Doakan Arwah Leluhur, Warga Khonghucu Solo Bakar 'Kapal'

Acara bertujuan untuk mendoakan arwah leluhur dalam peringatan bulan tujuh Imlek pada 30 September nanti.

Tayang:
TRIBUNSOLO.COM/CHRYSHNA PRADIPHA
Tiruan kapal dibakar dalam acara King Hoo Ping sebagai prosesi mendoakan ara arwah leluhur di Lithang Gerbang Kebajikan Makin Solo, Jl Drs Yap Tjwan Bing, Jagalan, Jebres, Solo, Minggu (9/9/2018) siang. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Chrysnha Pradipha

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ratusan warga Khonghucu menggelar ibadah King Hoo Ping di tempat ibadah Lithang Gerbang Kebajikan Makin Solo, Jl Drs Yap Tjwan Bing, Jagalan, Jebres, Solo, Minggu (9/9/2018) siang.

Acara bertujuan untuk mendoakan arwah leluhur dalam peringatan bulan tujuh Imlek pada 30 September nanti.

Pendeta Lithang setempat, WS Adjie Chandra, hadir memimpin jalannya prosesi doa.

Ditemui di sela acara, Adjie mengatakan, upacara sembahyang atau doa diperuntukan bagi arwah umum.

Ini Keseruan dalam Festival Pesona Lokal di De Tjolomadoe, Karanganyar

Artinya, sambung Adjie, doa dilantunkan dilantunkan untuk semua arwah termasuk arwah yang bukan leluhur pendoa.

"Jadi kita mendoakan juga arwah yang bukan dari leluhur kita, termasuk arwah yang tidak lagi mendapat perhatian keluarga yang masih hidup," paparnya.

Umat Khonghucu Solo mengikuti King Hoo Ping di Lithang Gerbang Kebajikan Makin Solo, Jl Drs Yap Tjwan Bing, Jagalan, Jebres, Solo, Minggu (9/9/2018) siang.
Umat Khonghucu Solo mengikuti King Hoo Ping di Lithang Gerbang Kebajikan Makin Solo, Jl Drs Yap Tjwan Bing, Jagalan, Jebres, Solo, Minggu (9/9/2018) siang. (TRIBUNSOLO.COM/CHRYSHNA PRADIPHA)

Kata dia, sembahyang King Hoo Ping juga dikenal dengan sebutan sembahyang rebutan.

Hal itu dikarenakan menurut cerita yang dipercaya, banyak arwah datang saat upacara sementara sajian yang disiapkan kurang.

Ditemui Maruf Amin, Mahathir Mohamad Minta Didoakan Agar Sukses Pimpin Malaysia

"Maka saat itu terjadi rebutan sajian, dikatakanlah sembahyang rebutan," papar dia.

Dalam prosesi, ratusan umat beribadah juga dengan nyanyian-nyanyian.

Mereka juga berdoa dihadapkan dengan dua altar sembahyang, yakni altar umum berisi makanan daging dan altar vegetarian berisi sayur dan buah.

Puncaknya, di akhir acara penyelengara mengeluarkan sebuah tiruan kapal terbuat dari kertas.

Ibunya Artis Tajir, Kelakuan Anak Soimah yang Tidur di Tempat Seperti Ini Bikin Netter Geleng Kepala

Kapal dengan panjang dan tinggi sekitar dua meter itu kemudian diisi dengan kertas-kertas doa umat untuk para leluhur.

Panitia lalu membakarnya di depan Lithang disaksikan oleh seluruh umat yang hadir.

Prosesi tersebut dipercaya sebagai pengantar untuk para leluhur supaya tenang di alam yang berbeda.

"Serangkaian prosesi ini bermakna indah agar kita sebagai manusia jangan melupakan leluhur, jangan lupa asal usul kiita," terangnya.

"Khususnya juga agar selalu membantu sesama dan orang lain," tutup dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved