Fakta Menarik Tentang Solo

7 Mitos Bulan Suro yang Masih Dipercaya Sebagian Warga Solo Raya, Salah Satunya soal Pernikahan

Berikut deretan mitos Bulan Suro yang masih dikenal di Solo Raya dan dipercaya oleh sebagian.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Ibnu Dwi Tamtomo
GREBEG SURO - Potret Grebeg Suro Dusun Tanjungsari, Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. Tradisi Grebeg Sura Dusun Tanjungsari ini diketahui sudah ada sejak abad ke-18 Masehi dan terus turun temurun dilestarikan. 

Ringkasan Berita:
  • Bulan Suro masih dianggap sakral oleh sebagian masyarakat Solo Raya. Pada 2026, 1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram 1448 H yang jatuh pada 16 Juni, dengan tradisi seperti kirab pusaka, tirakatan, dan tapa bisu.
  • Sejumlah mitos yang masih dipercaya antara lain pantang menggelar hajatan, pindah rumah, memulai pembangunan, serta menghindari perjalanan jauh pada Malam 1 Suro.
  • Bulan Suro juga identik dengan introspeksi diri, menjaga ucapan, menjalani malam dengan tenang, serta ritual ruwatan.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLOBulan Suro selalu memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Jawa, termasuk di Solo Raya.

Bagi sebagian warga, Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, tetapi juga bulan yang dianggap sakral dan penuh makna spiritual.

Pada tahun 2026, 1 Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Sementara Malam 1 Suro dimulai sejak Senin malam, 15 Juni 2026.

Baca juga: Rekomendasi Hotel Dekat Stasiun Klaten, Fasilitas Lengkap: Aisyi Tower Jadi Pilihan Penginapan Baru

Di Solo, momentum ini biasanya ditandai dengan berbagai tradisi budaya, mulai dari kirab pusaka, tirakatan, doa bersama, hingga ritual tapa bisu yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa selama puluhan tahun.

Selain tradisi tersebut, masih ada sejumlah mitos yang hingga kini dipercaya sebagian masyarakat, terutama generasi yang masih memegang teguh nilai-nilai kejawen.

Berikut deretan mitos Bulan Suro yang masih dikenal di Solo Raya.

1. Pantang Menggelar Hajatan Besar

Salah satu kepercayaan yang paling populer adalah larangan menggelar hajatan selama Bulan Suro.

Sebagian warga masih menghindari pelaksanaan pernikahan, khitanan, maupun pesta keluarga pada bulan ini.

Mereka meyakini hajatan yang digelar saat Suro berpotensi mendatangkan kesialan atau membuat rumah tangga tidak berjalan harmonis.

Karena itu, tidak sedikit keluarga di Solo Raya yang memilih menjadwalkan acara penting sebelum atau setelah Bulan Suro berakhir.

Baca juga: Pria Ini Rela Rogoh Jutaan Rupiah Demi Sulap Kampung Karangasem Solo Jadi Spot Piala Dunia 2026

2. Tidak Dianjurkan Pindah Rumah

Mitos lainnya yang masih sering terdengar adalah larangan pindah rumah selama Bulan Suro.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, memulai kehidupan baru di tempat tinggal baru pada bulan ini dianggap kurang baik.

Sebagian orang percaya langkah tersebut dapat membawa hambatan, kesulitan rezeki, atau ketidaknyamanan bagi penghuni rumah.

Meski demikian, kepercayaan ini tidak berlaku bagi semua kalangan dan lebih banyak dianut oleh masyarakat yang masih memegang tradisi leluhur.

Baca juga: Jelang Kirab Suro, Tedjowulan Desak Pertemuan Dua Kubu Keraton, Pemkot Solo : Kita Fokus Pengamanan

3. Menghindari Memulai Pembangunan Rumah

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved