Sidowarno Kampung Wayang, Memoles 'Mutiara Terpendam' di Pinggir Sungai Bengawan
Medapat julukan pusat produksi wayang, Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten membenahi regenerasi perajin hingga kampung wisata.
Penulis: Asep Abdullah Rowi | Editor: Asep Abdullah Rowi
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN -- Suara pukulan dari palu yang mengenai tatah dan alas samar-samar terdengar sahut menyahut dari ujung gang di Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Seakan suaranya seirama dengan deburan aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa yakni Bengawan Solo yang hanya berjarak sejengkal dengan desa di pinggiran Klaten tersebut.
Bahkan sejauh mata memandang, akan mudah dijumpai kesibukan warganya di teras rumah yang tengah bekerja dengan mandiri sebagai perajin wayang atau biasa dikenal dengan tatah sungging.
Ya, tatah sungging merupakan sebuah kesenian dalam bidang kriya yang bisa diartikan sebagai kegiatan menatah atau memahat dan sungging sebagai seni mewarnai.
Di Dukuh Butuh tersebut, tercatat sudah 64 tahun warganya turun temurun menjadi perajin wayang dan berbagai hiasan berbentuk wayang.
Tidak mudah memang mempertahankan warisan leluhur, apalagi tahun awal berdiri 1955 silam yang lalu, ada ratusan warga mengabdikan diri menjadi perajin wayang.
Meskipun kini, tinggal 70 perajin yang sekuat tenaga mempertahankan warisan kebanggaan Indonesia yang sudah diakui oleh dunia karena Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia.
• Malam Tahun Baru 2020 Solo: Solo Car Free Night di Jalan Slamet Riyadi hingga Gelaran Wayang Orang
• Meski Tajir Mlintir, Inul Daratisa Syok Putra Semata Wayangnya Habiskan Rp 65 Juta untuk Game Online
Di antaranya Saleh (53), perajin yang sejak usia belasan tahun menyelami tatah sungging dengan produk wayang hingga hiasan dinding dari kulit.
"Dari tiga anak saya, sebenarnya yang nomor dua akan jadi penerus karena sudah saya ajari sejak SMP, tapi terlanjur ke luar kota," kata dia kepada TribunSolo.com, Sabtu (28/12/2019).
Kadang Saleh masih tampak menyesal tidak mempertahankan satu anaknya mewarisi tahta untuk menjadi perajin seperti dirinya.
Mengingat apa yang dilakukan selama puluhan tahun bergelut dengan tatah, alas, palu, tindih, penyorek, kuas dan pastinya kulit sebagai media kerajinan, tidak hanya sebatas pekerjaan.
Tetapi sebagai bentuk 'pengabdian' kepada warisan kebudayaan Jawa.
"Sebenarnya hasil per bulan lumayan, buktinya saya bisa menyekolahkan 3 anak, dapur ngebul, bangun dan perbaiki rumah hingga untuk amplop saat ada hajatan di desa semua bisa terpenuhi," aku dia.
"Kalau Rp 3-4 juta (laba bersih) ya dapat jika kerja sebulan full, tinggal mau nerimo nopo mboten (mau menerima apa tidak)," jelasnya membeberkan.
Namun kegelisahan soal regenerasi perlahan sirna setelah dirinya menjadi bagian dari anggota Kelompok Usaha Bersama (Kube) Bima.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/tatah-sungging12.jpg)