Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Jika Global Warming Tak Bisa Dihentikan, Ini Hewan Pertama yang Terancam Punah

Penguin raja adalah jenis penguin terbesar kedua dan hanya bisa berkembang biak di pulau-pulau terisolasi tertentu di Samudra Selatan.

Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: Hanang Yuwono
ISTIMEWA
Ilustrasi global warming. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Efrem Siregar

TRIBUNSOLO.COM, ANTARTIKA -- Pemanasan global adalah isu yang terus disuarakan para aktivis sebagai pengingat akan kondisi bumi yang semakin memprihatinkan.

Dampaknya akan mengancam keberlangsungan hidup makhluk hidup, satu di antaranya penguin raja.

Penguin raja adalah jenis penguin terbesar kedua dan hanya bisa berkembang biak di pulau-pulau terisolasi tertentu di Samudra Selatan.

Tempat tersebut tak ditutupi es dan memudahkan mereka akses ke laut.

Baca: Catat, Ini Tahapan dan Jadwal Lengkap Pemilu 2019

Sumber makanan mereka terancam lewat aktivitas penangkapan ikan secara berlebihan di sekitar peraitan Antartika.

Dengan adanya peningkatan suhu dan penangkapan berlebihan di di sekitar perairan Antartika, populasi penguin raja diprediksi akan menuju ambang kepunahan pada akhir abad ini, menurut sebuah studi baru seperti dilansir TribunSolo.com dari situs media The Guardian, Selasa (27/2/2018).

Penguin raja (Aptenodytes patagonicus).
Penguin raja (Aptenodytes patagonicus). (Thinkstockphoto)

Laporan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, menemukan 70 persen penguin raja akan hilang atau dipaksa mencari lokasi baru untuk berkembang biak.

Meski begitu, peneliti Céline Le Bohec, dari CNRS, Universitas Strasbourg, Prancis, memperingatkan, hal tersebut bisa dicegah jika ada langkah segera yang diambil.

Baca: Hari Ini Wali Kota Solo Dijadwalkan Hadiri Penutupan SGS 2018 di Pendapi Gede Balai Kota Solo

"Jika tidak ada tindakan yang bertujuan menghentikan atau mengendalikan pemanasan global, dan penangkapan ikan secara berlebihan, penguin raja mungkin akan hilang dalam waktu dekat," katanya.

Dalam studi lain di awal bulan ini, disebutkan bahwa perubahan iklim dan penangkapan ikan juga mengancam akan mengancam keberadaan populasi kril (sejenis udang) di perairan Antartika, yang selanjutnya akan memberi dampak kepada pada paus, anjing laut dan penguin.

Jika ancaman pemanasan global itu nyata, ini artinya penguin raja yang memakan ikan dan krill harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk menemukan tempat makan baru.

Di saat yang bersamaan, sang induk juga membiarkan anak-anak mereka tinggal lebih lama dalam kondisi lapar.

Baca: Tak Mau Mengantre di Rumah Sakit, Wanita Ini Melahirkan di Lapangan Parkir

Para ilmuwan memperkirakan, jika gambaran ini benar-benar terjadi, seluruh koloni penguin laut akan musnah.

Meski beberapa penguin raja bisa pindah ke tempat lebih dekat dengan sumber makanan dan bisa berkembang biak di sana, sangat langka menemukan habitat baru yang cocok dengan mereka.

Penguin kaisar dewasa dan anak mereka di dekat stasiun penelitian di Terre Adélie, Antartika. Periset menemukan bahwa penguin jantan sering kali menyelinap ke luar dari koloni untuk berburu selama musim kawin.
Penguin kaisar dewasa dan anak mereka di dekat stasiun penelitian di Terre Adélie, Antartika. Periset menemukan bahwa penguin jantan sering kali menyelinap ke luar dari koloni untuk berburu selama musim kawin.

"Masalah utamanya hanya sedikit pulau di samudera bagian selatan yang cocok dengan mereka."

"Tidak semua tempat juga cocok dalam mempertahankan koloni besar mereka nantinya," kata Robin Cristofari dari the Centre Scientifique de Monaco, Monako.

Ini memang hanya prediksi yang sulit untuk bisa melihat langusng hasilnya secara cepat.

Namun, akan selalu ada kerugian akibat pemanasan global.

Baca: Liliyana Natsir Akan Pensiun Usai Asian Games 2018 Lalu Jadi Pebisnis

"Jika kita ingin menyelamatkan sesuatu, upayakan konservasi yang proaktif dan efisien."

"Namun di atas itu semua, masyarakat dunia mesti sepakat untuk melawan pemanasan global yang dimulai dari sekarang," kata kata Cristofari.

Atas kondisi ini, para ilmuwan dan aktivis lingkungan Greenpeace mendorong Antarctic Marine Living Resources (CCAMLR) membuat sebuah kawasan perlindungan laut terbesar di Antartika.

Jika langkah mereka didukung, maka tahun ini akan ada zona bebas pancing seluas 1,8 juta km kuadrat yang akan melindungi sejumlah spesies, semisal penguin, anjing laut macan tutul dan paus. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved