Kenaikan Harga BBM

Pusingnya Emak-emak di Boyolali, Belum Selesai Kenaikan Dolar Kini Harga BBM Non Subsidi Melonjak

Kenaikan harga BBM non subsidi di Boyolali berdampak pada biaya hidup dan usaha warga.

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
TribunSolo.com/Tri Widodo
PERTAMAX NAIK - Antrean kendaraan SPBU Tempursari Kecamatan Sambi Boyolali, Rabu (10/6/2026). Sebagian pengendara memilih Pertamax hanya karena tidak ingin menunggu terlalu lama di antrean Pertalite. 

Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga BBM non subsidi di Boyolali berdampak langsung pada peningkatan biaya hidup warga, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
  • Pelaku usaha ekspedisi seperti Tini (33) mengeluhkan naiknya biaya operasional, termasuk BBM, ban, oli, dan onderdil kendaraan.
  • Warga berharap harga kebutuhan pokok dan biaya operasional stabil karena penghasilan tidak ikut naik, sementara pengeluaran terus bertambah.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Kenaikan harga BBM non subsidi di Boyolali mulai dirasakan dampaknya oleh warga, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.

Kondisi ini membuat pengeluaran harian meningkat di tengah harga kebutuhan pokok yang juga ikut naik, sehingga masyarakat harus lebih ketat mengatur keuangan keluarga.

Warga Boyolali Keluhkan Tekanan Ekonomi Akibat Kenaikan BBM

Dampak kenaikan harga BBM non subsidi semakin terasa bagi masyarakat, termasuk Tini (33), warga Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.

Ibu muda yang juga menjalankan usaha jasa ekspedisi ini mengaku kondisi ekonomi saat ini membuatnya harus lebih ekstra dalam mengatur keuangan rumah tangga sekaligus operasional usaha.

Menurutnya, kenaikan BBM terjadi di saat masyarakat belum sepenuhnya pulih dari tekanan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sebelumnya ikut mendorong kenaikan harga sejumlah barang.

“Uang seperti tidak ada ajine (nilainya), cepat habis,” kata Tini saat ditemui, Kamis (11/6/2026).

MENGULAR - Antrean kendaraan roda dua yang hendak mengisi BBM jenis Pertalite mengular panjang di SPBU Sudimoro, Kecamatan Teras, Rabu (10/6/2026). Mereka memburu pertalite.
MENGULAR - Antrean kendaraan roda dua yang hendak mengisi BBM jenis Pertalite mengular panjang di SPBU Sudimoro, Kecamatan Teras, Rabu (10/6/2026). Mereka memburu pertalite. (TribunSolo.com/Tri Widodo)

Biaya Kebutuhan dan Operasional Ikut Naik

Tini mengungkapkan bahwa hampir seluruh kebutuhan harian mengalami kenaikan harga, sehingga semakin membebani pengeluaran keluarga.

Kondisi ini membuatnya harus memutar strategi agar usaha dan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan seimbang.

“Kebutuhan naik, barang-barang naik,” ujarnya.

Sebagai pelaku usaha ekspedisi, ia juga merasakan langsung dampak kenaikan biaya operasional.

Kenaikan harga BBM membuat ongkos distribusi ikut meningkat, sehingga margin keuntungan usaha semakin tertekan.

Tidak hanya bahan bakar, berbagai kebutuhan pendukung usaha seperti suku cadang kendaraan juga ikut naik.

Hal ini semakin menambah beban pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada transportasi.

“Ban, oli, onderdil kendaraan naik semua,” keluhnya.

Baca juga: Imbas Harga BBM Pertamax Naik, OPD Klaten Tak Lagi Pakai Mobil Dinas, Bakal Ganti Bus Sekolah

Keuntungan Menyusut, Warga Harap Stabilitas Harga

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved