadipiro di Solo : Konon Bermakna 'Keterlaluan' saat Zaman Majapahit |
|
|---|
| Asal-usul Nama Kelurahan Banyuanyar di Solo, Ada Kali Anyar yang Jadi Pemisah dengan Boyolali |
|
|---|
| Perbedaan Gudeg Solo dan Jogja, Menu Sarapan Favorit yang Punya Sejarah Panjang |
|
|---|
| Sejarah Stadion Manahan Solo yang Dikritik Andre Rosiade Mirip Sawah, DIbangun di Era Soeharto |
|
|---|
| Asal-usul Panggung Songgo Buwono Keraton Solo, Kondisinya Pasca-revitalisasi Disorot Kubu Purboyo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Motif-Batik-Parang-Wow.jpg)