Kasus HIV Aids di Solo

Kasus Baru HIV/AIDS Solo Peringkat Kedua Tertinggi di Jateng, KPA Terkendala Temukan Pengidap

Kasus HIV/AIDS di Solo menduduki peringkat dua di Jawa Tengah. Ini dirilis oleh BPS Jawa Tengah.

Tayang:
Istimewa
ILUSTRASI. Peringatan Hari HIV/AIds Sedunia pada 1 Desember 2019. Kasus HIV di Solo tertingi kedua di Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Kota Solo menempati peringkat kedua tertinggi kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah tahun 2025 dengan 412 kasus baru, di bawah Kota Semarang yang mencapai 620 kasus.
  • Sekretaris KPA Solo Widdi Srihanto mengaku pihaknya kerap kesulitan menemukan orang yang diduga mengidap HIV/AIDS karena sering berpindah tempat tinggal sebelum dilakukan pendampingan.
  • Menurut KPA Solo, banyak kasus HIV/AIDS dipengaruhi faktor gaya hidup, mulai dari pekerja seks hingga pelanggan prostitusi.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Berdasarkan data BPS Jawa Tengah, Kota Solo menempati peringkat kedua tertinggi kasus HIV/AIDS se-Jawa Tengah pada 2025.

Kasus baru pengidap HIV/AIDS di Solo mencapai 412 kasus, setelah Kota Semarang dengan 620 kasus.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Solo, Widdi Srihanto, mengungkapkan pihaknya kerap menemui kendala dalam menemukan orang yang diduga mengidap HIV/AIDS.

“Ya kendalanya adalah mereka kadang menghilang. Jadi beberapa kasus ada laporan, beberapa waktu lalu katanya ngekos, kita cari ternyata sudah pindah. Baru-baru ini juga begitu,” ungkapnya saat dihubungi Jumat (29/5/2026).

Mereka yang telah tertular penyakit ini paling banyak karena faktor gaya hidup.

Mulai dari wanita pekerja seks (WPS) hingga orang-orang yang menjadi pelanggan prostitusi.

“Ada yang dari mereka sudah tertular ya karena memang kehidupannya seperti itu, jadi sudah tertular dari sananya,” jelasnya.

Pihaknya menelusuri laporan dari masyarakat.

KASUS HIV/AIDS SRAGEN - Ilustrasi pita merah simbol HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Sragen mencatat ada 2.343 kasus HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Sragen sejak tahun 2000.
ILUSTRASI. AIDS di Kota Solo menduduki peringkat ke-2 di Jawa Tengah. (Dok.TribunSolo.com)

Jika telah terkonfirmasi positif, pihaknya mengecek latar belakang orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersebut.

“Jadi yang kita temukan kadang laporan dari masyarakat, kemudian kita cek ke masyarakat dan ke ODHA-nya, orangnya positif atau tidak. Kalau positif, kita hanya melihat dari latar belakang, ya kan ada pekerja seks komersial dan sebagainya. Ya gaya hidup dan kondisi,” terangnya.

Kasus Belum Teridentifikasi

Dengan jumlah ratusan kasus di Kota Solo, menurutnya masih ada kemungkinan kasus yang belum teridentifikasi.

Maka dari itu, semakin banyak yang terdeteksi, sisi positifnya semakin banyak pula yang bisa ditangani.

“Seperti fenomena gunung es. Semakin banyak yang ditemukan, semakin banyak yang harus kita layani,” ungkapnya.

Jika telah ditemukan ODHA tersebut, maka pihaknya akan melakukan pendekatan agar mereka mau berobat.

Baca juga: Apa itu Tri Zero HIV/AIDS? Strategi dari DKK Sukoharjo Demi Tekan Tren Penularan HIV/AIDS

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved