Imlek 2019

Puluhan Anggota Banser Sempat Berjaga di Kelenteng Tien Kok Sie Solo

Perayaan Imlek 2019 di Solo yang dipusatkan di Kelenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede Solo, dipenuhi warga.

Puluhan Anggota Banser Sempat Berjaga di Kelenteng Tien Kok Sie Solo
TRIBUNSOLO.COM/EKA FITRIANI
Sejumlah anggota Banser tampak berjaga di depan Kelenteng Tien Kok Sie Pasar Gede Solo, Senin (5/2/2019) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Perayaan Imlek 2019 di Solo yang dipusatkan di Kelenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede Solo, dipenuhi warga.

Tak hanya ingin berkunjung, banyak warga yang penasaran ingin melihat langsung prosesi yang dilakukan pada malam Imlek.

Terlihat pada Senin (4/2/2019) malam, puluhan anggota Banser terlihat memberikan pengamanan di depan Kelenteng Tien Kok Sie.

Sebagian dari anggota Banser memperingatkan sejumlah orang yang ingin masuk ke dalam kelenteng.

Jalan Sehat di Solo, PCNU Karanganyar : Banser Tidak Boleh Turun, Hanya Boleh Mengamati

Hal tersebut karena malam tersebut, Kelenteng Tien Kok Sie mengadakan mandi Buddha.

Sehingga hanya umat yang akan melaksanakannya yang diperbolehkan masuk.

"Sebanyak 35 orang anggota kami kerahkan untuk pengamanan, ini kami lakukan karena sebelumnya ada isu demo lampion Imlek," kata Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Laweyan, Anwar Rasyid, di sela pengamanan di Solo, Senin (5/2/2019) malam.

Sedangkan untuk mengoptimalkan pengamanan, para anggota tidak hanya fokus di sekitar kelenteng tetapi juga disebar di beberapa titik.

Imlek 2019 di Solo, Cu Pat Kay Dipasang Megah di Depan Kelenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede

"Sebanyak 25 anggota mengenakan seragam Banser, sedangkan 10 orang mengenakan pakaian sipil," tambah dia.

Pengamanan dilakukan sejak pukul 17.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB.

Pengamanan seperti ini rupanya telah dilakukan Banser setiap perayaan Imlek sejak lima tahun lalu.

Dirinya mengatakan keterlibatan tersebut dilakukan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjaga solidaritas antarumat beragama.

"Selama ini kami juga lebih banyak merasakan pengalaman manis, kan ini sifatnya sosial," ujar Rasyid.

"Lagipula kami juga ingin meneruskan perjuangan Gus Dur yang dikenal dengan Bapak Pluralisme Indonesia," pungkasnya. (*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved