Proyek Tol Solo Jogja

Jelang Pembangunan Tol Solo-Jogja, Disparbudpora Klaten Data Benda Gagar Budaya Agar Tidak Tergusur

Proyek pembangunan jalan Tol Solo-Jogja bakal melintasi beberapa wilayah atau desa di Kabupaten Klaten yang memiliki benda cagar budaya (BCB).

Jelang Pembangunan Tol Solo-Jogja, Disparbudpora Klaten Data Benda Gagar Budaya Agar Tidak Tergusur
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Pelataran Candi Prambanan, Kabupaten Klaten. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Proyek pembangunan jalan Tol Solo-Jogja bakal melintasi beberapa wilayah atau desa di Kabupaten Klaten yang memiliki benda cagar budaya (BCB).

Desa-desa itu yang memiliki situs purba di antaranya tersebar di Kecamatan Polanharjo, Delanggu, Ceper, Karanganom, Ngawen, Kebonarum, Karangnongko, Jogonalan dan Manisrenggo.

Menurut Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Purwanto pihaknya tengah mendata jumlah situs purbakala atau BCB tersebut.

"Di wilayah itu, ribuan situs purbakala ada, tapi nantinya yang kemungkinan bisa terkena proyek diperkirakan ada 30 BCB," katanya kepada TribunSolo.com, Kamis, (14/11/2019).

"Kami saat ini terus melakukan pendataan," ujarnya.

Purwanto membeberkan bahwa selama ini situs tersebut terus bertambah, sehingga ada kemungkinan jumlah situs yang berada di 9 kecamatan bisa bertambah.

Sebanyak 30 Benda Cagar Budaya Bakal Terdampak Proyek Tol Solo-Jogja, Berikut Ini Rinciannya

Soal Perkembangan Tol Solo-Jogja 2020, Camat Kebonarum Beberkan Tak Pernah Diberi Tahu

Di Kecamatan Kebonarum Klaten, Disebut Hanya Ada Dua Desa Terdampak Proyek Tol Solo-Jogja

"Rata-rata ditemukan di area persawahan hingga rumah penduduk," ujarnya.

"Mulai dari fragmen-fragmen candi hingga pecahan-pecahan patung," jelas dia menekankan.

Adapun jumlah benda cagar budaya yang ada di seluruh Klaten ada ribuan tempat.

"Di register nasional obyek sebagai cagar budaya ada 1.202 lokasi dan itu sudah diverifikasi di kemdikbud," katanya.

Adapun untuk jenis arca dan fragmen yang ditemukan rata-rata berasal dari kebudayaan kerajaan Hindu.

"Karena semakin banyak yang kami temukan, kami akan menunggu hasil penlok dulu, baru kami bisa bertindak," ujarnya.

"Jangan sampai BCB itu  tergusur," harap dia menekankan. (*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved