Sidowarno Kampung Wayang, Memoles 'Mutiara Terpendam' di Pinggir Sungai Bengawan

Medapat julukan pusat produksi wayang, Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten membenahi regenerasi perajin hingga kampung wisata.

Penulis: Asep Abdullah Rowi | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Asep Abdullah
Wayang yang sudah siap diambil pemesan dari berbagai daerah di Indonsia di pusat tatah sungging di Dukuh Butuh, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

"Banyak hiasan berukuran besar yang ekslusif juga bisa dihargai belasan juta, bagaimana itu tidak menjanjikan? makanya kami dorong anak-anak muda mulai sabar belajar," harap dia menegaskan.

Maklum saja jika perputaran uang di kampung tersebut bisa mencapai ratusan juta per bulannya dari pemesanan wayang.

Selama ini pemesan wayang hingga hiasan dari berbagai kalangan, mulai orang biasa, dalang tersor seperti Ki Mantep Sudarsono, Purbo Asmoro, Seno Nugroho, Rudy Gareng gingga Anom Suroto.

"Termasuk para kolektor wayang dari dalam dan luar negeri," jelas dia.

 Gayung Pun Bersambut

Tidak hanya regenerasi, selama beberapa tahun ini para perajin menurut Fendi berusaha melakukan terobosan agar kampung halamannya yang dikenal sebagai pusat produksi wayang ada nilai lebih.

Mengingat selama ini hanya sebatas produksi alias menerima pesanan dan selesai, tetapi potensi di kampung agar mengubah taraf hidup seluruh warga belum digarap.

Ya, dia berharap Dukuh Butuh menjadi tujuan wisatawan baik domestik maupun luar negeri yang akan menyaksikan langsung proses pembuatan wayang, workshop atau merasakan langsung atmosfer menjadi perajin hingga lainnya.

"Selain tetap produksi ada penghasilan lain jadi wisata berbayar, datangkan wisatawan ke kampung," paparnya.

"Ada multiplayer-nya, nanti ada yang buat warung jual makanan, aksesori dan lainnya, ada yang buat homestay untuk wisatawan karena ada paket-paket wisata," tutur dia meyakininya.

Bak gayung bersambut, proses regenerasi hingga menghidupkan kampung wisata wayang yang menjadi ikon Indonesia ada pihak yang mencoba mendukung dan mendampingi selama ini.

Gapura masuk pusat tatah sungging di Dukuh Butuh, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Gapura masuk pusat tatah sungging di Dukuh Butuh, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. (TribunSolo.com/Asep Abdullah)

Yak, Dukuh Butuh dicanangkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) kedua di Jateng atau ke-74 di Indonesia oleh Astra Internasional setahun lebih atau tepatnya kick off pad 11 Agustus 2018 lalu.

Perusahaan otomotif yang sudah mendunia itu menggunakan Corporate Social Responsibility (CSR) melalui program sosial berkelanjutan melalui banyak bidang garapan mulai pendidikan, kewirausahaan, lingkungan hingga kesehatan.

"Jadi ada yang mendukung dan mendampingi hingga memfasilitasi berbagai hal membuat kami lebih bersemangat," tuturnya.

"Apalagi nama perusahaan sudah terkenal di mana-mana, kan harapan kami nama kampung kami membumi seperti Dukuh Ngrawan, Desa Tanon, Kecamatan Getasan, Semarang yang kini jadi Desa Menari," jelas dia menegaskan.

Perangkat Desa Sidowarno, Widodo membenarkan, seakan ada 'nafas' baru melalui pendampingan Astra Internasional.

Selama ini dia menyebut pemerintah sudah berusaha bersama-sama dengan perajin untuk mencari bibit-bibit perajin masa depan hingga merintis kampung wisata wayang.

Karena dia menyebut, khusus Dukuh Butuh puluhan tahun silam pernah mencapai masa keemasan saat jumlah perajin masih mencapai ratusan orang, sehingga dikatakan ekonomi warga di kampung cukup terjaga.

Dia menyebut Dukuh Butuh sebagai 'mutiara terpendam' yang kilaunya bisa memancar seantero negeri, belum lagi gaungnya bisa dilihat oleh wisatawan luar negeri yang gemar mengunjungi kerajinan unik.

Mengingat tidak banyak kampung yang satu desa bergerak dalam bidang tatah sungging di negeri ini.

"Cara membangkitkan masa keemasan ini didorong oleh banyak pihak, kami termasuk perajin sangat bergairah lagi," terang dia.

Bahkan letak geografis Dukuh Butuh sangat startegis meskipun di pinggir Kabupaten Klaten atau jauh dengan perkotaan.

Tetapi kampung berada cukup dekat di aliran sungai terkenal di dunia yakni Bengawan Solo.

"Bahkan sama pusat daerah yang biasanya dikunjungi wisatawan luar negeri atau turis di Solo, cukup dekat hanya, khususnya Solo Baru hanya beberapa kilometer," ungkapnya.

Empat Pilar

Pendamping KBA Dukuh Butuh, Wahyu Triyono mengungkapkan, ada empat aspek yang menjadi perhatian Astra Internasional.

Tidak hanya sisi kewirausahaan, tetapi ada pendidikan, lingkungan hingga kesehatan.

Dipilihnya Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten itu memang karena potensi wayang melalui kerajinan tatah sunggingnya yang sebagian besar hanya digeluti orang-orang tua.

"Value-nya tentang melestarikan kearifan lokal, harapannya ada regenerasi yang mau karena nilai historinya bagi Indonesia sangat tinggi, khususnya di Jawa," ungkapnya.

"Ya harus diakui anak-anak muda justru pilih jadi pekerja/karyawan atau ke luar kota tidak tertarik jadi perajin tatah sungging, makanya kita masuk ke dalam untuk membantu," harap dia membeberkan.

Wahyu merinci, keinginan warga di Dukuh Butuh ingin berubah cukup tinggi sehingga regenerasi bisa berjalan.

Di antaranya melalui pilar kewirausahaan, pihaknya membantu pendampingan dalam bidang bisnis agar berkembang, mencari bibit-bibit perajin dan wirausahawan wayang dari pemuda-pemuda sekitar, hingga inovasi produk.

Pasalnya lanjut dia, jika terus-menerus hanya mengandalkan pesanan dengan skala besar atau dalam hal ini wayang pada umumnya dengan harga jutaan, maka ada saatnya perajin harus berinovasi, di antaranya membuat souvenir yang bisa dijangkau pembeli pada umumnya.

"Pengemasan produk diperbaiki lebih milenial, varian produk tidak menjual wayang ketokohan, jadi bisa buat souvenir gantungan, pernikahan hingga pembatas buku, sehingga semua bisa menikmatinya," jelas dia.

"Bagi pemula kami juga bantu peralatan untuk tatah sungging, display hingga secara berkala memompa kemampuan wirausaha agar survive dalam masa penuh tantangan berat ini," harap dia.

Termasuk dia berharap Kampung Wayang tersebut menjadi sebuah lokasi tujuan wisata budaya yang dikemas sedemikian rupa sehingga wisatawan dalam dan luar negeri bisa berkunjung ke kawasan tersebut.

"Tidak semua kampung seperti itu, ada potensi yang sangat besar, terlebih lokasinya unik di dekat Bengawan Solo," aku dia.

Sementara dari segi kesehatan lanjut dia, ada pengecekan berkala kesehatan masyarakat yang di Dukuh Butuh ada sekitar 600-an jiwa, pengobatan gratis hingga senam lansia sehingga lebih terjaga kesehatannya.

"Termasuk tim kesehatan kami beri pengertian, misal saat hujan harus seperti apa, saat kemarau harus gimana, sehingga penyakit seperti demam berdarah dan sebagainya tidak masuk ke kampung," terangnya.

Tidak berhenti, pada pilar lingkungan pihaknya telah mengajak puluhan anggota Kube Bima study banding merintis bank sampah seperti yang sudah tenar di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pembuatan grobak sampah dan tempat sampah untuk organik dan non organik di lingkungan desa.

"Sampah-sampah bekas kulit atau ornamen lain bisa dimanfaatkan dan diolah, termasuk sampah rumah tangga," kata dia.

Terakhir yakni dalam segi pendidikan menjadi salah satu pilar yang sangat penting demi terciptanya perajin-perajin tatah sungging yang bisa menjadi andalan di masa depan.

Astra Internasional menurut dia, tidak ingin Desa Butuh yang berada di paling utara Klaten 'hilang' dalam artian warisan budaya yang diakui UNESCO lambat laun ditelan zaman karena masalah regenerasi yang terus menyusut.

Untuk itu usaha melestarikan ikon Indonesia lanjut dia menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, perajin dan Astra Internasional.

"Kami ajak Kube Bima workshop atau pelatihan door to door cara membuat wayang ke sekolah dasar (SD) yang ada di desa, nah juga ke SMP dan SMA ke depannya di Wonosari pada umumnya," harap dia.

"Minimal ada pengenalan dulu, kemudian harapannya bisa jadi muatan lokal ekstra kulikuler sehingga bisa mencetak perajin-perajin muda ke depannya, ini kan penting banget jadi pintu masuk regenerasi," ungkapnya menegaskan.

"Kami senang ada keinginan berubah besar di kelompok perajin."

Pakar Kebudayaan dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo Prof Sahid Widodo, memaparkan, kerajinan wayang menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan budaya Jawa dan Indonesia pada umumnya.

Bahkan wayang menjadi ikon Indonesia yang sudah diakui UNESCO.

Maka proses pelestarian menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya perajin dan pemerintah, tetapi masuknya perusahaan dengan program CSR bisa membuat perubahan di dalamnya.

"Pembuatan wayang sudah ada berabad-abad lamanya, maka melestarikannya ada tiga aspek yakni melindungi, memanfaatkan dan mengembangkan sesuai dengan zaman tanpa mengurangi pesan," kata dia.

"Jadi wayang sebagai budaya yang sudah diakui UNESCO tidak mandek," harap dia menekankan.

Ada pesan yang mendalam untuk kehidupan dari wayang, mulai dari kearifan lokal, moral, falsafah, strategi kehidupan hingga religi.

Maka kelestarian tidak hanya pada segi pementasan, tetapi bagi para perajin sehingga bisa terus memproduksi sarana budaya itu.

"Inovasi juga harus terus dilakukan sehingga semua kalangan merminat memesan, misalnya melalui aksesori dan sebagainya," aku dia. 

"Kerja sama berbagai kalangan tersebut baik pemerintah, perajin hingga Astra harus terjaga dengan baik," harapnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved